PD Kebersihan Bandung Membidik 31 Lokasi TPA

Sumber:Suara Pembaruan - 15 Juni 2006
Kategori:Sampah Luar Jakarta
[BANDUNG] Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung membidik 31 lokasi dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah permanen. Dari ke-31 lokasi tersebut, tidak ada satu pun yang terletak di Kota Bandung, melainkan tersebar di Kabupaten Bandung, Sumedang, Garut hingga Purwakarta. Dibutuhkan lahan 20 hektare (ha), lima ha untuk pabrik pengelola sampah dan sisanya untuk penghijauan.

Hal itu dikatakan Kepala PD Kebersihan Kota Bandung, Awan Gumelar di Bandung, Rabu (14/6). Saat ini, pihaknya masih terus mencari lokasi terbaik dengan resistensi rendah dari warga sekitar untuk menentukan lokasi TPA. Pasalnya, selama satu tahun ini, pencarian TPA itu terus mendapatkan protes dari warga sekitar yang akhirnya menggagalkan penentuan lokasi. Lokasi ideal untuk TPA baru adalah yang jaraknya tak terlalu jauh dari Kota Bandung sehingga bisa menekan ongkos solar.

Pengangkutan sampah dari Kota Bandung, masih terus dilakukan ke lahan milik PTPN VIII di Blok Gedig, Sarimukti, Cipatat. Lahan sekitar 21 ha itu menurut perkiraan mampu menampung sampah kota hingga lima tahun mendatang. Namun lahan itu tidak bisa digunakan terus karena merupakan lahan yang diperuntukan untuk perkebunan.

Awan menyatakan untuk mengelola sampah kota yang rata-rata 7.500 meter kubik atau 2.500 ton per hari, sejak September 2005, pemerintah kota sudah menunjuk PT Bandung Raya Indah Lestari (BRIL). Ke depan, konsep penanganan sampah Kota Bandung akan berbentuk reduce, re-use dan recycle.

Sementara itu, Walikota Bandung, Dada Rosada mengaku tidak terlalu sepaham dengan penanganan sampah yang ditawarkan Provinsi Jawa Barat. Di mana pihak provinsi sudah mengikatkan penanganan dan pengelolaan sampah antara Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cimahi, Garut dan Sumedang dalam Great Bandung Waste Management Coorporate yang bekerja sama dengan konsorsium asal Malaysia, PT Umpan Jaya.

"Sampah kota ini sangat banyak, hingga sistem sanitary landfill yang ditawarkan tidak akan cocok untuk mengatasi persoalan sampah kota Bandung. Lagipula lahan yang dibutuhkan 100 ha, di mana bisa kita dapat," ujarnya.

Dada menilai pengelolaan sampah yang cocok dengan Kota Bandung adalah seperti di Shanghai China. "Pengelolaan di tengah kota, tidak bau dan bisa menghasilkan energi listrik, kompos dan batu bata," tukasnya.

Terancam

Masih berkaitan dengan sampah, sekitar 1.700 pegawai PD Kebersihan Kota Bandung terancam tidak mendapatkan gaji. Pasalnya, biaya operasional pembuangan sampah PD Kebersihan ke TPA Rajamandala, Blok Cigedig, Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, tinggi. Untuk bahan bakar minyak saja, pengeluarannya dua kali lipat. Hal tersebut disampaikan oleh juru bicara PD Kebersihan Kota Bandung, Sefrianus Yosep.

Yosep sangat berharap dana Rp 2 miliar dari Pemprov Jawa Barat bisa segera turun. Jika terus-menerus begini, karyawan tidak akan dibayar. Dana untuk membayar karyawan dalam satu bulan, mencapai Rp 900 juta. Sedangkan untuk menutupi biaya operasional, pendapatan PD Kebersihan tidak mencukupi. Biasanya pendapatan PD Kebersihan Rp 700 juta-Rp 800 juta per bulan. Sedangkan kini, pendapatannya hanya sekitar Rp 530 juta per bulan.

Jarak tempuh ke TPA Rajamandala mencapai 100-105 Km. Untuk itu, uang operasional yang dikeluarkan berlipat ganda. Selain itu, pihaknya membutuhkan dana untuk penyewaan truk. Beberapa hari yang lalu, pihaknya mengeluarkan Rp 20 juta untuk menyewa 30 truk. Pengeluaran satu truk per rit mencapai Rp 550 ribu. [ADI/M-11]

Post Date : 15 Juni 2006