DKI Lebih Siap Hadapi Banjir

Sumber:Kompas - 14 Desember 2009
Kategori:Banjir di Jakarta

Jakarta, Kompas - Penyelesaian proyek Banjir Kanal Timur dan pengerukan saluran air diandalkan Pemerintah Provinsi Jakarta untuk mengurangi wilayah banjir dan ketinggian air saat puncak musim hujan. Namun, buruknya drainase di sejumlah wilayah tetap berpotensi menyebabkan genangan air.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Jumat (11/12), mengatakan, saluran air Banjir Kanal Timur (BKT) dipastikan tembus ke laut pada akhir 2009. Pada awal 2010, air dari lima sungai yang melintasi Jakarta akan dapat dialirkan langsung ke laut melalui kanal tersebut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengungkapkan, jika tahun 2007 banjir di Jakarta merendam 78 kawasan, pada 2010 diperkirakan berkurang 20 persen atau sekitar 15 kawasan.

Sebagai antisipasi banjir, Pemerintah Provinsi DKI mempercepat penyelesaian pembuatan saluran air BKT serta pengerukan sungai dan drainase. Penyelesaian proyek ini juga termasuk dalam Program 100 Hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ancaman banjir kali ini diperkirakan terjadi bulan Desember 2009 sampai Februari 2010. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bersama Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional memperkirakan banjir terjadi selama Desember 2009, serta Januari dan Februari 2010.

BKT sepanjang 23,5 kilometer melintasi dua kelurahan di Jakarta Utara dan 11 kelurahan di Jakarta Timur. BKT sudah dapat menampung aliran air dari Sungai Sunter, Sungai Buaran, Sungai Jati Kramat, Sungai Cakung, dan Sungai Cipinang.

Kondisi itu membuat sebagian Jakarta Timur dan Jakarta Utara bagian timur akan terbebas dari banjir. Saat banjir besar tahun 2007, kedua wilayah ini merupakan kawasan yang menderita kerugian paling besar. Sebagian besar wilayah itu terendam berhari-hari. ”BKT akan membantu mengatasi banjir pada daerah tangkapan air seluas 207 kilometer persegi, atau sekitar 31 persen wilayah Jakarta,” kata Fauzi.

Data Dinas Pekerjaan Umum DKI menunjukkan, sampai Jumat (11/12), lahan BKT yang belum dibebaskan dan belum dikeruk masih sekitar 20 persen.

Pantauan Minggu (13/12), lima sungai yang bermuara ke BKT belum terhubung sepenuhnya. Masih ada titik-titik yang dipisahkan jalan atau permukiman penduduk. Pembongkaran rumah juga masih berlangsung di sejumlah lokasi yang bakal dilewati badan saluran BKT.

Namun, Kepala Bidang Jembatan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Novizal yakin pembebasan dan pengerukan dapat berjalan cepat sehingga selesai sesuai target gubernur Jakarta.

”Masalah administrasi sudah diselesaikan. Kami tinggal membayar langsung atau menitipkan uang melalui pengadilan dan penggalian akan langsung dikerjakan,” kata Novizal yang yakin pengerukan selesai Desember.

Menara saluran udara tegangan ekstra tinggi yang berada di tengah saluran air BKT pun tinggal dipindahkan karena menara baru sudah dibangun. Pipa Pertamina yang melintang di badan saluran juga sudah ditanam lebih dalam sehingga tak ada penghalang lagi untuk tembus ke laut.

Kalau semua target itu meleset, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memperkirakan banjir justru akan semakin luas merendam Jakarta.

Tidak masuk

Saat saluran air BKT tembus ke laut, kata Novizal, air laut tidak dapat masuk ke tengah saluran karena ada tekanan air sungai. Beda ketinggian dari hulu ke hilir pun mencapai 30 meter.

Penggalian drainase dan anak sungai di lima kota (Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat) juga sudah selesai. Dengan dana Rp 195 miliar, Pemprov DKI mengangkat 1,5 juta meter kubik endapan lumpur dari 64 saluran air dan anak sungai.

Di Jakarta Barat, bangunan yang menutupi saluran air sudah dibongkar dan salurannya direhabilitasi. Saluran yang tertutup bangunan sering menjadi penyebab banjir lokal.

Tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) juga ditinggikan 1,2 meter untuk mengatasi banjir di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Beberapa kawasan di dua wilayah itu sering tergenang karena tanggul BKB tidak dapat menahan luapan air banjir kiriman.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Budi Widiantoro mengatakan, di Jakarta Selatan ancaman banjir muncul di Sungai Pesanggrahan. Belum diperbaikinya Situ Gintung membuat volume Sungai Pesanggrahan dapat naik sangat tinggi pada puncak musim hujan dan menyebabkan banjir di kanan kiri sungai.

Di Jakarta Timur, Sungai Ciliwung masih menjadi ancaman penyebab banjir di Kecamatan Jatinegara. Banjir di Kampung Pulo hampir dipastikan kembali terulang di puncak musim hujan Januari sampai Februari 2010.

Di Jakarta Utara, banjir juga diperkirakan masih akan terjadi meskipun pompa di Waduk Pluit sudah diperbaiki. Selain banjir dari sungai, luapan air laut saat rob juga akan terjadi karena tanggul di Pelabuhan Muara Baru belum ditinggikan.

Genangan

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta mengingatkan Pemprov DKI akan bahaya munculnya genangan saat hujan deras di dalam kota. Tanpa banjir kiriman dari kawasan hulu, Jakarta dapat lumpuh hanya karena ruas-ruas jalan utama tergenang air hujan.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Berlin Hutajulu mengatakan, genangan akibat buruknya jaringan drainase terlihat pada pertengahan November saat hujan dengan curah 99 milimeter mengguyur Jakarta selama dua jam. Kemacetan parah melanda Jakarta akibat hujan itu.

”Genangan akibat hujan lokal tanda buruknya drainase. Ada yang tertutup fondasi bangunan, tersumbat sampah, tanah, dan jaringan pipa, sampai mengecil karena penurunan muka tanah seperti di Jakarta Pusat. Benahi dulu drainase agar hujan tidak berubah jadi musibah,” ujarnya.

Semua pemerintah kota mengintensifkan pembersihan jaringan drainase setelah muncul berbagai genangan pada pertengahan November. Namun, masalah drainase yang tertutup fondasi, jaringan pipa, dan mengalami penurunan belum diselesaikan.

Harus waspada


Meski demikian, Walhi Jakarta tetap mengingatkan warga agar selalu waspada. Walhi memprediksi bencana banjir di Jakarta akan datang lebih cepat, yaitu Januari 2010. Dengan kondisi proyek BKT yang belum sepenuhnya selesai, buruknya drainase, kerusakan di 13 aliran sungai, dan musim hujan yang mencapai puncaknya pada bulan itu, banjir amat mungkin meluas daripada periode sebelumnya.

”Banjir bisa makin luas karena berbarengan dengan datangnya banjir air pasang laut atau rob,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Ubaidillah.

Dalam rapat dengar pendapat Komisi D DPRD DKI, pertengahan November, Dinas Pekerjaan Umum menyatakan, saat ini masih banyak saluran menyempit, tersumbat, tertutup pipa, dan tertutup fondasi bangunan.

Di Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu, misalnya, pengerjaan pelebaran saluran air masih berlangsung di sebagian ruas saja. Kondisi serupa dijumpai di banyak lokasi lain di Jakarta Selatan dan empat wilayah kota di Jakarta.(ECA/NEL/ART)



Post Date : 14 Desember 2009