DKI kaji penanganan banjir jangka panjang

Sumber:Bisnis Indonesia - 09 Februari 2009
Kategori:Banjir di Jakarta

DEN HAAG: Gubernur DKI Fauzi Bowo akan menyiapkan pengelolaan tata air, termasuk penanganan banjir di Jakarta hingga puluhan tahun ke depan, dengan mengadopsi teknologi dari Belanda yang saat ini terus dikembangkan.

Gubernur menegaskan dalam pengelolaan air, Belanda sebenarnya juga mengalami masalah yang tidak jauh beda dengan Indonesia dalam konteks perubahan iklim. Karena itu, manfaat kerja sama pengelolaan tata air tersebut sangat relevan bagi Indonesia.

"Menurut mereka, ini sulit dikendalikan meski Belanda sendiri punya polder system yang baik," katanya saat mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai bertemu dengan Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende di Den Haag, Sabtu.

Fauzi berada di Belanda sejak beberapa hari lalu, bersamaan dengan kunjungan Wapres yang diundang Pemerintah Belanda ke Negeri Kincir Angin tersebut. Fauzi mengaku ke Belanda untuk mengkaji hubungan teknis mengenai teknologi pengelolaan air.

Masalah yang dialami Belanda terkait dengan pengelolaan tata air itu a.l. meningkatnya permukaan air laut, menurunnya permukaan tanah, dan mencairnya gletser di pegunungan Alpen yang menaikkan debit air sungai-sungai di Belanda.

Komite khusus

Fauzi mengatakan Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Belanda membentuk Komite Khusus yang mengkaji dan menyiapkan upaya guna menangani tata kelola air dalam 50 tahun ke depan.

"Kami ingin belajar banyak mengenai hal ini. Dengan tantangan baru, kita belajar, dan saya akan kirim tim untuk mempelajari cara kerja komite yang dibentuk, bagaimana menyiapkan pengelolaan air di Jakarta untuk puluhan tahun ke depan."

Dalam kerja sama yang sudah berjalan, Pemerintah Belanda baru-baru ini memberikan hibah kapal keruk mini kepada DKI. Kapal keruk itu dimanfaatkan untuk mengatasi pendangkalan sungai di DKI. "Tidak semua sungai di Jakarta bisa dikeruk dengan kapal besar," kata Fauzi.

Dalam kesempatan itu, Wapres Jusuf Kalla mengatakan meski masalah air di Jakarta secara teknis dapat dipelajari, yang terpenting adalah mengubah mentalitas warga kota. Sebab, sisi mentalitas inilah yang sebenarnya punya dampak lebih panjang.

"Yang terpenting partisipasi warga, supaya mau tinggal di rumah susun [tidak di bantaran kali], bagaimana membuang sampah, ini yang sangat penting. Kalau teknologinya secara teknis dapat dipelajari," kata Kalla.

Hampir setiap tahun di musim penghujan, Jakarta menghadapi masalah banjir. Posisi Ibu Kota yang seperti 'baskom besar' karena sekitar 40% wilayahnya berada di bawah permukaan laut dialiri sedikitnya 13 aliran sungai dari kawasan Puncak.

Menurut Fauzi, pengelolaan air di DKI tidak mudah mengingat infrastruktur kota juga tidak terbangun dengan baik. Salah satu proyek yang kini diupayakan untuk mengatasi itu adalah Banjir Kanal Timur (BKT). Arief Budisusilo



Post Date : 09 Februari 2009