Mereka yang Masih Peduli Alam

Sumber:Koran Jakarta - 05 Juni 2009
Kategori:Lingkungan

“Save money, environment, energy”. Seruan itu melekat di kaos hitam yang dikenakan aktivis lingkungan hidup, Mark Dunias, saat menjadi pembicara dalam talk show bertema “Bersama Menjaga Bumi dari Perubahan Iklim” di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada (30/5).

Bukan tanpa maksud Dunias mengenakan kaos dengan tulisan yang terkesan mengajak orang untuk menghemat uang, menyelamatkan lingkungan, dan menghemat energi itu. Tiga bentuk ajakan itu merupakan salah satu upaya untuk mengerem laju perubahan iklim.

Mengerem laju perubahan iklim memang menjadi salah satu fokus kegiatan yang diusung Dunias dan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas GreenLifestyle. Komunitas yang terbentuk sejak Juni 2007 itu memiliki semangat saling berbagi informasi dan berdiskusi mengenai hal-hal praktis yang bisa dilakukan setiap individu untuk bergaya hidup ramah lingkungan.

Komunitas yang memiliki 1.050 anggota (per Mei 2009) itu cukup aktif mengampanyekan pentingnya pola hidup yang selaras dengan lingkungan melalui dunia maya. Mereka yang bergabung dalam milis greenLifestyle@googlegroups.com itu berasal dari berbagai daerah, mulai dari ujung Banda Aceh hingga Jayapura. “Latar belakang anggota komunitas ini pun beragam, mulai dari remaja yang duduk di sekolah lanjutan (SMP) hingga kaum profesional,” kata Dunias.

Dunias mengaku sejak aktif menjadi moderator milis, banyak informasi yang telah membantu mengubah gaya hidupnya menjadi lebih ramah lingkungan. Salah satunya adalah mengurangi konsumsi daging. Berdasarkan penelitian, mengonsumsi daging seberat satu kilogram dapat menghasilkan 36,4 kilogram emisi karbondioksida.

Hal itu dikarenakan untuk pemeliharaan dan transportasi, sepotong daging membutuhkan energi yang setara dengan energi untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama tiga pekan.

Gaya hidup lainnya yang juga kini mulai ia terapkan adalah menghemat pemakaian listrik dan air di dalam rumah. Selain berbagi informasi melalui email, kata Dunias, komunitas GreenLifestyle dalam dua tahun terakhir ini telah melakukan kopi darat sebanyak empat kali. Kesempatan itu biasanya digunakan untuk melakukan kunjungan ke suatu tempat dengan tujuan melihat secara langsung upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah tempat pengolahan sampah menjadi kompos. “Dalam waktu dekat kita akan melakukan kunjungan ke pengolahan sampah secara elektronik di Bogor,” ujar Dunias.

Komunitas lain yang juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan adalah Jakarta Green Monster (JGM). Komunitas itu terbentuk karena rasa peduli atas ancaman rusaknya ekosistem mangrove di pesisir utara Jakarta.

Menurut salah satu pendiri JGM Hendra Michael Aquan, alasan JGM memfokuskan upaya pelestarian di suaka margasatwa muara angke (SMMA) adalah kawasan itu terletak di pertemuan dua sungai besar, yaitu Ciliwung dan Angke.

“Bila di kawasan itu tidak ada yang peduli, maka kelestariannya akan terancam sampah plastik yang sebagian besar berasal kegiatan domestik rumah tangga,” papar Hendra. Di kawasan itu, tampak sampah rumah tangga mendominasi hingga 95 persen, sedangkan sisanya berupa sampah nonplastik seperti kayu, karet, dan bambu.

Untuk membersihkan sampah-sampah yang mengotori kawasan itu, JGM memiliki program bulanan. Pada 19 April 2009, bertepatan dengan Hari Bumi, sekitar 210 anggota komunitas membersihkan sampah-sampah yang terserak pada luasan 250 meter persegi. Kala itu, sampah yang berhasil diangkat sekitar dua ton sampah. “Dengan bersihnya kawasan itu dari sampah, hutan mangrove dan beberapa spesies di kawasan SMMA pun akan terjaga kelestariannya,” ujar Hendra. awm/L-2



Post Date : 05 Juni 2009