Jakarta Banjir dan Lalu Lintas Terganggu

Sumber:Kompas - 03 Februari 2009
Kategori:Banjir di Jakarta

Jakarta, Kompas - Sepanjang Senin (2/2), sebagian besar wilayah Jakarta dan sekitarnya terus diguyur hujan. Akibatnya, sejak Senin pagi, lalu lintas di Ibu Kota tersendat karena muncul banyak genangan. Kondisi ini semakin parah menjelang pukul 19.00 ketika banjir kiriman dari Bogor sampai ke Jakarta.

Sementara itu, sampai pukul 19.30, permukaan air di Sungai Ciliwung terus naik. Di Kelurahan Bidara Cina, permukiman di bantaran kali yang paling rendah kebanjiran 1 sampai 1,5 meter.

Sejumlah kawasan, seperti Kampung Melayu, Cawang, Bukit Duri di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan hingga kawasan Angke, Jakarta Utara, kebanjiran. ”Sejak Senin dini hari, kami terus memantau ketinggian air di Bendung Katulampa, Depok, dan Manggarai. Informasinya pun langsung disebar ke daerah-daerah rawan banjir. Pada pukul 10.00 ketinggian air di Katulampa sudah mencapai 150 meter atau siaga II. Sembilan jam setelahnya atau sekitar pukul 19.00, air sudah sampai Jakarta,” kata Manajer Crisis Center Heru Joko Santoso, Senin.

Dari Bogor dilaporkan, hujan cukup deras yang mengguyur kawasan hulu Sungai Ciliwung selama tujuh jam sejak Senin dini hari mengakibatkan ketinggian air di Bendung Ciliwung Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, sempat mencapai 150 meter pada pukul 13.00. Derasnya air Ciliwung juga menyebabkan jembatan selebar 1 meter tidak seberapa jauh dari bendung ambrol pada saat itu.

Petugas Bendung Ciliwung Katulampa, Andi Sudirman, mengatakan, ketinggian air mulai surut setelah pukul 15.00. Hingga pukul 17.00 ketinggian air susut menjadi 80 meter. ”Di kawasan Katulampa sendiri masih turun hujan walau tidak deras. Di hulu, hujan sudah mulai berhenti walaupun masih mendung,” katanya kemarin sore.

Heru kembali mengingatkan warga agar jangan bertahan di dalam rumah jika luapan air kian tinggi. Untuk membantu korban banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyediakan bantuan berupa 80.000 ton beras, 200 dus mi instan, 800 lembar selimut, dan 800 helai kain sarung.

Berdasarkan Crisis Center DKI, sebanyak 300 perahu karet dan 300 ban dalam untuk pelampung juga telah disebar ke seluruh wilayah kelurahan rawan banjir. Saat ini di Posko Crisis Center tersedia 20 perahu karet dan yang tersimpan di gudang ada 30 unit.

”Kami terus memantau perkembangan cuaca. Jika cuaca Jakarta ekstrem seperti hujan disertai badai, maka akan segera diumumkan 36 jam sebelum kejadian. Ini hasil kerja sama Pemprov DKI dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” katanya.

Siap kebanjiran

Warga yang telah siaga bencana banjir terlihat di Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Senin pagi tercatat sedikitnya empat RW di kelurahan ini telah tergenang. Keempat RW yang kebanjiran adalah RW 02-05 dengan ketinggian air mencapai setengah meter.

Meski rumahnya telah terendam, 778 keluarga atau sekitar 3.271 orang tak mau mengungsi. Warga masih bertahan karena sudah terbiasa dengan banjir. Mereka akan mengungsi jika seluruh lantai satu terendam.

Di Kelurahan Petamburan sendiri terdapat tujuh RW yang rawan banjir, yakni RW 01-05, RW 07, dan RW 08. Ketujuh RW ini dihuni sekitar 4.156 keluarga. Namun, yang paling rendah berada di kawasan RW 03 yang tak jauh dari kantor kelurahan.

Jika genangan makin meninggi, Crisis Center DKI telah mendistribusikan tiga perahu karet dan 100 pelampung untuk mengevakuasi warga Petamburan. Tempat pengungsian pun telah tersedia, antara lain di masjid di Jalan Aipda KS Tubun.

Macet parah

Banjir dan kemacetan juga melanda sejumlah kawasan di Jakarta Utara, seperti Tanjung Priok, Kelapa Gading, Koja, Cilincing, Rawa Badak, Kamal Muara, Kapuk Muara, dan Perintis Kemerdekaan. Banjir menggenang setinggi 10-50 cm yang berdampak pada kemacetan panjang di ruas-ruas jalan di semua kawasan tersebut.

Jalan Raya Cakung Cilincing, tepatnya di sekitar Kebon Baru, Semper Barat, tergenang air setinggi 10-20 cm. Genangan itu menghambat laju kendaraan sehingga sempat memicu kemacetan sejauh 1,5 kilometer. Dengan menggunakan mobil, kemacetan ini baru dapat ditembus dalam waktu 40 menit. Genangan terparah terjadi di persimpangan Jalan Sulawesi-Jampea, di depan gerbang Pos IX Pelabuhan Tanjung Priok. Tinggi genangan 10-30 cm.

Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Utara Irvan Amtha menjelaskan, selain karena hujan lokal, genangan atau banjir juga terjadi akibat banjir kiriman. Pada Senin kemarin, tinggi muka air di pintu air Pulo Gadung sempat mencapai 605 cm atau lebih tinggi 55 cm di atas ambang normal 550 cm.

Selain disebabkan banjir, kemacetan di kawasan Tanjung Priok kemarin juga disebabkan adanya pekerjaan pembetonan Jalan Yos Sudarso. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mendesak agar pembetonan dipercepat sebab Jalan Yos Sudarso merupakan jalur ekonomi strategis. (RTS/CAL/ONG/NEL/ECA)



Post Date : 03 Februari 2009