Kali Bekasi Masih Tercemar

Sumber:Pikiran Rakyat - 31 Agustus 2009
Kategori:Air Limbah

BEKASI, (PR).- Sejumlah industri masih membuang limbahnya secara diam-diam ke kali yang mengalir di Kota Bekasi. Bahkan, kali di Bekasi juga sering menjadi tempat pembuangan kotoran manusia (tinja). Akibatnya, sejumlah kali yang ada di Kota Bekasi tercemar limbah industri dan rumah tangga.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi, Dudy Setiabudhi, Minggu (30/8), mengaku kesulitan mengawasi industri mana saja yang membuang limbahnya ke kali.

"Hingga sekarang, kami masih sulit menertibkan industri yang membuang limbahnya ke sungai. Bahkan, untuk melacak industri mana saja yang membuang limbah ke sungai juga belum bisa," ujarnya.

Dikatakan Dudy, pabrik-pabrik itu membuang limbahnya secara diam-diam ke sungai. Padahal, pihaknya sudah memberikan peringatan kepada seluruh perusahaan untuk menghentikan pembuangan limbah ke sungai.

"Kami juga sudah menekankan pembuatan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Namun, pencemaran sungai di Bekasi sulit dihindarkan," kata Dudy.

Selain itu, pabrik yang mencemari sungai di Bekasi diduga bukan hanya pabrik yang ada di Kota Bekasi. Pasalnya, sungai-sungai di Bekasi mengalir dari wilayah Bogor.

Dengan demikian, pabrik yang ada di wilayah Bogor pun diduga ikut mencemari kali yang mengalir di Kota Bekasi. BPLH, kata Dudy, sebenarnya telah menurunkan tim pemantau pencemar lingkungan hidup yang terdiri dari tujuh orang.

Namun, kinerja tim itu juga belum memuaskan. Alasannya, dalam setahun tim ini hanya mampu menangani sekitar tujuh puluh perusahaan yang mencemari lingkungan.

"Padahal, ada sekitar tiga ratus pabrik yang ada di Kota Bekasi. Jadi, memang sulit untuk melacak pabrik mana saja yang mencemari kali di Bekasi. Terlebih, jika ada dugaan penyebabnya dari luar Bekasi," katanya.

Bukan hanya limbah industri yang dibuang ke kali di Bekasi, tetapi juga limbah rumah tangga, bahkan kotoran manusia dari pengelola mobil tinja. Dudy sendiri mengaku sempat memergoki mobil berisi tinja sedang membuang muatannya ke kali di Bekasi.

Pencemaran

Akibat pencemaran yang tidak terkendali itu, kali di Bekasi mengalami pencemaran tingkat tertinggi pada tahun 2008 lalu. Namun tahun ini, Dudy optimistis tingkat pencemaran sudah mulai berkurang.

"Setiap tahun kita ambil sampel air untuk diperiksa. Awal Agustus kemarin kita sudah ambil sampelnya. Meski masih ada bahan-bahan berbahaya dan sejumlah bakteri, tingkatnya sudah sedikit menurun," ujarnya.

Hasil tes laboratorium ditemukan bahwa air Kali Bekasi mengandung senyawa asam, seperti sulfat (SO4), nitrit (NO2), nitrat (NO3), amonia (NH3), besi (Fe), mangan (Mn), organic matter (KMnO4), dan coliform atau bakteri Escherichia coli (E-coli).

Berdasarkan pemantauan "PR"di beberapa kali di Bekasi terlihat bahwa air kali berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau tidak sedap. Bahkan, dari gorong-gorong yang berada di sekitar kali terlihat limbah rumah tangga seperti bekas sisa detergen dan sampah rumah tangga. Lumut yang ada di dasar sungai pun sudah banyak yang mati dan hanyut.

Meski tercemar, air kali Bekasi sering digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Seharusnya, air di kali Bekasi tidak digunakan untuk mandi, cuci, kakus," ujarnya. Meski demikian, pencemaran di kali Bekasi belum separah Kali Malang. Ambang batas parameter kandungan bahan-bahan kimia kali Bekasi masih masuk kategori dua, sedangkan Kalimalang telah masuk kategori satu. (A-155)



Post Date : 31 Agustus 2009