Limpahan Air yang Tersiakan

Sumber:Kompas - 15 Agustus 2008
Kategori:Air Minum

Bukan tidak mungkin bagi warga Kabupaten Gunung Kidul untuk terlepas dari belenggu kekeringan ketika memasuki musim kemarau. Tak terlalu jauh di dasar tanah yang mereka injak, tersimpan kekayaan limpahan aliran air sungai bawah tanah. Hingga kini, warga masih mengandalkan tampungan air hujan atau pembelian air karena masih mahalnya biaya pengangkatan air dari sungai bawah tanah.

Tak heran, kegembiraan meluap ketika uji coba Proyek Bribin II berhasil mengangkat air pada akhir Juli lalu. Berbeda dengan uji coba pengangkatan air dari sungai bawah tanah lainnya, Proyek Bribin II cenderung lebih hemat karena tidak membutuhkan bahan bakar minyak yang telah tergantikan dengan energi mikrohidro. Selama ini, mayoritas pengangkatan air masih menggunakan genset yang membutuhkan bahan bakar solar hingga 200 liter untuk mengangkat air selama satu jam.

Proyek satu-satunya di dunia yang membendung komplet sungai bawah tanah di daerah karst tersebut dimulai sejak tahun 2000 dan penyelesaiannya sempat mundur akibat gempa. Beberapa penyelam sempat harus menyingkirkan reruntuhan gempa di dalam lorong goa dengan menggunakan dinamit.

"Saya sampai menangis ketika melihat air bisa mengalir," ucap Ketua Program dan Ketua Konsentrasi Mikrohidro Universitas Gadjah Mada Agus Maryono, Kamis (14/8).

Banyak kendala

Keberhasilan ini membawa titik cerah bagi pemanfaatan limpahan air bawah tanah untuk mengatasi bencana kekeringan di Gunung Kidul. Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama antara Universitas Kalsruhe Jerman, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Meski mengaku sangat gembira, upaya pengangkatan air hingga bisa dinikmati penduduk masih akan menemui banyak kendala dan baru bisa dinikmati oleh penduduk pada akhir tahun 2009.

Hingga kini, baru satu pompa turbin dan satu turbin kecil yang telah dipasang, Nantinya akan diikuti empat turbin pompa lainnya yang diperkirakan baru akan dipasang pada Februari mendatang. Goa Bribin yang terletak di Dusun Sindon, Dadapayu, Semanu, menawarkan limpahan air jernih dengan debit bisa 1.000-10.000 liter per detik. Debit pengangkatan air dari satu pompa turbin di Bribin II sekitar 20 liter per detik. Setiap satu liter per detik bisa mencukupi kebutuhan air bersih hingga 1.000 orang.

Setelah membuat bendungan sungai bawah tanah di Bribin, Pemerintah Jerman juga akan membantu pemanfaatan air di Goa Seropan yang masih terletak di Kecamatan Semanu. Di Goa Seropan tersebut terdapat dua air terjun bawah tanah yang akan dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik menggunakan turbin berteknologi mikrohidro. "Potensi luar biasa, tetapi tingkat kesulitannya tinggi," ujar Agus.

Tingginya tingkat kesulitan pemanfaatan air sungai bawah tanah, antara lain terlihat dalam penyusuran Kompas di Goa Seropan bersama tiga anggota Teknisi Lapangan Bribin dari Acintyacunyata Speleological Club (ASC).

Air di Goa Seropan membuncah dengan arus yang deras dan membentuk dua air terjun di dalam goa. Selain harus menyusuri aliran air hingga setinggi dada orang dewasa, sering kali mereka harus melewati celah sempit atau tebing yang curam.

Beberapa pipa beton telah dipasang dari mulut Goa Seropan. Demi keamanan alat-alat tersebut, Goa Seropan sudah ditutup untuk umum dengan pemasangan pintu bertirai besi di mulut guanya. Ketua ASC Dicky mengungkapkan mayoritas kekayaan sungai bawah tanah di Gunung Kidul belum tergarap untuk pemenuhan kebutuhan air penduduk.

Jumlah goa bawah tanah di Gunung Kidul belum pernah didata secara keseluruhan. Tim dari ASC saja mengaku pernah menyusuri 500 goa bawah tanah di wilayah tersebut. Diperkirakan masih banyak goa yang sama sekali belum terambah oleh manusia.

"Penelusuran goa tak hanya sekadar untuk bersenang-senang. Berawal dari hobi, kami mulai mengembangkan diri ke arah penelitian dan konservasi lingkungan," tutur AB Rodial Falah, Sekretaris ASC.

Alam selalu menyediakan aneka kebutuhan hidup manusia. Sejauh manusia mau bersahabat dan mengakrabi alam, keseimbangan hidup akan terjadi. Untuk meraih apa yang disediakan oleh alam tersebut, manusia tidak bisa hanya tinggal diam. Akan tetapi, harus terus mencari bahkan hingga ke dasar bumi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Mawar Kusuma



Post Date : 15 Agustus 2008