KLH Ambil Sampel Air Sumur Tercemar

Sumber:Suara Merdeka - 18 Maret 2005
Kategori:Air Minum
KARANGANYAR - Tim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kemarin datang ke Karanganyar. Empat anggota tim yang dipimpin Bambang Pramudyanto, Deputi IV Menteri Lingkungan Hidup, Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Sumber Institusi, bermaksud mengambil sampel air dari sumur milik warga Dusun Sawahan, Jaten, yang diduga tercemar.

Mereka didampingi Kepala Dinas LH Karanganyar Sartono, Agus Dody Sugiartoto (Aliansi Pemantau Keadilan Lingkungan/APKL), dan Kliwon (Ketua RW 6, Dusun Sawahan). Sumur itu antara lain milik Marikun (RT 3 RW 6), Panji (RT 1), Tardi (RT 3 ), Tarno (RT 5), dan Widodo (RT 6). Letak sumur-sumur mereka sekitar 50 hingga 100 meter dari seluran pembuangan limbah. "Kami melaksanakan perintah menteri, menindaklanjuti surat yang dikirim warga Sawahan,'' kata Bambang.

Setelah diambil dari sumur, tambah Bambang, sampel air yang diduga tercemar akan diteliti tim di balai riset dan standardisasi industri dan perdagangan (Baristan Indag) di Semarang.

Padahal, air dari sumur tersebut sudah berkali-kali diambil sampelnya untuk diteliti di Semarang. "Dalam meneliti, kami akan menggunakan parameter yang belum digunakan sebelumnya. Kami akan mencoba mencari partikel unsur pencemar lain,'' jawab Bambang.

Apakah sumur warga memang tercemar? "Secara empiris, ya. Air sumur itu sudah tidak bisa dikonsumsi lagi. Air itu berwarna, lagi pula baunya menyengat,'' tambah dia.

Korban Bertambah

Anggota masyarakat Jaten yang mengaku sumurnya tercemar dan telah mengadukan nasibnya ke APKL, terus bertambah. Semula warga yang melaporkan, tercatat hanya 26 orang dari Dusun Sawahan, kini bertambah lagi 13 orang berasal dari Kampung Sambungan, Desa Jaten.

Baik Agus Dody Sugiartoto, Kliwon, maupun sejumlah pengurus BPD Sawahan merasa pesimistis dengan pengambilan sampel air tersebut. Sebab, berkali-kali sumur warga telah diambil sampel airnya, tapi tidak ada solusi. Baik itu dari Polda Jateng maupun Dinas LH dan Pemkab Karanganyar. "Saya khawatir masyarakat korban limbah hanya dijadikan objek oleh para pejabat,'' kata Agus Dody.

"Paling tidak sudah empat hingga enam kali air dari sumur warga diambil sampelnya. Baik oleh Dinas LH, Bapedal Jateng, Polda Jateng, maupun KLH. Warga pernah dijanjikan akan dipertemukan dengan pihak perusahaan yang diduga mencemari untuk menyelesaikan masalah, tapi hingga kini belum terwujud,'' kata Kliwon.(G8-69t)

Post Date : 18 Maret 2005