Limbah Pun Harus Antre

Sumber:Koran Jakarta - 04 September 2009
Kategori:Sampah Jakarta

Sampah yang terus menggunung dapat langsung terlihat saat Anda turun ke pintu-pintu air di beberapa sungai di Jakarta. Dari kejauhan, aroma khas bahan buangan yang sumbernya dari tempat penyaringan sampah basah sudah mulai tercium.

Di tempat itu, sampah menumpuk dan menunggu diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.

Menurut penuturan Yandri Roy Sarman Tobing, Kepala Operator Saringan Sampah Kali Perintis Kemerdekaan dari PT Asiana Technologies Lestary (ATL), setiap harinya sampah tidak pernah berhenti mengalir dari hulu sungai.

Tiap saat pula ada banyak sampah yang harus dikirim secepatnya ke TPA. “Setiap harinya ada enam truk berkapasitas 20 meter kubik yang bolak-balik sebanyak dua kali untuk mengangkut keseluruhan sampah ini,” katanya.

Jika ditotal, setidaknya ada 240 meter kubik sampah sungai yang diangkat dari Kali Perintis setiap harinya. Biasanya, penumpukan sampah mencapai puncaknya pada pukul 5 pagi serta setelah pukul 1 siang.

Pada jam-jam tersebut, papar Yandri, banyak sampah buangan dari Pasar Pulogadung atau dari masyarakat yang tinggal di bantaran Kali Sunter.

Dari pengamatan Koran Jakarta, pada hari-hari biasa, sampah-sampah itu mulai “bermuara” pada pukul 9 malam.

Pada akhir pekan sejak pukul 7 malam, sampah sudah tidak mengalir lagi. Jika aliran sampah sempat terhenti, tidak begitu halnya dengan pekerjaan para operator.

Mereka bisa dikatakan bekerja selama 24 jam. Karena itu, dalam menjalankan tugasnya, para operator itu dibagi menjadi tiga shift.

Jenis sampah yang biasa ditemukan bermacam-macam, mulai dari kotak televisi, kotak kulkas, kayu, plastik, sampai kurungan ayam.

Hal yang membuat miris, bayi-bayi tak berdosa yang dihanyutkan ke sungai sudah bukan pemandangan baru lagi bagi para petugas pintu air yang berjumlah 12 orang itu.

“Minimal satu bulan ada saja lima bayi yang terapung di dalamnya dan ditemukan di mesin penyaring otomatis,” ujar Yandri prihatin.

Pengelolaan sampah di pintu air Kali Perintis juga melibatkan PT Leo Tunggal Mandiri (LTM).

Perusahaan itu bertugas mengangkut sampah-sampah di penampungan sementara menuju TPA Bantar Gebang.

Yandri menjelaskan proses penyaringan dan perawatan peralatan yang jumlahnya mencapai lima unit itu diserahkan ke ATL. Sedangkan pengadaan eskavator dan truk pengangkut menjadi tanggung jawab LTM.

Tidak jarang proses penyaringan menghadapi kendala, utamanya saat terjadi banjir. Menurut Yandri, banjir akan mengirimkan air dengan volume besar dari hulu sungai di Bogor.

Pada saat banjir besar, barang-barang yang turut hanyut ke sungai akan bertambah. Tidak jarang barang-barang berukuran besar, seperti tempat tidur dan lemari, ikut terbawa arus.

“Pernah akibat banjir besar tersebut, tempat eksplemen atau penampungan sampah sementara yang seluas 500 meter persegi semuanya tertimbun sampah.”

Hal tersebut dibenarkan Posman Tobing, Kepala Operator Saringan Sampah di Pintu Air Manggarai. Posman mengatakan saat banjir, sampah tiba-tiba meluap.

Luapan itu tidak hanya dari Kali Ciliwung, tetapi juga dari semua saluran yang meloloskan sampah-sampah itu.

Jika kondisinya demikian, pengangkutan tidak bisa dilakukan hanya dua kali, tetapi terus-menerus seharian penuh. Hal itu untuk mencegah membeludaknya sampah di pintu air. (hag/L-2)



Post Date : 04 September 2009