Gubernur Berganti, Banjir Tak Juga Pergi

Sumber:Jurnal Nasional - 07 September 2010
Kategori:Banjir di Jakarta

PEMERINTAHAN boleh berganti. Gubernur DKI Jakarta juga boleh berganti. Namun rupanya, semua itu belum cukup mampu "mengusir" musuh bersama para warga Kampung Melayu: banjir. Ya. Waktu terus berjalan. Namun permasalahan banjir yang kerap menjadi masalah langganan warga Jakarta belum juga mampu terselesaikan.

"Setiap hujan datang dan membuat Kali Ciliwung meluap, di tempat kami pasti terjadi banjir. Sejak saya tinggal di sini sekitar 15-an tahun lalu. Banjir adalah hal yang biasa terjadi. Tidak tahu kenapa. Banyak pejabat sudah ke sini untuk meninjau. Tapi rupanya banjir hanya jadi bahan tinjauan saja," keluh Martina, warga Kampung Melayu Kecil, Bukit Duri, Tebet, saat ditemui depan gang rumahnya, Minggu (5/9).

Martina sengaja membawa anak bungsunya yang masih kecil untuk keluar rumah, sementara sang suami dan tiga anaknya yang lain menurutnya bertugas membersihkan rumah yang tadi pagi baru saja kebanjiran. Menurut Martina, dalam sebulan terakhir sudah lima kali ini rumahnya kemasukan air luapan Kali Ciliwung. Dia mengaku bingung karena seperti yang pernah dia dengar, saat ini sudah ada Kanal Timur untuk meredam potensi banjir, namun faktanya banjir masih saja belum bisa teratasi. "Di rumah saya tadi pagi air masuk sekitar 50 cm dari lantai. Itu masih lumayan."

Hal itu dibenarkan oleh Bachrudin, tetangga Martina. Menurut Bachrudin, banjir di rumahnya tadi pagi bahkan sudah mencapai satu meter. Hal itu karena posisi rumah Bachrudin sedikit lebih rendah dari rumah milik Martina. "Masih mending dia (Martina) rumahnya pernah ditinggikan (lantainya), jadi banjirnya tidak seberapa. Kalau tempat saya dari dulu juga sudah seperti itu. Jadinya pas banjir juga lumayan dalam," ujar pria yang berprofesi sebagai sopir Bajaj ini.

Jika Martina berbagi tugas dengan suami untuk mengurus rumahnya yang kebanjiran, tidak demikian halnya dengan Bachrudin. Karena hidup sendiri ditinggal istri dan anak yang sedang merantau, Bachrudin memilih membiarkan kondisi rumahnya yang terendam banjir sampai kering dengan sendirinya. "Nanti saja habis buka puasa saya bersihkan. Itu sudah biasa. Daripada capek malah tidak bisa puasa. Dan lagi mending mangkal di sini, siapa tahu ada penumpang (ojek)," ujarnya.

Tanggung Jawab

Membincang masalah banjir di Jakarta boleh dibilang gampang-gampang susah. Jangankan golongan warga "akar rumput" seperti Martina dan Bachrudin yang bingung, bahkan pemimpin mereka pun secara tidak langsung juga telah menunjukkan kebingungannya. Di suatu saat, misalnya, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo menyatakan bahwa masalah banjir harusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta saja, melainkan juga semua pihak, termasuk pemerintah pusat daan bahkan rakyat jelata Kota Jakarta seperti Martina dan Bachrudin.

"Jangan hanya menyalahkan Pemda. Ini masalah kita bersama. Termasuk pemerintah pusat. Termasuk juga warga di kampung-kampung tanpa terkecuali," ujarnya.

Para warga, ujar Fauzi, harus turut bertanggung jawab dalam bentuk sikapnya dalam membuang sampah sehari-hari. Menurutnya, semua usaha dari Pemda tentu akan sia-sia bila sebagian besar warga Jakarta justru menjadi polutan utama sungai-sungai yang harusnya bertugas mengalirkan air ke muaranya.

Posisi geografis Jakarta yang 40 persen daerahnya di bawah permukaan air laut pasang turut juga menjadi pangkal permasalahan. Posisi Jakarta juga tergolong rawan karena berada pada dataran rendah di ketinggian 8 meter dpl.

Dengan permasalahan yang kompleks seperti ini, banyak orang yang kemudian menyerah dan pasrah direndam air. Berharap kesadaran dari warga memang sudah seharusnya. Namun semoga hal itu bukan iktikad untuk melempar tanggung jawab. Taufan Sukma



Post Date : 07 September 2010