Daerah Tentukan Keberhasilan MDGs

Sumber:Koran Tempo - 06 Mei 2008
Kategori:MDG

Denpasar --- Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Emil Salim, menyatakan pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs) pada 2015 sangat bergantung pada inisiatif kabupaten/kota sebagai pemilik hak otonomi.

“Pemerintah pusat tak bisa bergaya ala Pak Harto dan pemerintah daerah tidak boleh hanya menunggu,” kata dia dalam forum Dialog Tingkat Tinggi tentang Kependudukan, di Kuta, Bali, kemarin.

Prestasi sejumlah daerah yang berhasil mendongkrak indeks pembangunan manusia, dia melanjutkan, karena kemampuan para bupatinya menerjemahkan tren global dan nasional sesuai dengan potensi daerahnya. Mantan menteri lingkungan hidup itu mencontohkan Bontang di Kalimantan Timur, Sragen di Jawa Tengah, dan Jembrana di Bali.

Karena itu, Emil menolak usul agar semua kebijakan yang terkait dengan MDGs kembali disentralisasi. Menurut dia, yang harus dilakukan oleh pemerintah pusat adalah memberi dukungan untuk pengembangan wawasan para pemimpin di daerah sehingga memahami kepentingan nasional.

Pola-pola instruksional mesti ditinggalkan dan pemerintah daerah diposisikan sebagai mitra. Kelemahan program pemerintah pusat saat ini terjadi karena kurangnya upaya mendekati dan merangkul pemerintah daerah. “Akibatnya, mereka kurang paham apa itu MDGs,” kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden untuk urusan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan itu.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief menilai cara berpikir pejabat di pusat dan daerah selama 10 tahun era reformasi belum berubah secara signifikan. Akibatnya, pencapaian program MDGs, seperti pengaturan jumlah penduduk, menjadi terhambat. ”Padahal pengaturan populasi merupakan kunci kesuksesan MDGs,” katanya.

Untuk mengatasinya, Sugiri menempuh tiga langkah, yakni mengubah cara berpikir, strategi program, dan manajemen yang sentralistis menjadi lebih terdesentralisasi. Strategi program juga difokuskan agar makin terukur.

”Kalau dulu targetnya keluarga berkualitas, sekarang kembali ke keluarga kecil bahagia sejahtera,” ujarnya. Dengan strategi itu, ia optimistis akan ada peningkatan akseptor KB dari 5,7 juta pada 2007 menjadi 6,6 juta pada tahun ini. Rofiqi Hasan



Post Date : 06 Mei 2008