Membangun Kota Sehat di Lokasi Bencana Tsunami

Sumber:Suara Pembaruan - 06 Januari 2005
Kategori:Aceh
GEMPA dan tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah memorakporandakan beberapa tempat, termasuk kota Banda Aceh. Setelah sepuluh hari pascabencana, toko-toko di Banda Aceh sudah mulai dibersihkan pemiliknya, sementara rumah-rumah penduduk belum dibersihkan. Mereka masih tinggal di pengungsian.

Sekalipun di pengungsian, tidak berarti kota atau daerah yang selama ini menjadi tempat tinggal penduduk menjadi kota tanpa penghuni untuk selamanya. Secara bertahap akan dilakukan pemulihan kota maupun daerah yang porak-poranda. Dari pengamatan yang dilakukan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan (PPMPL Depkes), menurut Dr Hening Darpito, yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, banyak hal yang perlu diperbaiki di NAD.

Dari sisi kesehatan lingkungan, misalnya, drainase. Drainase atau selokan di Banda Aceh mengalami beban yang berat karena lumpur. Dari sisi air minum, air yang dikelola perusahaan air minum tidak menjadi masalah. Khususnya di Banda Aceh ada dua unit pengelolaan air PAM. Namun, satu dalam keadaan rusak. Untuk memperbaiki kerusakan, ujar Hening, dua hari lalu diterjunkan ahli perpipaan, ahli kimia untuk mendata pipa yang rusak dan membantu proses pengolahan air minum.

Para ahli itu membawa 20 ton kaporit, 50 ton tawas dan truk tanki air. Sumber air ada di bagian hulu Sungai Kruaeng. Di bagian sungai itu tidak ada mayat manusia maupun bangkai hewan. Hanya yang menjadi masalah adalah dari sisi psikologis. Masyarakat setempat enggan meminum air itu karena mayat bergelimpangan di lokasi bencana. Air di Banda Aceh, kata Heing, layak untuk dipergunakan karena sudah diberi kaporit. Ditegaskannya, masyarakat tidak perlu khawatir bila air minumnya berbau kapoit. Justru air yang bagus itu adalah air yang diberi kaporit.

"Di Banda Aceh tidak kekurangan air. Pemerintah Australia membangun sumur pompa dengan kedalaman 70 meter. Air itu aman untuk dipakai dan pencemaran yang terjadi adalah pencemaran organik. Tanah mampu menyaring dan pencemaran pun tidak berlangsung lama. Air laut yang masuk ke darat kembali ke laut," katanya.

Septic Tank

Dikatakan, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan terjadi pencemaran kimia di lokasi tsunami. Sementara septic tank di rumah-rumah penduduk penuh dengan lumpur. Perlu dilakukan penyedotan, tetapi yang menjadi masalah, kata Hening, adalah tempat pembuangannya.

Yang perlu diwaspadai lagi adalah debu yang muncul di jalan-jalan. Debu itu bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Di sisi lain, sampah semacam kasur, guling, kayu, mobil masih berserakan di rumah-rumah penduduk dan di perkantoran. Hening mengingatkan, bila rumah atau kantor sudah dibersihkan hendaknya didesinfektans.

"Bila tsunami tidak berulang maka lokasi bencana itu layak dihuni. Hanya saja bila akan dibangun kembali harus ditata secara terpadu. Penduduknya jangan terlalu padat agar tidak ada tempat-tempat kumuh," ia menandaskan.

Bencana yang terjadi di NAD, menurut ahli kesehatan lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) Prof dr Haryoto Kusnoputranto SKM DrPH, bisa menjadikan kota-kota yang terkena tsunami menjadi kota sehat, asalkan pemerintah mau menata dan menginvestasikan dana yang cukup. Kota sehat itu dapat diwujudkan dengan membangun kembali kota atau daerah yang porak-poranda. Menurutnya, hal ini merupakan kesempatan yang tepat untuk membentuk kota sehat.

Pasalnya, sangat sulit menjadikan suatu kota yang sudah penuh dengan bangunan dan penduduk padat, semacam kota Jakarta, menjadi kota sehat. Dengan demikian usul memindahkan kota Meulaboh patut dikaji. Memindahkan kota berarti mendirikan kota baru. Beberapa hal yang menjadi alasan Haryoto adalah di kota atau daerah yang terkena tsunami tidak diketahui apakah air tanahnya terkontaminasi atau tidak. Karena belum tentu semua jenazah bisa dievakuasi. Jenazah-jenazah yang tidak dievakuasi itu akan membusuk dan mencemari air tanah. Bila penduduk memakai air sumur yang terkontaminasi, penduduk setempat rawan mengidap berbagai penyakit. Ini terjadi bila air sumur yang dipakai tidak cukup dalam digali.

