Ironi Sumur Isi Ulang Kalipetir

Sumber:Kompas - 11 September 2008
Kategori:Air Minum

Mungkin tak ada manusia di dunia ini yang sanggup hidup tanpa air dalam waktu lama. Warga di Dusun Kalipetir adalah contohnya. Dusun yang berada di wilayah Pengasih, sekitar tujuh kilometer timur laut Wates, Kulon Progo, sudah sejak lama terkenal sulit air.

Jalan menuju Kalipetir banyak yang masih belum diaspal walaupun dekat ibu kota kabupaten. Dusun tersebut terletak di Desa Margosari, berada di perbukitan kapur yang cukup tinggi.

Setiap musim kemarau tiba, warga Kalipetir selalu menghadapi masalah klasik yang terus berulang, yakni krisis air bersih. Bebatuan dasar sumur pun perlahan-lahan terlihat seiring menurunnya ketinggian muka air.

"Kalau air di sumur kering, kami terpaksa mencarinya di sumber- sumber air yang jaraknya jauh, sekitar 2-3 kilometer dari rumah. Itu pun harus berjalan kaki karena hanya ada jalan setapak yang kecil," ujar Rubiyem (32), salah seorang warga, Rabu (10/9) siang.

Dalam sehari, penduduk bisa empat kali pergi bolak-balik mencari air. Sekali pergi, warga biasa membawa dua jeriken dengan kapasitas sekitar 50 liter. Karena sudah menjadi agenda rutin tahunan, tidak ada warga mempersoalkan hal ini.

Akan tetapi, kisah heroik pahlawan-pahlawan pencari air di Kalipetir sudah menjadi kenangan masa lalu. Kini, tak banyak lagi warga yang mau bersusah payah mencari air. Apalagi, sudah beberapa tahun terakhir musim kemarau selalu datang bersamaan dengan bulan Ramadhan yang mengharuskan umat Islam berpuasa selama 30 hari penuh.

"Bayangkan saja, sudah cuacanya panas, sedang berpuasa, masih mengangkut air pula. Kalau tidak kuat iman, mungkin banyak dari kami yang sudah membatalkan puasa di tengah jalan," kata Rahmat Samidi, warga Kalipetir Kidul.

Mereka kemudian membeli air bersih dari perusahaan daerah air minum (PDAM) atau dari penjual air liar.

Satu tangki air bersih dari PDAM dibeli dengan harga Rp 150.000- Rp 200.000. Penjual air liar mematok harga lebih murah, yakni Rp 110.000 untuk air sebanyak satu bak truk ukuran sedang.

Keperluan membeli air bersih ini membuat warga harus rela menyisihkan sebagian besar pendapatan mereka yang sebenarnya tidak seberapa. Mayoritas warga Dusun Kalipetir bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu, Rp 15.000-Rp 20.000 per hari.

Membeli air tak urung juga mendatangkan masalah baru. Bagaimana caranya menampung air sebanyak 4.000 liter dalam satu wadah sekaligus? Akhirnya, air yang sudah telanjur dibeli lalu dituang begitu saja ke dalam sumur. Saras (28), warga Kalipetir Lor, mengaku tidak punya pilihan lain. Di satu sisi, warga sudah amat membutuhkan air bersih, di sisi lain truk pembawa air tidak bisa lama-lama berada di satu lokasi.

Dengan asumsi kebutuhan air bersih per keluarga mencapai 200 liter per hari, secara logika seharusnya air sebanyak 4.000 liter bisa dinikmati satu keluarga selama 2-3 minggu. Akan tetapi, kenyataannya air hanya bertahan di sumur selama seminggu karena terus meresap ke dalam tanah.

Jika dihitung kembali, sungguh mahal biaya yang harus dikeluarkan warga Kalipetir untuk kebutuhan air, bisa lebih dari Rp 10.000 per hari. Karena itu, warga Kalipetir harus bekerja lebih keras dan menabung uang lebih banyak. Besar energi yang dikeluarkan untuk bekerja mungkin setara dengan tenaga yang dibutuhkan untuk berjalan kaki mencari air.

Menghadapi kenyataan ini, Saras dan Rahmat hanya bisa tersenyum getir. Apa yang mereka pikir sudah menjadi solusi ternyata hanya wujud lain dari masalah yang sama.

Warga Kalipetir seolah hidup dalam lingkaran masalah yang tak berkesudahan, kecuali musim hujan datang dan sumur mereka terisi kembali. Tanpa ada solusi konkret, warga Kalipetir akan terus mengisi ulang sumur mereka setiap musim kemarau tiba. Yoga Putra



Post Date : 11 September 2008