Jejak Embun di Helai Daun Pisang

Sumber:Kompas - 09 September 2008
Kategori:Air Minum

Kala musim kemarau mendera Gunung Kidul, air menjadi barang langka yang kehadirannya selalu dinanti warga. Tanah yang tak sanggup menahan air menyebabkan warga sulit memiliki sumber air pribadi dalam bentuk sumur atau mata air lainnya.

Air hanya bisa ditemukan di lokasi tertentu dan umumnya dimanfaatkan untuk pemenuhan hidup bersama. Penemuan sumber air baru selalu menumbuhkan harapan tentang kehidupan. Wilayah pesisir bagian selatan Kabupaten Gunung Kidul merupakan salah satu lokasi dengan aliran air bawah tanah yang dekat dengan permukaan. Namun, tak seluruh kandungan air tersebut bisa diambil dengan cara menggali sumur. Butuh keterampilan sekaligus keahlian khusus untuk menemukan serta menggalinya. Ketika teknologi masih mahal dan belum mampu menyentuh warga, kearifan lokal menjadi senjata ampuh untuk pencarian air. Hanya dengan lembaran daun pisang, Parlan (32) sanggup menemukan lokasi mata air di bawah tanah yang cocok digali untuk sumur. Sesaat setelah matahari terbenam, daun pisang itu diletakkan di lahan yang akan digali. Pagi-pagi buta sebelum sinar mentari bersinar, helaian daun pisang sudah bisa berbicara tentang jejak air yang tersembunyi jauh di bawah permukaan tanah.

Kumpulan butiran embun yang sudah menjadi air di atas daun pisang itu menjadi penanda kehadiran air di bawah tanah. Semakin banyak serapan air di daun pisang, semakin besar pula sumber mata airnya. Sebaliknya, jikalau daun pisang itu tetap kering, sudah bisa dipastikan bahwa penggalian sumur hanya akan menjadi pekerjaan sia- sia. Ilmu penggalian sumur dengan daun pisang ini telah diwariskan secara turun-temurun. Selama tenaga masih kuat, saya akan terus menggali sumur. Ini tidak sekadar mencari uang, tetapi perwujudan tanggung jawab karena diwarisi keahlian mencari sumber air, ujar Parlan saat ditemui di sela penggalian sebuah sumur di kawasan Pantai Drini, Gunung Kidul, beberapa waktu lalu. Kebahagiaan terbesar bagi seorang penggali sumur seperti Parlan adalah ketika menyaksikan rembesan mata air yang terus membesar dan akhirnya menggenang di dasar sumur. Kebahagiaan tersebut semakin sempurna ketika warga dan petani mulai berbondong-bondong memanfaatkan sumur yang digali dengan kucuran keringat. Tak satu pun sumur di ladang-ladang sepanjang pantai selatan Gunung Kidul yang dimanfaatkan oleh perorangan. Warga Desa Banjarejo, Tanjungsari, Yasmi (39), misalnya, harus berjalan kaki menempuh jarak enam kilometer untuk mencuci baju, mandi, dan menjemur baju di sebuah sumur ladang di kawasan Pantai Drini. Setidaknya, ada lebih dari 50 sumur yang tersebar di sepanjang pantai selatan Gunung Kidul. Tiap kali sebuah sumur berhasil mengeluarkan air, warga segera menggelar ritual selamatan sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta Alam.

Tiap sumur sanggup mengalirkan air jernih sepanjang tahun sehingga warga tak harus sepenuhnya mengandalkan pembelian air dari mobil tangki untuk pemenuhan air bersih. Selama musim kemarau, Parlan mengaku dibingungkan dengan antrean panjang daftar permintaan penggalian sumur. Kendala utama penggalian, lanjutnya, adalah ketika cangkul pengeruk beradu dengan batuan keras. Kontur daerah pesisir memang lebih banyak didominasi batuan bedes (gamping) yang keras. Dari biasanya bisa menyelesaikan penggalian dalam waktu lima hari, batuan keras bisa menyebabkan mundurnya pengerjaan sumur hingga 25 hari. Selain itu, ada beberapa lokasi di pantai selatan yang mengandung gas beracun. Untuk menyiasati kemunculan gas beracun, penggalian sumur biasanya dimulai sejak matahari terbit hingga pukul 10.00. Tanah di pesisir Gunung Kidul biasanya bisa mengeluarkan air setelah penggalian sedalam 9-13 meter. Warga Gunung Kidul sudah terbiasa berjalan beriringan dengan alam. Melalui kedekatan dengan alam pula, mereka bisa menguak rahasia bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan. Alam pula yang mengajari warga tentang berbagai ilmu, seperti jejak-jejak air di daun pisang MAWAR KUSUMA



Post Date : 09 September 2008