Draf Bocor, G-77 Geram

Sumber:Suara Pembaruan - 09 Desember 2009
Kategori:Climate

[KOPENHAGEN] Surat kabar Inggris The Guardian, Selasa (8/12) menggemparkan dan membuat negara berkembang yang tergabung dalam kelompok G-77 geram. Pasalnya, surat kabar itu menerbitkan bocoran draf perjanjian Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen yang diduga dibuat oleh tuan rumah, Denmark. Mereka merasa ditelikungi, padahal perundingan masih berlangsung.

G-77 kesal karena draf itu dinilai sebagai keputusan sepihak. "Seharusnya, semua masukan negara yang ikut konferensi ini didengarkan, baru draf perjanjian dibuat. Itulah yang dinamakan demokrasi. Tetapi, apabila benar Perdana Menteri (PM) Denmark Lars Lokke Rasmussen telah membuat draf tanpa mendengar masukan peserta negara berkembang, itu namanya mengingkari niat membantu negara miskin dan berkembang. Kami tidak setuju," ujar Presiden G-77 Lumumba Stanislaus Di-Aping.

Draf kontroversial yang diterbitkan The Guardian itu berjudul Perjanjian Kopenhagen Berdasarkan Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim. Dalam draf tersebut, posisi negara berkembang sangat terjepit. Pasalnya, draf itu menitikberatkan pengurangan emisi gas di negara berkembang sebesar 80 persen dari emisi tahun 1990 pada 2020. Sayangnya, negara maju tidak diminta mengurangi emisi mereka.

Selain itu, negara berkembang juga dituntut melaksanakan isi Protokol Kyoto. Lagi-lagi, negara maju tidak disebutkan dituntut melakukan Protokol Kyoto, tetapi hanya akan menyiapkan dana untuk membantu negara maju mencari energi ramah lingkungan selain energi fosil dan mengawasi penebangan liar hutan.

Sementara itu, surat kabar Denmark Berlingske mengutip pernyataan seorang sumber delegasi Denmark yang menyayangkan bocornya draf ini. Delegasi itu mengatakan, dengan adanya kebocoran draf, perundingan akan menjadi lebih sulit.

Indonesia Protes

Sementara itu, Kementerian Iklim Denmark mengeluarkan pernyataan persnya mengenai penerbitan draft oleh The Guardian. Dalam pernyataan itu, pejabat Denmark menyangkal telah membuat draf sebelum tercapainya kesepakatan. Pejabat tersebut juga mengatakan, draf yang diterbitkan itu palsu.

Terkait dengan itu, Forum Masyarakat Sipil (Civil Society Forum/CSF) Indonesia untuk Keadilan Iklim memprotes keras delegasi tuan rumah Denmark karena dinilai dengan terang-terang mulai menelikung pada pertemuan hari pertama.

"Delegasi Indonesia harusnya memprotes tindakan pimpinan COP 15, yang mengancam suara-suara negara berkembang seperti Indonesia, akan diabaikan dalam perundingan-perundingan ini", ujar Koordinator CSF Indonesia Giorgio B dalam siaran pers yang diterima dari Kopenhagen, Selasa (8/12).

Sedangkan, Ketua tim Negosiasi Delegasi Indonesia (Delri) Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Rachmat Witoelar, tetap optimistis akan tercapainya satu kesepakatan penting dalam konferensi untuk menyelamatkan dunia. Dia menggambarkan suasana penuh emosi para pihak terlihat sangat optimistis seperti yang terlihat saat konferensi yang sama di Bali tahun 2007. [CNN/WID/E-7/M-17]



Post Date : 09 Desember 2009