Mereka Itu Pahlawan Penyalur Air Bersih

Sumber:Kompas - 14 Januari 2013
Kategori:Air Minum
Supendi (36), Amak Rozandi (38), dan Amak Juaini (60) tengah meneliti tumpukan pipa di halaman rumah Ustaz Zuhri di Dusun Bawaknao Daye, Desa Sajang, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. ”Ini kami gunakan untuk melengkapi kekurangan dan mengganti pipa instalasi air bersih yang rusak dan kurang. Target kami, air bisa masuk ke desa. Soal dana dan lain-lain dipikirkan sambil jalan,” tutur Zuhri, ketua pengelola air minum masyarakat di desa itu, pekan lalu.
 
Perkataan Zuhri dibuktikan dengan tumpukan pipa sumbangan Yayasan Peduli Masyarakat (YMP). Sejak tahun 2009 YMP melakukan pendampingan proyek pengadaan air bersih di desa itu.
 
Mengalirnya bantuan itu membuat warga semakin bergairah dan sadar bahwa partisipasi dan inisiatif menjadi faktor dominan agar desa mereka bisa mandiri. Buktinya, kini warga gotong royong menyempurnakan bak reservoir di ketinggian 1.250 meter, dari titik ketinggian sumber air 1.669 meter dan bak pelepas tekanan di ketinggian 1.345 meter. Fasilitas ini terwujud berkat peran warga.
 
Instansi pemerintah sempat ”angkat tangan”. Pertimbangannya, medan yang dihadapi untuk pemasangan instalasi air sangat ekstrem, yakni batu cadas dengan kemiringan 90 derajat. ”Dengan tingkat kesalahan 0,1 persen, taruhannya nyawa. Jatuh,” ujar Saeful, pegawai Perusahaan Daerah Air Minum Lombok Timur, yang bertugas menyambung pipa sebelum dipasang.
 
Proyek pemipaan itu diperkirakan membutuhkan biaya Rp 5 miliar. Dengan semangat bersama, proyek itu bisa selesai hanya dengan Rp 768 juta, selain biaya material dan tenaga yang semuanya sumbangan warga. Warga yang menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia juga memberikan bantuan Rp 40.000 per orang karena tak hadir saat gilirannya bekerja.
 
Partisipasi warga ditunjukkan setahun terakhir. Jika terjadi gangguan di hulu, warga urunan uang semampunya untuk upah warga yang memperbaiki instalasi itu. Warga yang memperbaiki pipa mendapat upah Rp 100.000 per orang. Jika harus menginap, upahnya Rp 150.000 per orang.
 
Uang itu tidak seberapa besar jumlahnya dibandingkan nikmat memperoleh air bersih. Supendi, yang juga Kepala Dusun Bawaknao Lauk, tak pernah membayangkan air bersih masuk ke desanya. Supendi termasuk 14 warga yang bertugas mencari sumber mata air. Mereka menelusuri semak-belukar, membuka jalan setapak, dan menandai tempat pemasangan pipa.
 
Melihat medan tempuh, hati Supendi sempat ciut. ”Hanya angin yang bisa lewat di situ,” ujarnya melukiskan tingginya tebing yang harus dipanjat. Supendi mengaku pernah menangis. ”Inilah untuk pertama dan terakhir kali saya ke sini,” ucapnya.
 
Terkadang mereka menancapkan kayu sebagai pegangan memanjat karena tumbuhan gampang tercerabut dari tebing. ”Dari ketinggian, aliran air Koko Putik terlihat sebesar pipa,” kata Amak Rozandi.
 
Kokok Putik adalah sungai (kokok) yang airnya berwarna putih karena pengaruh belerang di batas wilayah Lombok Timur dan Lombok Barat. Kondisi ini diperburuk oleh cuaca dingin berkabut dengan jarak pandang sekitar 0,5 meter. Lintah juga menyedot darah bagian kaki para pekerja itu.
 
Empat hari
 
Setelah empat hari berjalan di hutan, ditemukan lokasi sumber air berkapasitas 15 liter per detik meski yang baru dimanfaatkan 6,5 liter per detik. Pekerjaan dilanjutkan dengan pemasangan pipa. Setiap hari pipa terpasang sepanjang 24 meter pada tebing. Jarak ini lebih pendek dibandingkan pemasangan pipa di area datar, yakni 50 meter sehari.
 
”Saya gantung diri di ketinggian tebing 5 meter,” kisah Amak Juani. Ia menjadi pekerja dadakan penyambung pipa. Selama ini ia menjadi pekerja serabutan dan kerap keluar-masuk hutan berburu menjangan.
 
”Sudah jadi pekerja dadakan, takut ketinggian pula,” kata Amak Rozandi yang takut ketinggian. Tangan dan kakinya gemetar saat memasang pipa. Ketakutan di awal kerja itu lambat laun sirna. (KHAERUL ANWAR)


Post Date : 14 Januari 2013