Cegah Diare dengan Membudayakan Hidup Bersih di Keluarga

Sumber:Koran Sindo - 25 Juli 2011
Kategori:Sanitasi

Diare yang kelihatannya sepele, ternyata merupakan penyakit mematikan, terutama pada anak-anak dan bayi bawah lima tahun (balita). Karena itu menjaga kebersihan diri dan lingkungan jadi kunci utama mencegah penyakit diare. Sudahkah melakukannya di keluarga Anda?

Tubuhnya yang mungil itu tergeletak lemas di ruang perawatan sebuah rumah sakit ibu anak di kawasan Bekasi. Mata bayi 10 bulan yang bernama Danang itu nampak sayu dan tidak merespon saat di beri air oleh ibunya. Ia hanya mampu menggerak-gerakan tangannya karena merasa tidak nyaman dengan jarum infus yang tertanam di tangannya.

Menurut ibunya, Tuti mengungkapkan, awalnya Danang hanya muntah-muntah dan sulit makan. Kondisi itu semakin parah karena Danang tidak hanya muntah, tetapi juga buang air terus menerus. Sehari ia bisa buang air hingga 6–7 kali hingga akhirnya Danang dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan menderita diare dan mengalami dehidrasi akut.

“Untungnya, Danang segera tertangani dan saat ini kondisinya sudah mulai membaik,’’ ungkap Tuti. Danang merupakan contoh kecil dari ribuan kasus diare yang menyerang anak-anak dan balita di Indonesia. Di seluruh dunia terdapat 1.9 juta balita meninggal setiap tahunnya akibat berbagai macam gangguan diare.

Menurut WHO, sekitar 2/3 di antaranya (1.3 juta) terjadi di 15 negara di Asia dan Afrika. Diare merupakan pembunuh berbahaya di negara berkembang – lebih dari 5.000 anak meninggal akibat diare setiap harinya. Angka tersebut seharusnya bisa dicegah.

Salah satu alasan utama mengapa diare banyak terjadi di negara berkembang adalah karena permasalahan ini tidak mendapat perhatian selayaknya. Selain itu, kurangnya fasilitas kesehatan di negara berkembang, kurangnya air bersih, infrastruktur kesehatan yang tidak baik dan para orangtua yang tidak mengetahui cara mengatasi dehidrasi juga memegang peran dalam meningkatkan angka diare.

Ada beberapa ciri dehidrasi pada bayi. Yaitu, ubun-ubun, mata, perut, dan pipi cekung. Saat menangis, air mata yang dikeluarkan sedikit, bahkan tidak ada sama sekali. Lidah dan mulut menjadi kering serta elastisitas kulit menurun. Ketika dicubit, kulit membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali ke bentuk semula.

Perhatikan 4F

Pada musim pancaroba seperti ini, penderita diare memang melonjak dan orang tua seringkali kurang waspada dengan penyakit diare dan menyepelekan penyebabnya. Maka dari itu, kesehatan anak harus selalu mendapat perhatian dengan membudayakan hidup bersih di keluarga sejak dini.

Sekecil apapun penyakit anak harus segera diobati, karena bila dibiarkan akan mengganggu perkembangan anak. Selain itu, orang tua sebaiknya juga mengajarkan anak menjaga kebersihan diri dan sanitasi lingkungan dan air yang baik, serta vaksinasi agar dapat mengurangi risiko terkena diare.

Kebersihan diri bisa dimulai dengan mencuci tangan sebelum makan dan memasak makanan sampai matang. Penyakit diare juga dapat ditularkan melalui pemakaian botol susu yang tidak bersih, penggunaan sumber air yang tercemar, buang air besar di sembarang tempat, dan pencemaran makanan oleh serangga seperti lalat, kecoa, atau oleh tangan yang kotor.

Oleh karena itu, makanan juga harus ditutup dengan tudung saji biar tidak dihinggapi lalat. Kendati nampak kuno, justru menutup makanan dengan tudung saji merupakan tindakan yang efektif untuk melindungi keluarga dari serangan diare.

Pasalnya, pola penularan diare melalui 4F (food, fl y, feces, fi nger) perlu dicegah melalui upaya memutus rantai penularan tersebut. Salah satu mencegahnya adalah dengan menjaga makanan yang kita makan, seperti menutupnya dengan tudung saji.

Kalbe Farma Terus Dukung GKSSI

Masih tingginya angka kematian balita gara-gara serangan diare di Indonesia, telah menggugah kepedulian PT Kalbe Farma melalui produk obat diare andalannya, Entrostop untuk mencanangkan “Gerakan Kebersihan Untuk Keluarga Sehat Indonesia”.

Widjanarko Loka Djaja, Sales & Marketing Director PT Kalbe Farma OTC mengatakan, Gerakan Kebersihan untuk Keluarga Sehat Indonesia (GKKSI) adalah wujud kepedulian Kalbe Farma sebagai sebuah perusahaan farmasi untuk ikut meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

“Dengan produk Entrostop, kami ingin membantu mengurangi angka kematian akibat penyakit diare dalam rangka mendukung Indonesia Sehat bebas diare yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, sampai akhirnya ke masyarakat luas,” ujar Tahun ini merupakan gelaran GKKSI yang ketiga kali diadakan oleh Kalbe Farma.

Tahun lalu, GKKSI diadakan di Banjaran, Jawa Barat dan di Kendal, Jawa Tengah. Daerah yang menjadi target sasaran GKKSI merupakan wilayah dengan sistem sanitasi yang buruk, rawan banjir juga area dimana penyuluhan akan bahaya diarenya masih sangat minim.

Perbedaan GKKSI 2011 dengan program serupa tahun lalu adalah pada tahun ini dilaksanakan dengan mengembangkan metode “gethok tular” melalui 1200 ibu kader GKKSI untuk mensosialisasikan gerakan 4m + 1E ke lingkungan masyarakat sekitarnya. “

Adapun 4m + 1 E adalah mencuci tangan sebelum beraktivitas, memasak makanan sampai matang, membersihkan lingkungan, menutup makanan dengan tudung saji, dan memilih Entrostop untuk mengobati diare dengan cara benar,” jelas Sinteisa Sunarjo, GM Brand PT Kalbe Farma OTC.

GKKSI 2011 diadakan di enam Kecamatan di Sidoarjo mulai 12 April lalu, yaitu Kecamatan Buduran, Wonoayu, Porong , Candi, Sidoarjo, Tanggulangin. Sebagai pamungkas dari rangkaian program GKKSI di Sidoarjo, pada Sabtu (7/5) digelar acara puncak GKKSI.

Pada kesempatan tersebut dilakukan penyerahan secara simbolis 1200 tudung saji gratis, penandatangan plakat kerjasama dengan Bupati Sidoarjo H. Saiful llah, S.H.,M.Hum dan edukasi pola hidup bersih dan sehat kepada anak-anak melalui dongeng ceria, berbagai lomba dan permainan anak, dan panggung hiburan. [agung pramudyo/Info]



Post Date : 25 Juli 2011