Muntaber Mulai Menyerang

Sumber:Jawa Pos - 08 Juli 2008
Kategori:Sanitasi

JEMBER - Wabah diare disertai muntah menyerang warga Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari Jember. Akibat serangan itu, dua warga meninggal sedangkan lima di antaranya harus mendapat perawatan intensif di puskesmas dan RSUD. Sementara belasan lainnya harus menjalani rawat jalan.

Dua korban meninggal itu masing-masing Sulami, 70, dan Sirad, 60. Sirad meninggal setelah empat jam terserang diare disusul Sulami beberapa jam kemudian. "Sebelum meninggal, keduanya ini muntah-muntah dan terus-terusan buang air besar," kata Toli salah seorang warga setempat, kepada Erje kemarin.

Setelah jatuh dua korban, jumlah penderita kian banyak hingga mencapai belasan. "Hampir setiap rumah di sini ada yang sakit. Apakah itu dua orang atau lebih," kata Bambang, warga lainnya. warga yang tergolong parah langsung dilarikan ke puskesmas dan RSUD terdekat. Data yang berhasil dihimpun Erje, para korban muntaber itu tersebar di beberapa puskesmas. Tiga orang dirawat di Puskesmas Bangsalsari, dua dirawat di Puskesmas Rambipuji dan seorang penderita dirawat di RSUD Balung. "Sampai saat ini ada enam kasus yang sudah dirawat di puskesmas maupun rumah sakit," kata dr Koeshar Yudyarto, dokter Puskesmas Bangsalsari, kemarin.

Sejatinya, wabah ini terjadi sejak beberapa hari lalu namun baru diketahui (4/7) setelah jumlah korban terus bertambah. Bahkan sampai hari kemarin, jumlahnya itu kian membengkak, banyak korban yang harus mendapat perawatan intensif.

"Sekarang setiap hari sedikitnya ada dua orang yang jatuh sakit," kata Yasin salah seorang warga yang lain. Kondisi mereka yang terserang muntaber ini sangat lemas. "Rasanya lemas mau makan selalu muntah. Kemudian buang air tidak pernah berhenti. Saya sampai tidak bisa tidur dan sekarang sangat lemas," kata Elik salah seorang korban.

Kondisi ini dialami sudah sejak beberapa hari lalu namun Elik mencoba untuk bertahan. Sampai akhirnya dia pun tidak kuat hingga harus dirawat ke Puskesmas Bangsalsari.

Selain itu, dari sebagian besar penderita itu juga tidak bisa menelan makanan, setiap kali perutnya diisi selalu muntah. Apa pun makanan dan minuman yang masuk selalu dimuntahkan.

Terkait dengan masalah itu Humas Dinas Kesehatan Pemkab Jember Yumarlis di lokasi kejadian menyatakan, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui penyebab wabah penyakit ini menyerang. Sebab saat ini pihaknya masih mengambil beberapa sample untuk bahan uji laboratorium. "Kami belum tahu secara pasti, ada kemungkinan karena faktor Hibrio collera. Tapi kami masih melakukan uji laboratorium," katanya.

Sedangkan sample yang diambil itu antara lain kotoran penderita, muntahan penderita, air sumur, air sungai, dan beberapa sample lain.

Namun dari hasil observasi lingkungan, penyebab wabah diare ini karena perilaku tidak sehat yang ada di masyarakat itu sendiri. Mereka kebanyakan tidak memiliki jamban dan mandi, cuci, buang air di sungai.

"Sehingga bakteri penyakit itu menyerang seluruh warga dusun. Apalagi kondisi saat ini kemarau. Di mana debit air sungai mulai menurun, sehingga tingkat kepekatan air semakin tinggi," kata Gunawan, Kasi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Pemkab Jember di lokasi kemarin.

Dirikan Posko, Tetapkan Kondisi Siaga

Sementara itu banyaknya korban yang berjatuhan ini membuat seluruh elemen turun tangan. Kemarin Camat Bangsalsari Drs Syafii bersama muspika menetapkan kondisi siaga untuk wabah penyakit yang menyerang warga Dusun Sumberjajar, Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari.

Tak hanya itu, sebagai upaya menyelesaikan masalah itu, pihak kecamatan bersama dinas kesehatan mendirikan posko kesehatan di dusun tersebut. "Ketika kami mendengar ada yang meninggal dan korban banyak berjatuhan, langsung menyiagakan petugas dan mendirikan posko kesehatan," kata Syafii, kemarin.

Selain itu, pihaknya juga mengerahkan ratusan relawan dari berbagai elemen. Mereka ada dari jajaran pemerintah sebanyak 150 orang sedangkan lainnya dari petugas kesehatan. Kemudian dalam posko itu juga menyertakan satu unit mobil pelayanan kesehatan keliling.

Rencananya mobil itu akan terus dipasang sampai kondisi benar-benar stabil. Tidak ada korban yang jatuh sakit. "Dari hasil keputusan, posko ini didirikan sampai dua kali masa inkubasi. Namun kita lihat perkembangan lebih lanjut jika korban bertambah, maka pelayanan waktu pelayanan ini akan kami tambah juga," katanya.

Tak hanya memberikan pelayanan kesehatan, puluhan petugas kesehatan bersama dengan petugas kecamatan juga turun ke lokasi. Selain mengobati mereka juga mensterilkan lingkungan yang ada.

Salah satunya dengan memberi kaporit ke sumur-sumur warga. Ini dilakukan untuk memutus rantai penyakit. Sebab tidak menutup kemungkinan, penyakit itu juga datang dari sumur-sumur warga. "Kami juga memberi kaporit ke dalam sumur-sumur warga. Ini untuk memutus rantai penyakit agar tidak sampai menular ke yang lain," kata Syafii lagi.

Kemudian aksi yang dilakukan mereka juga mengumpulkan warga yang ada di lokasi tersebut. Mereka diberi penyuluhan tentang perilaku hidup sehat. Dan mereka diminta tidak menggunakan sungai sebagai pemenuh MCK.

Sejak posko dan mobil pelayanan ada di tempat itu, warga pun langsung menyerbu untuk berobat. Bahkan dari mereka ada yang harus dirujuk ke Puskesmas Bangsalsari karena kondisinya sangat kritis. (rid/jum)



Post Date : 08 Juli 2008