Meningkatkan Keberlanjutan Pelayanan Air Minum Perkotaan di Asia 2010

Sumber:Majalah Air Minum - 28 Februari 2010
Kategori:Air Minum

JICA (Japan International Cooperation Agency) yang merupakan institusi pelaksana dari Official Development-Assistance (ODA) Pemerintah Jepang, tanggal 20 hingga 22 Januari 2010 menyelenggarakan forum internasional di Yokohama, Jepang, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Yokohama.

Forum ini diadakan di Gedung Konferensi Internasional Yokohama Simposium, Yamashita-cho, Naka¬ku, Yokohama City, Jepang, yang dihadiri oleh para pemimpin- perusahaan air minum dari 9 negara di Asia yaitu dari Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam serta para peserta lain termasuk nara sumber dari Jepang yang berasal dari Lembaga Akademis, organisasi yang terkait dengan pelayanan air minum, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan dari pihak JICA sendiri. Adapun peserta yang mewakili Indonesia pada forum ini adalah Direktur Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karya Departemen PU, Ir Tamin Zakaria Amin, MSc, Ketua Badan Regulator Pelayanan Air Minum Jakarta, Ir. Irzal Djamal Zeiroeddin, Asisten Pembangunan & Lingkungan Setda Kota Jakarta, Ir Handayani Sarwo, Ketua Umum Perpamsi, DR.Ir.H. Syaiful, DEA, Direktur Utama PAM Jaya, Haryadi Priyohutomo dan Staf PAM Jaya, Suhardi.

Tujuan dari forum ini adalah untuk meningkatkan keberlanjutan pelayanan air minum perkotaan di wilayah Asia tahun 2010 dengan membahas masalah-¬masalah tentang pelayanan air minum perkotaan di masing-masing negara peserta sehingga mereka dapat saling belajar dari pengalaman masing-masing untuk dapat diimplementasikan demi peningkatan pelayanan air minum di masing-masing negara peserta.

Para pemimpin masing-masing negara telah melakukan usaha-usaha yang terbaik untuk kemajuan penyediaan air minum dengan berbagai cara sebagaimana yang dikemukakan dalam Forum ini. Bantuan Pembangunan Pemerintah Jepang atau Japanase Official Development Assistant (ODA) telah diperluas ke sektor air minum perkotaan melalui pinjaman ODA dan proyek-proyek kerja sama teknis, yang saat ini kedua-duanya ditangani oleh JICA sejak Oktober 2008. Perusahaan Daerah Air Minum Jepang bersama-sama dengan pemerintah dan lembaga akademis telah bekerjasama dalam proyek-proyek ODA Jepang. Semua peserta Forum termasuk peserta dari Jepang sangat berharap penyedian air minum bagi masyarakat dapat difasilitasi secara berkelanjutan di setiap negara dengan memanfaatkan semua usaha yang telah mereka lakukan selain dari proyek-proyek ODA Jepang.

Pada hari terakhir Forum, para peserta sepakat untuk menyampaikan kepada semua stakeholder yang terlibat dalam sektor air minum tentang masalah-masalah yang dibicarakan pada forum ini, berikut langkah-langkah dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Kesepakatan ini dituangkan ke dalam 12 Pernyataan yang disebut dengan Pernyataan Forum Yokohama.

12 Pernyataan Forum Yokohama

1. Dengan pertumbuhan penduduk perkotaan yang sangat cepat saat ini, pelayanan air minum perkotaan menghadapi banyak tuntutan masyarakat yang harus diselesaikan, tidak hanya oleh perusahaan air minum tetapi juga harus didukung oleh komitmen yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah.

2. Target kita adalah untuk mengubah sistem pelayanan dari "siklus pelayanan yang buruk" ke "siklus pelayanan yang baik" yang terdiri dari investasi, ketersediaan dan kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, keandalan, pendapatan, operasi dan pemeliharaan. Hal ini menunjukkan tentang pentingnya pengembangan sumber daya manusia mulai dari manajer puncak sampai dengan pegawai tingkat bawah dengan motivasi dan visi yang jelas.

