Gegar Budaya Pun Sering Terjadi...

Sumber:Kompas - 26 Desember 2009
Kategori:Air Minum

Membayangkan air yang bisa langsung diminum di Jakarta Utara ibarat pungguk merindukan bulan. Intrusi air laut yang sudah mencapai Jakarta Pusat membuat tidak ada air tanah di kawasan Jakarta Utara yang bisa dimanfaatkan sebagai air minum.

Warga Jakarta Utara selama ini memanfaatkan air bersih dari Perusahaan Air Minum (PAM) atau memakai air isi ulang. Walau judulnya PAM, air yang dihasilkan adalah air bersih, bukan air minum. Jadi tidak bisa langsung diminum.

Namun, ternyata sekarang di Jakarta Utara ada keran yang mengeluarkan air siap minum. Dan ini satu-satunya keran di Jakarta yang mengeluarkan air siap minum yang disediakan PAM yang diproduksi oleh PT Aetra Air Jaya.

Keran ini diletakkan di Kantor Pelayanan Prima Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara. Maksudnya untuk melayani warga yang sedang mengurus kebutuhannya di kantor wali kota. Dari urusan pajak, layanan kesehatan, hingga mutasi anak sekolah. Tentu warga yang datang ini akan merasa kehausan, dan ingin minum. Apalagi jika mereka datang siang hari, sementara di kantor pelayanan itu tidak ada pedagang asongan dan jauh dari kantin.

Semula Aetra memiliki empat pilihan untuk memasang keran air siap minum ini, yakni di Kantor Pelayanan Prima Jakarta Utara, Kantor Pelayanan Prima Jakarta Timur, RS Cipto Mangunkusumo, dan di RS Pusat Angkatan Darat. Pilihan jatuh ke Kantor Pelayanan Prima Jakarta Utara mengingat air di kawasan Jakarta Utara sudah tidak layak minum lagi.

Presiden Direktur PT Aetra Air Jaya Syahril Japarin dalam peresmian keran air minum ini, Jumat (11/12), mengatakan, keberadaan air minum ini untuk menunjang citra yang baik bagi Jakarta sebagai ibu kota negara. Ya, tentu saja. Untuk masalah ini, Jakarta memang tertinggal jauh. Di Singapura dan Malaysia, negara terdekat, keran air siap minum sudah tersebar luas di ruang publik.

Keran air minum ini sebenarnya air bersih yang selalu diproduksi dan disalurkan Aetra kepada pelanggan. Namun, sebelum air keluar di mulut keran, air bersih itu akan melewati alat penyaringan dan akan disinari ultraviolet untuk mematikan kuman. ”Alat penyaringan kami ganti setiap tiga bulan sekali, sementara kualitas air dikontrol setiap hari,” kata Margie E Tumbeleka, Corporate Communication Manager Aetra.

Semula keran akan diletakkan dalam ruangan pelayanan prima, tetapi itu tidak mudah karena harus membobok lantai dan menyambungkan ke pipa air bersih Aetra. Secara konstruksi bangunan, pekerjaan ini membutuhkan biaya besar.

Pilihan akhirnya jatuh di depan pintu masuk samping. Alasannya, dengan diletakkan di pintu samping, warga yang berolahraga atau upacara di lapangan wali kota juga bisa menikmati air minum itu. Demikian juga warga yang berada di masjid yang terletak sekitar 100 meter dari kantor layanan prima itu dapat menikmati air minum itu.

Namun, setelah hampir tiga minggu beroperasi, ternyata keberadaan air siap minum ini belum diketahui banyak orang. Banyak faktor yang menyebabkan air minum ini kurang dimanfaatkan. Pertama karena letaknya agak tersembunyi dari arah luar karena keran ini terletak di balik tembok. Pintu di akses samping kantor pelayanan prima itu pun selalu terkunci. Warga yang ada di kantor itu harus berjalan keluar dan memutar dulu untuk mencapai keran ini.

Selain itu, keberadaan keran ini ternyata belum sejalan dengan budaya warga. Walaupun haus, warga memilih menahan diri daripada minum langsung dari keran. ”Minum, ya, pakai gelas. Kalau langsung keluar dari keran, takut masuk hidung,” kata Indra, salah seorang warga.

Ya, sama saja dengan keberadaan WC duduk di tempat umum. Warga yang biasa menggunakan WC jongkok memilih jongkok di toilet dan menanggung risiko terjatuh dari toilet. Kalau sudah begini, namanya gegar budaya sedang terjadi.... (M Clara Wresti)



Post Date : 26 Desember 2009