Disebutkan, jarak jangkauan bakteri secara vertikal mencapai tiga meter dan secara horizontal 10 meter sampai 11 meter. Atas dasar itu kedalaman sumur harus mempertimbangkan jangkauan bakteri itu. Terlebih bila kedalaman kuburan massal kurang dalam. Maka penduduk yang berada di lokasi bencana tidak bisa mengandalkan sumber air tanah.

"Untuk air ledeng yang dikelola perusahaan air minum harus memenuhi persyaratan air minum yang ditetapkan pemerintah. Tetapi kerap terjadi masalah dalam pendistribusiannya. Misalnya pipa bocor. Dalam kondisi porak-poranda di lokasi bencana dan tsunami, tidak bisa dipastikan apakah seluruh pipa yang ada dalam keadaan tidak bocor. Untuk itu air ledeng pun tetap direbus," kata Haryoto.

Syarat Kota Sehat

Menurut Hening, alam mempunyai kemampuan untuk menetralkan diri. Artinya, bila ada hal-hal aneh dari luar, alam bisa menetralisir. Misalnya air sungai di Banda Aceh, yang tadinya banyak sampah, bangkai binatang, kayu, atau mayat bila dibersihkan maka air sungai secara perlahan-lahan kembali pada keadaan semula. Tidak berbau dan warnanya tidak pekat. Karena, dengan mengangkat tumpukan sampah di sungai, beban sungai untuk menguraikan berbagai zat organik lebih ringan.

Sebagian besar sampah yang ada di sungai itu adalah organik yang mudah terurai, sehingga bila sungai tidak segera dibersihkan, sungai akan mengeluarkan bau gas semacam H2S, metan dan amoniak yang menimbulkan bau karena yang terjadi adalah proses anaerob (tanpa oksigen). Hening menjelaskan, gas-gas itu membentuk gelembung dan pecah sehingga proses anaerob berubah menjadi aerob.

Terlepas dari proses penguraian bahan organik dan anorganik itu, yang tak kalah perlu menurut ahli gempa Dr Hery Harjono dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), membangun kembali kota yang terkena tsunami hendaknya mempertimbangkan aspek-aspek geologi. Menurutnya, tidak menjadi masalah bila kota atau daerah tersebut dibangun kembali sekalipun tsunami akan kembali terjadi. Perulangan gempa yang disusul dengan tsunami itu, berdasarkan pengalaman selama ini terjadi ratusan tahun kemudian.

Pembangunan kota harus memperhatikan jenis bangunan, batas-batas area yang bisa dibangun, serta kota tersebut didesain sedemikian rupa sehingga penduduk setempat bisa dengan mudah menyelamatkan diri bila ada tanda-tanda gempa. Untuk kota-kota yang rawan gempa dan tsunami, menurut Haryoto, sistem pembuangan septic tank tidak cocok. Yang diperlukan adalah sistem pengolahan limbah terpadu. Limbah dari rumah tangga dan industri dengan perpipaan yang baik dihimpun di suatu tempat dan diolah. Hal semacam itu sudah diterapkan di negara seperti Australia, Jepang, Singapura.

Hidup di kota yang sehat sangat kita idamkan. Beberapa kriteria kota sehat itu antara lain udara bersih, segar dan nyaman. Air layak minum, pembuangan sampah yang higiene dan saniter, pembuangan limbah yang tidak mencemari lingkungan, prasarana permukiman yang sehat, dan perilaku penduduk yang sehat. Dengan demikian, tidak ada lagi masyarakat yang membuang tinja sembarangan, kendaraan menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan, pembuangan sampah yang higiene (sanitary landfill).

Hal ini sesuai dengan konsep Indonesia Sehat 2010, mayarakat hidup pada lingkungan yang sehat, penduduk berperilaku sehat dan masyarakat bisa mengakses pelayanan kesehatan. Bila konsep kota sehat itu diwujudkan di daerah-daerah yang terkena tsunami, boleh jadi NAD menjadi percontohan kota sehat di Indonesia. (AP/Choo Youn-kong, POOL/N-4)

Post Date : 06 Januari 2005