PAMSIMAS Desa Randu Muktiwaren Kabupaten Pekalongan - Wujud Komitmen Pemda Dalam Program Pemberdayaan

Sumber:Sumber : Buletin Cipta Karya Edisi Nopember 2009.
Kategori:Air Minum

Siapa yang tidak gerah jika dianggap sebagai ’biang’ penghambat laju pencapaian. Apalagi jika yang dianggap seperti itu adalah program yang diusung bersama oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, bahkan dunia internasional melalui Bank Dunia.

Program pemberdayaan memerlukan ketekunan sendiri karena terkait dengan edukasi kepada masyarakat. Dengan pemberdayaan, kita mengajari masyarakat untuk menentukan kebutuhannya sendiri, menyusun program sendiri, setelah itu masyarakat mampu melaksanakan dan mengelola infrastruktur yang dibangun oleh mereka sendiri. ”Saya sedih jika orang cipta karya berkata seperti itu”, keluh Budi.

Salah satu program pemberdayaan milik Ditjen Cipta Karya adalah Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) atau juga dikenal dengan WSLIC-3. Program ini merupakan salah satu program dan aksi nyata pemerintah (pusat dan daerah) dengan dukungan Bank Dunia untuk meningkatkan penyediaan air minum, sanitasi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama dalam menurunkan angka penyakit diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui air dan lingkungan.

PAMSIMAS bergerak dalam ruang lingkup kegiatan yang meliputi :

1.      Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan lokal;
2.      Peningkatan kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat serta pelayanan sanitasi;
3.      Penyediaan prasarana air minum dan sanitasi umum;
4.      Insentif desa/kelurahan dan kabupaten/kota;
5.      Dukungan pelaksanaan dan manajemen proyek.
 
Program ini dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat melalui pelibatan seluruh masyarakat dan tanggap
terhadap kebutuhan masyarakat (demand responsive approach). Kedua pendekatan tersebut dilakukan melalui proses
pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan prakarsa, inisiatif, dan partisipasi aktif masyarakat dalam memutuskan,
merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengoperasikan dan memelihara sarana yang telah dibangun, serta
melanjutkan kegiatan peningkatan derajat kesehatan di lingkungan masyarakat dan sekolah.
Usai mengunjungi pelaksanaan program pemberdayaan di Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Desa Randu Muktiwaren, Kecamatan Bojong, Budi Yuwono mengajak semuanya bercermin. ”Mereka berusaha keras mewujudkan desa mereka sebagai tempat hunian yang baik dan layak. Tepat sekali jika mereka mengusung motto ’Balik Desa, Bangun Desa’, kata Budi.
 
PAMSIMAS Desa randu Muktiwaren
            Kabupaten Pekalongan dibagi dalam 19 wilayah kecamatan yang terdiri dari 283 desa/kelurahan dengan total luas keseluruhan 836,13 km2. pada akhir 2006 jumlah penduduk mencapai 891.442 jiwa dengan kepadatan penduduk 1066 jiwa/km2. Pada tahun 2006 rata-rata hujan di wilayah Kabupaten Pekalongan 2.759 mm, lebih rendah dibandingkan tahun 2005 yang mengalami rata-rata curah hujan 2.817 mm, sedangkan rata-rata hujan tahun 2006 adalah 120 hari.
            Desa Randu Muktiwaren Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan memiliki enam dusun. Potensi air yang bisa digunakan adalah air sumur dalam dengan kedalaman sekitar 130 meter. Desa ini beriklim tropis dengan curah hujan sedang. Perkembangan penduduk Desa Randu Muktiwaren selama dua tahun terakhir yaitu 2006 dan 2007 mengalami perkembangan sebesar 0,9% dari total 3.620 jiwa (2006) menjadi 3.652 jiwa (2007), sedangkan jumlah kepala keluarga mengalami perkembangan sebesar 8% dari total KK tahun 2006 sebesar 921 KK menjadi 955 KK pada 2007.
            ”Program PAMSIMAS jangan dianggap hanya program air minum biasa. Tapi dibalik itu ada media pembelajaran dimana masyarakat harus dilibatkan dalam program tersebut. Program ini adalah dari, oleh dan untuk masyarakat. Pengalaman tahun pertama dan kedua Program PAMSIMAS harus dijadikan pembelajaran dan evaluasi supaya dalam tahun berikutnya lebih bermanfaat,” kata Budi Yuwono.
            PAMSIMAS di Kabupaten Pekalongan dimulai pada tahun 2008 dengan menyasar Sembilan desa, yaitu Paninggaran, Sukoharjo, Kesesi, Randumuktiwaren, Rowolaku, Sastrodirjan, Sawangan, Pasanggrahan, dan tegaldowo. Sedangkan pada tahun 2009 PAMSIMAS dilakukan pada 15 desa dengan rata-rata membangun broncapturing dan sumur dalam. Status saat ini sebanyak sepertiganya sudah berfungsi, dan sisanya sudah di atas 75%.
            Biaya pembangunan untuk tiap desanya mencapai angka Rp.275 juta. Biaya itu didapat dari hibah Bank Dunia yang diteruskan melalui APBN sebesar 70%, sharing dana APBD atau yang sekarang dikenal dengan Dana Daerah untuk Program Bersama (DDUPB) sebesar 10%, dari masyarakat 20% yang diwujudkan berupa uang tunai Rp.11 juta (4%0 serta tenaga dan material Rp.44 juta (16%). Beruntung masyarakat memiliki Bupati Pekalongan seorang perempuan yang peduli kesehatan masyarakatnya. Bupati Siti Qomariyah mengalokasikan dana pendampingan lebih besar (dua kali lipat) dari yang ditetapkan, yaitu sebesar Rp.58 juta (20%).
            Ada beragam kebutuhan masyarakat di desa-desa di atas terhadap bantuan pemerintah melalui PAMSIMAS, ada yang membangun broncapturing, ada yang tapping PDAM, ada juga yang membuat sumur dalam. Khusus di Desa Randumuktiwaren, sebelumnya masyarakat menggunakan sumur dangkal dengan kualitas air berwarna dan berbau.
            Dengan jumlah penduduk sekitar 3.626 jiwa (995 KK) yang menempati wilayah seluas 380,4 ha, masyarakat membutuhkan sistem penyediaan air minum yang lebih baik lagi. Dengan PAMSIMAS, mereka membuat sumur dalam 90 meter dan menara air kapasitas 18 m3. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga membangun jaringan pipa sepanjang 9.242 meter dan 10 unit keran umum.
            Untuk menjamin keberlanjutan pembangunan dan pemanfaatan prasarana dan sarana yang dibangun, masyarakat kemudian membentuk Badan Pengelola Sarana (BPS). Berkat ketekunan BPS dan kerjasama masyarakat, tak lama kemudian berhasil mengembangkan sebanyak 151 sambungan rumah (SR). Hingga 21 Nopember 2009 lalu, saldo kas BPS masih mencatatkan angka Rp.17 juta lebih. Ck (bcr)
 
Sumber : Buletin Cipta Karya Edisi Nopember 2009.


Post Date : 09 Februari 2010