Berkah dari Tetesan Air Gunung Rokatenda

Sumber:Kompas - 11 November 2009
Kategori:Air Minum

Selasa (3/11) pukul 07.00, Maria Surmawanti Lanu (20) mengecek jeriken yang diletakkan di bawah ujung bambu. Ia menampung air dari sumber uap panas yang terdapat di Dusun Cawelo, Desa Rokirole, Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Hal serupa dilakukan oleh warga lain. Di Desa Rokirole yang berpenduduk sekitar 1.500 jiwa ada empat sumber uap panas. Uap panas itu menjadi sumber air bersih bagi warga. Untuk mendapatkan air itu, warga menancapkan sebatang bambu sepanjang 70-100 sentimeter di sumber uap panas. Di dasar bambu ditaruh rumput sebagai penyaring.

Uap kemudian dialirkan dengan cara menyambungkan bambu lain dalam posisi menurun sepanjang sekitar tiga meter. Lewat cara ini, uap panas diembunkan menjadi air. Di bawah ujung bambu warga menaruh wadah untuk menampung air.

Tiap keluarga biasa menampung air dengan jeriken berkapasitas 20 liter. Sejak malam mereka menaruh jeriken di bawah bambu, pagi hari jeriken itu akan terisi penuh.

”Makin panas uap, makin cepat keluar airnya. Dalam sehari bisa didapat sekitar 40 liter,” kata Maria.

Uap panas yang dimanfaatkan warga Rokirole itu berasal dari panas bumi. Sumber panas bumi umumnya terdapat di sekitar gunung api dengan magma sebagai sumber panas.

Gunung api yang ada di Pulau Palue adalah Gunung Rokatenda. Tinggi gunung api tipe strato yang masih aktif itu 875 meter di atas permukaan laut.

Sulit air bersih

Bagi warga Rokirole, tetesan air dari uap panas bumi itu merupakan berkah. Umumnya, warga Pulau Palue yang terdiri dari delapan desa itu kesulitan mendapatkan air bersih. Kalaupun ada sumur, airnya payau.

Untuk memperoleh air bersih, penduduk Palue membangun penampung air hujan (PAH). Kapasitas PAH warga sekitar 2.000 liter. Air yang ditampung pada musim hujan biasanya habis dipakai pada Juli- Agustus.

Di Palue sebenarnya ada sumur berisi air tawar. Tetapi, sumur itu hanya satu dan berada di Desa Maruliwu. Desa yang terletak di pantai itu terlalu mahal untuk dijangkau warga desa pegunungan, seperti Desa Rokirole.

Biaya dari Desa Rokirole ke sumur di Desa Maruliwu dengan ojek pergi-pulang Rp 40.000. Padahal, jaraknya hanya sekitar 5 kilometer.

Karena itu, warga memanfaatkan uap panas bumi menjadi air minum. Sejauh ini, warga merasa air dari uap panas menyegarkan tubuh dan dapat menyembuhkan penyakit kulit.

”Airnya hangat, dapat langsung diminum. Terkadang kalau dapat banyak, air juga untuk mandi. Gatal-gatal bisa sembuh,” kata Ny Maswa Titia (30), warga Dusun Cawelo.

Lakimosa (tetua adat) Cawelo, Herman Soru, menuturkan, kebiasaan mengembunkan uap panas bumi dilakukan sejak dulu. ”Dulu warga juga mencari air dari batang pisang. Tetapi, kini tidak lagi sejak mendapatkan air dari uap panas bumi,” katanya.

Menurut Cosmas, yang juga tetua adat Dusun Cawelo, warga Palue amat mengharapkan bantuan pihak mana pun, termasuk Pemerintah Kabupaten Sikka, dalam pengadaan air bersih.

”Pemkab Sikka sudah menyalurkan bantuan untuk pembangunan PAH. Tetapi, PAH yang dibangun umumnya berkapasitas kecil, jadi tidak cukup bagi warga untuk kebutuhan satu tahun,” kata Cosmas. (SEM)



Post Date : 11 November 2009