Menipis, Pasokan Obat Diare dan ISPA bagi Pengungsi

Sumber:Kompas - 11 Januari 2005
Kategori:Aceh
Bireuen, Kompas - Sekitar 21.732 pengungsi korban tsunami di Kabupaten Bireuen yang setiap hari menyaksikan hilir mudik angkutan bantuan kemanusiaan menuju Banda Aceh ternyata masih kekurangan berbagai kebutuhan obat- obatan, terutama untuk mengatasi penyakit diare dan gangguan pernapasan.

Pemantauan Kompas di berbagai kamp pengungsian di Kabupaten Bireuen, Minggu (9/1), para petugas paramedis masih mengeluhkan berbagai kekurangan pasokan obat-obatan.

"Kami walaupun berada di tepi jalan, tapi masih kekurangan obat-obatan, terutama untuk antibiotik, obat diare, dan obat untuk sesak napas atau ISPA (infeksi saluran pernapasan atas)," kata Fadliyah, petugas paramedis dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Samalanga yang melayani para pengungsi di Batee Ilik, Samalanga.

Hingga kini masih banyak pengungsi yang menderita gangguan pernapasan. "Umumnya mereka mengeluhkan sesak napas, sedangkan kami di sini tidak punya sama sekali obat untuk sesak napas itu," kata Cut Mutia Fatihati, petugas paramedis lainnya.

Abdullah, relawan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aziziyah Samalanga, mengatakan, ada 927 pengungsi di Samalanga saat ini yang masih membutuhkan bantuan dasar. Sebanyak 146 jiwa di antaranya adalah anak-anak balita (bawah lima tahun).

Saat ini sangat dibutuhkan makanan bayi, pakaian bayi, dan pakaian dalam perempuan. "Selama ini yang menyumbang untuk pakaian bayi dan pakaian dalam sedikit," kata Sayuti.

Muhammad Amin, warga Desa Panterheng, Samalanga, mengatakan, di pengungsian Samalanga warga hanya mendapat beras satu cangkir per jiwa per hari.

Bupati Bireuan Mustafa A Glanggang mengatakan, hingga kini memang masih banyak pengungsi di Bireuen. "Masih ada 21.732 pengungsi di 28 titik pengungsian yang membutuhkan bantuan," katanya.

Menu monoton

Para pengungsi juga mengeluhkan menu makanan yang monoton, yang didominasi mi instan dan telur. Ini mengakibatkan anak-anak menjadi rentan penyakit dan terserang mencret.

Anak-anak di Batee Ilik mengatakan, "Banyak yang mencret, mereka tiap hari makannya mi instan dan telur," kata Fadliyah. (AMR)

Post Date : 11 Januari 2005