Menjauhkan Saluran Air dari Kotoran Manusia

Sumber:Kompas - 02 Februari 2012
Kategori:Sanitasi
Berada di dataran tinggi, warga Wonosobo, Jawa Tengah, masih ”dimanjakan” dengan air yang terus-menerus mengalir di parit, selokan, dan sungai. Sayangnya, aliran ini dimanfaatkan warga untuk membuang kotoran manusia dari rumah langsung ke selokan.
 
Saat musim kemarau, debit aliran air mengecil dan menimbulkan masalah bagi warga Desa Jaraksari yang berada di dataran paling rendah. Akumulasi kotoran manusia dari berbagai penjuru Wonosobo tertumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap.
 
Pemerintah Kabupaten Wonosobo berusaha mengatasi ini dengan perlahan mengubah perilaku warga melalui penyediaan septic tank komunal. Sebagai program pionir, tempat pembuangan kotoran manusia ini difokuskan pada permukiman padat di pusat kota.
 
Tak mudah mengubah perilaku. Ada penolakan masyarakat yang sudah telanjur nyaman akan kebiasaan turun-temurun membuang kotoran di selokan bersama limbah dapur dan air cucian. Warga menolak jika ada pembongkaran (meski sebagian kecil) rumah mereka untuk memisahkan saluran kotoran manusia serta air limbah cucian dan rumah tangga.
 
Untuk mengatasi, tidak bisa hanya menggunakan septic tank biasa karena akan cepat penuh. ”Kami menggunakan septic tank susun berukuran besar (lebih dari 20 meter persegi). Ada penampungan dan sekat-sekat untuk memperlambat aliran air,” kata Dani Ardiansyah, Fasilitator Lapangan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonosobo.
 
Bersama rekannya, VH Sri Wahyuni, ia menuturkan, kisah sukses kabupaten yang terkenal dengan buah karika dan tanaman herbal purwaceng itu sehingga menjadi pemenang Indonesia MDG Award 2011 kategori peserta Pemerintah Daerah dengan tema ”Sanitasi dan Air Bersih”.
 
Program septic tank komunal dikembangkan sejak tahun 2010 melalui dana alokasi khusus sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Dengan dana APBD dari pos bantuan langsung masyarakat sekitar Rp 869,6 juta, dibangun delapan septic tank dan dua sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Wonosobo Barat dan Wonosobo Timur. Ini bisa melayani 432 keluarga.
 
Tahun 2011, pemerintah daerah meningkatkan alokasi dana hingga Rp 1,57 miliar untuk pembuatan 22 septic tank dan enam sarana MCK di Wonosobo Barat, Wonosobo Timur, Mlipak, dan Jarak Sari. Selain anggaran pemkab, kegiatan ini juga didukung PT Tirta Investama (melalui program tanggung jawab sosial perusahaan) sejumlah Rp 250 juta untuk membangun lima septic tank komunal dan sebuah MCK di Kejiwan.
 
Dalam pembangunannya, kegiatan ini mendapatkan pendampingan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan. Program pada tahun 2012 ini melayani 668 keluarga (2.498 jiwa).
 
Ditargetkan, tahun 2015, saat berakhirnya program Tujuan Pembangunan Milenium/MDGs, program ini akan mencakup 90 RW di areal pusat kota yang didiami lebih dari 10.000 jiwa. Saat ini baru mencapai tujuh RW dan baru sekitar 30 persen warga Wonosobo terlayani sanitasi.
 
Rencana dan proses pembangunan dilaksanakan masyarakat melalui panitia kemitraan. Idealnya, pengurasan dilakukan setiap dua tahun oleh kelompok pemanfaat dan pemelihara dari pengguna septic tank.
 
Karena keterbatasan lahan, septic tank komunal yang berukuran besar di beberapa wilayah dibangun di bawah jalan kampung. Dengan struktur tulang beton, septic tank ini mampu dilewati kendaraan bermotor.
 
Saluran masuk septic tank merupakan hilir dari pipa-pipa dari rumah di berbagai penjuru. Tantangannya adalah mengubah kebiasaan warga yang gemar membuang sampah ke saluran pembuangan air.
 
”Ini adalah sistem pemipaan yang saling tersambung dari rumah ke rumah. Kalau mampat satu titik, bisa menyebabkan mampat di rumah lain. Mengubah perilaku ini yang terus- menerus kami lakukan,” kata Sri Wahyuni.
 
Septic tank komunal ini diharapkan mampu membersihkan selokan dari limbah kotoran manusia yang banyak mengandung bakteri E coli penyebab diare. Menjaga kebersihan saluran air ini juga ditujukan untuk menjaga kesehatan masyarakat setempat. (ICH)


Post Date : 02 Februari 2012