Pemkot Terus Berupaya Tangani Soal Sampah

Sumber:Pikiran Rakyat - 22 Januari 2006
Kategori:Sampah Luar Jakarta
BANDUNG, (PR).Menanggapi penilaian berbagai pihak yang menganggap penanganan sampah Kota Bandung yang terkesan lambat, pemerintah Kota Bandung melalui PD Kebersihan Kota Bandung angkat bicara. Kepala Bagian Hukum dan Humas PD Kebersihan, S Yosep mengatakan, sejauh ini PD Kebersihan sudah berupaya optimal. Sejak TPA Cicabe dibuka, 9 Januari 2006, setiap hari 130 rit sampah atau sekitar 1.300 m3 dari 7500 m3 produksi per hari diangkut ke TPA Cicabe.

Disebutkan, dari 184 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Kota Bandung, 22 TPS sudah bersih. Namun, kami tidak mengerti mengapa masih ada pihak yang mempertanyakan bahkan menilai seolah-olah sampah tidak diangkut. Padahal kami sudah berupaya, kata Yosep, Minggu (21/1).

Hingga Kamis (19/1), volume sampah Kota Bandung yang diangkut PD Kebersihan sekitar 1.500 m3 atau 1569 rit. Sejak 1 Januari hingga saat ini volume sampah Kota Bandung diperkirakan mencapai 150.000 m3. Jadi yang terangkut sekitar 10%, ujarnya.

Yosep juga mengungkapkan, kendala yang dihadapi yakni hingga saat ini belum ada kejelasan informasi mengenai lokasi yang akan dijadikan TPA. Yang menawarkan lahannya untuk jadi TPA banyak, tapi belum ada kepastian, ujarnya.

Menurut Yosep, di Kab. Bandung saja, untuk Kec. Nagreg, ada yang menawarkan dua lokasi. Belum lagi di Babakan Kec. Ciparay dan di Kec. Ciwidey. Sedangkan yang positif, lahan di Pasir Bajing Garut, namun bupatinya menolak.

Bupati, Obar Sobarna, menurut Yosep, bersikukuh untuk tetap menggunakan Citatah meski Meneg Lingkungan Hidup tidak memberikan rekomendasi dan amdalnya pun belum ada. Sosialisasi TPA Citatah terrus dilakukan.

2-3 minggu lagi

Sementara itu, Direktur Teknis PD Kebersihan, Cece H Iskandar, memperkirakan dalam waktu 2 - 3 minggu sampah-sampah di TPS baru bisa terangkut semua. Namun, karena keterbatasan alat dan waktu pembuangan Cicabe yang hanya sampai pukul 18.00, belum semua TPS terlayani.Alat beratnya cuma ada 2, jadi harus satu-satu dan bertahap, katanya.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Bandung, Bulgan Alamin menyatakan, pemerintah kota sudah optimal dalam menangani sampah. Berbagai pendekatan pun dilakukan , seperti pendekatan teknis, akademis, geologis, dan lingkungan. Namun, untuk memutuskan lokasi mana yang tepat untuk dijadikan TPA harus melalui berbagai pertimbangan.

Karena didesak waktu, Bulgan juga mengimbau masyarakat untuk turut membantu pemkot melalui gerakan 3M. Dengan demikian diharapkan volume sampah dapat sedikit berkurang, sehingga mengurangi beban PD Kebersihan sebagai satu-satunya instansi pengelola sampah.

Persoalan bersama

Sementara itu, Wali Kota Bandung Dada Rosada menanggapi penilaian para pemerhati lingkungan dan LSM terhadap persoalan sampah sebagai kritikan konstruktif, yang diharapkan menjadi pendorong kesadaran seluruh stakeholder untuk bersama-sama memikirkan dan menanggulangan sampah.

Kami sudah berupaya seoptimal mungkin dalam berbagai keterbatasan. Mudah-mudahan kesadaran semua pihak melihat persoalan sampah ini semakin terbuka, bahwa sampah adalah persoalan bersama, kata Dada.

Disebutkan, pascalongsor TPA Leuwigajah, upaya penanggulangan telah dilakukan. Salah satu hasil dari kerjasama semua pihak yakni pada saat KAA. Saat itu sampah yang menggunung di mana-mana bisa dibereskan, ujar Dada.

Namun, untuk penanganan sampah secera menyeluruh, pemkot kemudian memilih program penanganan dengan pendekatan pengolahan secara teknologi. Upaya itu diawali dengan presentasi investor pengelola sampah pada 16 Maret 2005 di Hotel Grand Aquila dari mulai teknologi sederhana hingga penggunaan teknologi modern.

Setelah melalui beberapa tahapan penilaian, pada 21 September 2005 dilakukan penandatanganan nota kesefahaman antara PD Kebersihan Kota Bandung dengan PT Bandung Raya Indah Lestari (BRIL), yang akan mengolah sampah menjadi energi listrik.

Saat ini tidak lanjut dari MoU tersebut sedang dilakukan studi kelayakan atau feasibility study dan penyusunan amdal, kata Dada.

Sambil menunggu proses pembangunan TPA Citatah, lanjut Dada, pemkot kembali memanfaatkan TPA Cicabe. Berkat kepedulian dan ketulusikhlasan warga Kel. Mandalajati Kec. Cicadas, eks TPA Cicabe dengan tambahan lahan 1,5 ha telah dilakukan pembuangan sampah darurat mulai Senin (9/1).

Pembuangan sampahitu menggunakan sistem controlled landfill. Kapasitas pembuangan sampah rata-rata 130 rit/hari dari keseluruhan total sampah Kota Bandung sekitar 7.500 m3/hari.

Pada saat TPA Jelekong masih beroperasi, volume sampah yang terangkut rata-rata 250 rit/hari atau 2.500 m3/hari atau sekitar 750 ton. Namun, karena kapastias Cicabe terbatas, sampah yang bisa diangkut hanya 130 rit/hari, kata Dada.

Prioritas

Persoalan sampah, demikian Dada, memang menjadi prioritas untuk ditanggulangi. Namun, upaya itu perlu didukung sarana dan prasarana, seperti TPA, yang hingga kini masih belum jelas.

Disebutkan, TPA Blok Cimerang Desa Citatah Kec. Cipatat Kab. Bandung, yang akan dikelola PT BRIL sebagai upaya penanggulangan jangka pendek (darurat), sebelum pengolahan sampah menjadi energi listrik beroperasi, masih dalam tahap proses perizinan penetapan lokasi dari Pemkab Bandung. (A-157)

Post Date : 22 Januari 2006