Komitmen Negara Maju Dipertanyakan

Sumber:Kompas - 13 Desember 2007
Kategori:Climate
Nusa Dua, Kompas - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon mempertanyakan komitmen politik negara-negara maju dalam menanggapi masalah pemanasan global dan upaya pencarian solusi atas akibat yang ditimbulkannya. Isu perubahan iklim akan stagnan jika negara-negara maju tidak proaktif memimpin negara-negara berkembang.

"Saya masih ingat komitmen politik mereka di bulan September lalu (dalam Sidang Umum Ke-62 PBB di New York) terkait masalah pemanasan global. Saya berusaha mengingatkan komitmen itu kembali di Bali ini. Harus ada terobosan dan fokus pada masa depan," kata Ban Ki-moon.

Ia menyatakan, PBB bekerja untuk sebuah kesuksesan, yakni tercapainya kesepakatan bersama untuk menyikapi persoalan pemanasan global. Di sisi lain, ia menyadari betapa kompleksnya proses negosiasi karena masing- masing negara, khususnya negara maju yang memimpin pertumbuhan ekonomi dunia, sangat berkepentingan dengan pertumbuhan ekonomi negara mereka. Meskipun demikian, ia mendesak negara-negara maju untuk memimpin negara-negara berkembang dari kemungkinan terburuk akibat perubahan iklim. Negara maju, kata dia, punya kapasitas untuk mencari solusi.

"Negara industri punya tanggung jawab sejarah terhadap pemanasan global. Mereka punya kapasitas untuk mengatasi dan hal itu harus dibagikan ke negara berkembang dalam bentuk insentif. Ironis sekali, negara miskin terkena dampak paling besar, padahal penyebab paling nyata dari semua itu adalah negara-negara industri itu," kata Ban Ki- moon.

Ban Ki-moon mengungkapkan, dirinya telah bertemu dengan sejumlah anggota delegasi AS, Selasa (11/12) petang. Dalam pertemuan itu, ia meminta sikap fleksibilitas negara itu dalam melihat persoalan ini secara menyeluruh. Namun, sikap dan putusan akhir tetap diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah AS dan Ban mengaku menghormati keputusan tiap-tiap negara.

Target emisi

Menurut Ban, target penurunan emisi gas rumah kaca 25-40 persen pada tahun 2020 seperti diusulkan sejumlah ilmuwan masih wacana dan tidak diterapkan pada masing-masing negara secara langsung, apalagi dilakukan dalam pertemuan di Bali saat ini. Masing-masing negara punya hitungannya sendiri-sendiri apabila berbicara tentang target. Namun, hal itu harus dinegosiasikan mulai sekarang. Sebab, pandangan ilmuwan jelas dapat dijadikan sebagai landasan ilmiah untuk mengambil sebuah keputusan bersama.

"Terasa sangat ambisius jika mengharuskan negara-negara langsung menerima atau mengambil sikap terkait target itu, saat ini. Tapi, sekali lagi, hal itu harus dibicarakan mulai di Bali. Kita berharap pembicaraan itu semakin mengerucut pada tiga hari tersisa," kata Ban.

Sekretaris Eksekutif UNFCCC Yvo de Boer menyatakan, tidak ada satu pun negara yang setuju tentang pembicaraan target itu dalam konferensi di Bali ini. Pertemuan di Bali hanyalah untuk memastikan pembicaraan tentang hal itu terus berlangsung. Baru pada tahun 2009, tahun yang disetujui sebagai batas akhir penentuan target penurunan emisi itu, masing-masing negara menyatakan sikapnya.

Delegasi Amerika Serikat, seperti diwakili Ketua Delegasi AS Paula Dobriansky menegaskan, kesimpulan Peta Jalan Bali baru diputuskan tahun 2009. Untuk mencapai hal itu sekaligus melihat persoalan lebih luas tentang perubahan iklim, Amerika Serikat sedang melakukan pendekatan komprehensif, meliputi bidang lingkungan, keuangan, perdagangan, ekonomi, politik, dan sosial masyarakat. (BEN)



Post Date : 13 Desember 2007