Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga

Sumber:Kompas - 18 Januari 2004
Kategori:Sampah Jakarta
Hampir di semua sungai di kota-kota besar di Indonesia tidak bebas dari sampah, dari sampah kayu, botol-botol plastik,hingga kasur bisa terlihat mengambang di aliran sungai. Pemandangan semacam itu sebenarnya enak di lihat mata, selain juga menjadi sarang penyakit.

Namun, sebagian warga kota yang melihat hal itu nyatanya bisa bersikap acuh dan memandang sinis terhadap warga yang tinggal di sekitarnya, biasanya daerah kumuh, tempat itu terkumpul. Sebagian orang itu lupa bahwa gunungan sampah tersebut bukan hanya dihasilkan oleh penduduk sekitar, tetapi mungkin juga dirinya meski dia tinggal jauh dari sampah-sampah itu.

Sampah memang sudah menjadi persoalan yang membuat pusing Pemerintah kota. Di Jakarta misalnya, setiap hari sebanyak 6.000 ton sampah diproduksi, dan sebagian besar adalah sampah rumah tangga.

Banyaknya sampah yang diproduksi itu tentu saja tempat pembuangan akhir sampah cepat penuh. Pemerintah kota harus mencari lagi lokasi lain untuk membuang sampah, dan pasti menimbulkan keributan baru dengan warga yang tinggal di sekitar lokasi terpilih. pada umumnya warga tidak bersedia daerahnya dijadikan tempat pembuangan sampah.

Persoalan sampah memang tidak bisa dihapuskan, tapi jika semua warga mau berpartisipasi masalah sampah tidak akan sampai membesar. "Kita memang tidak bisa menghapuskan sampah, tetapi setidaknya kita bisa ikut mengurangi sampah ,"demikian dikatakan Harini Bambang, pemerhati masalah lingkungan dari kelompok Tani Dahlia, Jakarta.

Menurut Harini, mengurangi volume sampah sangat mudah, asalkan ada niat dari masyarakat dan mereka mau melakukanya. Harini sudah mempraktikkannya dan berhasil mengurangi jumlah sampah yang dibuang dari rumahnya.

Bahkan, hampir seluruh warga di sekeliling rumahnya juga sudah melakukan yang sama. Hasilnya, warga mendapatkan penghasilan tambahan dari sampah, memudahkan pemulung mencari barang-barang yang dibutuhkan, dan bisa membantu menjaga kebersihan dan keindahan kota.

SUDAH pengetahuan umum bahwa sampah organik bisa menjadi kompos dan pupuk tanaman. Namun, selama ini masyarakat beranggapan hanya rumah berhalaman luas yang bisa membuat kompos, padahal tidak demikian. Kompos bisa dibuat dengan memanfaatkan ember atau wadah-wadah bekas yang bisa menampung sampah itu.

Caranya, buatlah lubang di dasar ember untuk jalan keluar air yang keluar dari hasil Fermentasi itu. Isilah ember dengan pasir.Kemudian sampah- sampah organik seperti sampah makanan, sisa-sisa rajangan sayuran dimasukkan kedalam ember itu. Selain sampah bisa juga dimasukkan kotoran ternak atau unggas untuk menambah unsur hara. Setelah itu, tutup sampah dengan tanah.Di atas bisa ditambahkan lagi sampah dapur dan tutup kembali dengan tanah.

"Setiap kali fermentasi terjadi, sampah dan tanah akan mengempis sehingga ada sisa tempat untuk ditambahkan sampah dan tanah lagi. Lama proses pengomposan bisa mencapai waktu 2,5 bulan. jika tanah sudah menjadi hitam, berarti pengomposan telah sempurna," harini menjelaskan.

Untuk menghindari lembab, bau busuk, dan lalat, penambahan sampah dapur sebaiknya dilakukan secara bertahap dalan jumlah kecil. jika timbul bau tak sedap, aduklah dan tuang keluar lalu atur campuran kompos. jika ada, tambahkan selapis tanah atau cabikan daun kering, jerami, serta sebuk gergaji.

"Bahan yang tidak di anjurkan untuk pengomposan adalah sisa obat-obatan, salad dreesing, mentega,keju, produk olahan susu, daging, ayam, tulang, minyak serta bahan yang susah terurai seperti gelas, plastik, kertas aluminium, dan sebagainya,"kata Harini.

Kompos yang sudah jadi bisa dijual dengan harga Rp 1.500 per kantong ukuran satu kilogram. Atau jika tidak dijual, warga bisa memanfaatkannya sendiri untuk tanaman peliharaanya.

Selain memanfaatkan sampah dapur menjadi kompos, gerakan menjaga kebersihan dan keindahan kota juga bisa dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan non-organik sejak dari rumah.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari bahan-bahan alam, sedangkan anorganik adalah plastik, gelas, kaleng, dan sebagainya."Untuk sampah batu baterai sebaiknya dikantongkan secara terpisah karena berbahaya, "tegas Harini.

"jika belanja, jangan mau diberikantong plastik karena akan memenuhi sampah plastik di rumah. Gunakan saja tas belanja yang bisa dicuci dan di pakai berulang kali. Selain itu,usahakan membeli makan yang dibungkus daun, bukan yang di bungkus plastik. kita tidak bisa menutup pabrik plastik tetapi kita bisa membantu mengurangi pemakaian plastik,"Harini menambahkan.

Dalam menangani sampah, sebaiknya Anda menggunakan prinsip 4 R, yakni reduce (mengurangi), reuse (pemakaian kembali), recycle (daur ulang), dan replant (penanaman kembali). Mengurangi, artinya berhematlah dalam menggunakan segala sesuatunya. Anda bukan hanya perlu hemat listrik, air, dan bahan bakar, tetapi juga barang-barang lain agar tidak terjadi pemborosan.

Pemakaian kembali, caranya antara lain dengan menyumbangkan barang-barang yang masih layak pakai tetapi sudah tidak digunakan lagi. Atau kembangkan imajinasi dan berkreasilah agar barang bekas Anda bisa menjadi baru dan bermanfaat.

Sementara kegiatan daur ulang yang paling umum dan murah adalah pengomposan dan daur ulang kertas. Untuk penanaman kembali, kompos yang diperoleh dari memanfaatkan sampah dapur dan kebun dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman obat, rempah dapur, buah, dan sayuran. Keempat jenis tanaman ini bisa anda manfaatkan untuk menghijaukan dan menyejukkan pekarangan atau lingkungan di sekitarnya.

"Kunci semua itu hanya satu, yaitu kemauan untuk membuat lingkungan kita semakin baik,"kata Harini.(ARN)

Post Date : 18 Januari 2004