Kalau Serius, Jepang Pun Tertarik Jajaki Kerja Sama

Sumber:Kompas - 28 September 2011
Kategori:Sampah Jakarta

Sampah sering kali menjadi persoalan pelik bagi pemerintah kota di Indonesia. Namun, jika pemerintah serius menangani sampah, maka Pemerintah Kota Osaki, Jepang, tidak ragu menjajaki kerja sama.

Inilah yang dilakukan Wali Kota Osaki, Jepang, dengan Pemkot Depok. Kedua kepala pemerintahan kota itu bekerja sama mengolah sampah.

Higasi Yasuhiro, Wali Kota Osaki, menerangkan model pengolahan sampah di Osaki yang berhasil mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) sampai 87 persen. Jika dibutuhkan, Pemkot Osaki akan mengirim tenaga ahli untuk membantu pengolahan sampah di Depok.

”Mudah-mudahan kami dapat membantu pengolahan sampah dengan mengurai persoalan yang ada. Sekarang kami ingin melihat terlebih dahulu seperti apa pengolahan sampah di sini,” kata Yasuhiro, Selasa (27/9), ketika mengunjungi TPA Cipayung, Kota Depok.

Yasuhiro melihat langsung lokasi penimbunan sampah di TPA Cipayung. Dia kemudian menanyakan model pengolahan sampah di TPA satu-satunya di Depok itu. Sesekali rombongan Yasuhiro mengutarakan pengalaman warga dan Pemkot Osaki ketika menghadapi persoalan sampah.

Persoalan pengolahan sampah yang ada di Depok saat ini mirip dengan persoalan sampah di Osaki 13 tahun silam.

Swasta dan Pemkot Osaki selanjutnya bersinergi mendirikan pusat daur ulang sampah dan model pengolahan yang lebih baik. Kota Osaki, kata Yasuhiro, merupakan kota yang paling berhasil dalam mendaur ulang sampah di Jepang. Proses pengolahan dimulai dari tingkat warga dengan memilah sampah sampai 29 jenis. Adapun proses pembuangannya tidak bisa sembarangan, melainkan ada hari khusus di mana sampah tertentu dibuang, misalnya hari pembuangan sampah plastik, maka seluruh warga membuang sampah plastik.

Balasan

Kunjungan Wali Kota Osaki merupakan kunjungan balasan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il pada Februari 2011 lalu.

Rombongan Wali Kota Osaki berjumlah sepuluh orang yang berasal dari kalangan pemerintah, pengusaha, dan Direktur Pusat Pengolahan Sampah Mitsuhiro Miyachi. Selama di Depok mereka juga mengunjungi SMPN 10 Depok, Bank Sampah Kelompok Peduli Lingkungan (Poklili), TPA Cipayung, dan pabrik pembuatan alat pengolahan sampah.

Rahmat Hidayat, Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan, Dinas Kebersihan Depok, mengaku senang dengan kunjungan ini. Adapun tawaran kerja sama dengan Pemkot Osaki dapat dilakukan dalam banyak hal, selain pengiriman tenaga ahli.

”Kami siap belajar dari Pemkot Osaki,” kata Rahmat.

Adapun model pengolahan sampah yang berjalan di Kota Osaki sangat memungkinkan diterapkan di Depok. Namun, untuk merealisasikannya, semestinya dimulai dengan komitmen bersama masyarakat. Semua warga harus memiliki komitmen yang tinggi untuk menjaga kebersihan lingkungannya. Jika tidak, maka model pengolahan sampah apa pun akan sulit diterapkan di Depok.

Djuniawan Wanitarti, Ketua Bank Sampah Poklili, berharap, kunjungan Wali Kota Osaki menjadi langkah awal untuk memperbaiki pengolahan sampah agar di masa depan bisa lebih baik.

Selama ini Pemkot Depok hanya mengandalkan unit pengolahan sampah (UPS) yang sudah dibangun di seluruh wilayah. Namun, pada perjalanannya, UPS yang ada tidak terlalu efektif karena minimnya keterlibatan warga. ”Untuk mengolah sampah harus melibatkan warga agar ikut merasa berkepentingan menjaga lingkungannya,” katanya.

Namun, pemerintah tidak bisa mengandalkan inisiatif warga saja, tapi juga harus turut memelopori. Tanpa contoh nyata dari pemimpinnya, bukan tidak mungkin Kota Depok akan berhadapan dengan sampah.(Andy Riza Hidayat)



Post Date : 28 September 2011