3. Pengalaman Jepang pada mekanisme subsidi nasional dan kontrak lokal sistern penyediaan air minum, perundang¬-undangan untuk suplai air bersih, standarisasi kualitas air dan seterusnya di paparkan untuk dipertimbangkan oleh peserta, meskipun juga dipahami bahwa cara perbaikan di setiap negara mungkin berbeda antara satu dengan negara lainnya.

4. Biaya untukpenanganan Non Revenue Water (NRW) terbukti lebih ekonomis daripada biaya untuk pengembangan sumber daya air baru, target tingkat NRW ditetapkan dengan tepat untuk tiap daerah sehingga para pelanggan mau membayar sesuai dengan pemakaian.

5. Masalah air minum untuk masyarakat miskin harus dipertimbangkan tidak hanya dari sudut pandang teknis, tetapi juga dari aspek sosiologis untuk kesejahteraan rakyat. Mobilisasi penduduk perkampungan kumuh dan kerjasama dengan LSM bisa menjadi pilihan dalam penyediaan pelayanan air minum di seluruh masyarakat perkampungan kumuh, meskipun biaya sambungan tetap menjadi sebuah masalah yang harus diatasi. Seorang peserta berkomentar bahwa JICA bisa lebih terlibat dalam bidang penanggulangan kerniskinan dalarn rangka untuk membawa hasil yang lebih baik.

6. Masing-masing negara telah berusaha untuk menetapkan sistem tarif air minum yang adil dan sesuai yang akan diterima oleh semua pihak. Seorang peserta mengatakan bahwa pemahaman pelanggan adalah penting untuk memahami tentang subsidi, meskipun mungkin membutuhkan infrastruktur yang lebih baik. Cara kemitraan pemerintah-swasta diteliti secara hati-hati apakah kemitraaan itu sesuai dengan latar belakang sosial¬ budaya dari daerah tersebut karena dapat secara langsung mempengaruhi pelayanan ke pelanggan. Disarankan indikator kinerja diterapkan untuk kontrak konsesi.

7. Volume persediaan air sudah sangat meningkat di wilayah Asia. Fokusnya sedikit demi sedikit beralih pada kualitas. Dipahami bahwa "Rencana Keselamatan Air" WHO telah memberikan kontribusi terhadap pengelolaan kualitas air mulai dari sumber air baku sampai dengan kran air pelanggan. Air bersih yang disediakan rnelalui jaringan distribusi air yang sesuai standar adalah penting untuk kesehatan kita termasuk proses disinfeksi.

8. JICA menangani dana pinjaman, bantuan hibah dan kerjasama teknis, JICA adalah suatu lembaga bantuan yang mampu melaksanakan program pembangunan secara lancar dari tahap survei sampai dengan pelaksanaan tanpa menghiraukan apakah program tersebut berasal dari hibah atau pinjaman

9. Program JICA untukpengem¬bangan sumber daya manusia harus diperkuat dengan saling pengertian untuk mengatasi kebutuhan sektor air minum yang terus meningkat di wilayah Asia. Disarankan agar program yang dilaksanakan saling terkait dengan proyek-proyek yang sedang berjalan. Hal ini menegaskan kembali bahwa pengembangan sumber daya manusia adalah sangat diperlukan untuk dibahas dalam menangani setiap permasalahan yang kita hadapi.

10. Masalah sanitasi juga penting untuk menjadi pertimbangan sehubungan dengan pencapaian target MDGs.

11. Forum menyimpulkan untuk mendorong kemitraan dan dialog terus-menerus antar wilayah secara interaktif, dari tingkat kebijakan untuk proyek, tidak hanya pemerintah-ke¬pernerintah, tetapi juga pemerintah¬ke-perusahaan domestik dan juga perusahaan ke perusahaan internasional. Semua stakeholder termasuk asosiasi perusahaan bergabung dalam suatu kernitraan.

12. Diusulkan agar Forum dapat bertemu lagi dalam waktu dekat dengan menyampaikan hasil pelaksanaan dari apa yang dibahas pada Forum ini.

M. Azharuddin, PDAM Kota Palembang



Post Date : 28 Februari 2010