Diare Mewabah di Taput, Tiga Orang Tewas

Sumber:Pikiran Rakyat - 21 April 2007
Kategori:Sanitasi
[TARUTUNG] Sebanyak 35 warga terjangkit penyakit diare yang mewabah di sepuluh desa di Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara (Sumut). Dari jumlah tersebut, tiga orang di antaranya meninggal dunia. Mereka adalah Resmita Silitonga (45) dan Ojak Nainggolan (55), keduanya warga Desa Tordolok Naulis serta Rosmani Pasaribu (4) warga Desa Nahornop.

Camat Pahae Jae, Rudi Sitorus, saat dihubungi, Sabtu (21/4) pagi menyebutkan, sepuluh desa itu, yakni, Tordolok Nauli, Nahornop Marsada, Desa Bohani Dolok, Parsaoran Samosir, Sarulla, Silangkitang, Janji Angkola, Purba Tua, Losung Aek, dan Desa Parsaoran Nauli. Tim medis sudah diturunkan.

Sebanyak 32 korban lain masih menjalani perawatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Sarulla. Mereka yang menjalani perawatan tersebut, mulai dari anak balita, dewasa maupun orangtua. Mereka tidak dapat ditampung dalam ruangan perawatan di puskesmas tersebut. Minimnya tempat membuat para korban terpaksa dirawat di lorong puskesmas. Pihak medis yang ditempatkan kewalahan menangani para korban yang sedang dirawat.

Jumlah tersebut masih yang terdata. Tidak tertutup kemungkinan jumlah korban akibat diare itu akan bertambah. Menurut informasi, ada warga yang terserang penyakit itu tidak bersedia menjalani rawat inap.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara, dr Victor Sitorus mengatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab merebaknya penyakit diare tersebut.

Biasanya, penyebab dari merebaknya penyakit diare akibat lingkungan yang buruk. "Kita akan tetap berusaha untuk memberikan pertolongan terhadap para korban," katanya.

Sementara itu, korban yang masih menjalani perawatan di antaranya, Olmer Nainggolan (14 bulan), B Sipahutar (75), Ompung Jonter boru Sitompul (77), Charles Nainggolan (7) dan Opung Raja Simanungkalit (70).

Maradong nainggolan (38), salah seorang dari keluarga korban mengindikasikan, masih banyak warga yang kemungkinan mengalami penyakit sama yang enggan menjalani perawatan. Para keluarga korban mengurungkan niatnya menjalani perawatan karena banyaknya jumlah korban. Masyarakat masih kurang yakin keluarganya akan terawat dengan baik.

"Sebagian di antara warga yang tidak membawa anggota keluarganya untuk dirawat hanya berobat jalan. Sebagian lagi menggunakan ramuan tradisionil," terang Nainggolan. [AHS/M-11]



Post Date : 21 April 2007