Pengelolaan Sampah Harus Berorientasi Jangka Panjang

Sumber:Pikiran Rakyat - 12 April 2005
Kategori:Sampah Luar Jakarta
BANDUNG, (PR).-Masalah sampah yang kini menjadi persoalan serius dan mendesak, jangan dijadikan komoditas untuk saling menyalahkan, tapi harus dijadikan agenda bersama untuk dicarikan solusinya. Terkait penanganan sampah, pemerintah harus mulai menjajaki sistem pengelolaan terpadu berorientasi jangka panjang, terutama menyangkut lokasi pembuangannya.

"Musibah longsor TPA Leuwigajah memberikan hikmah bahwa masalah sampah bukan masalah yang sederhana, karena penanganannya menyangkut sebuah sistem yang harus menjangkau ke masa depan," kata Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Bandung, Ade Koesyanto, Senin (11/4).

Menurutnya, saat ini, persoalan penanganan sampah di Kota Bandung bukan hanya pada pengangkutan, tapi lebih kepada ke mana sampah itu akan dibuang. "Jadi, persoalan ini perlu dicarikan solusinya bersama-sama dengan tidak saling menyalahkan. Para investor maupun pengusaha besar juga diminta partisipasinya, karena secara tidak langsung masalah sampah ini juga berpengaruh terhadap usaha mereka," ujar Ade.

Sementara itu Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Sehat Lingkungan (GMPSL) Kota Bandung, Deded Rayadhie, mengatakan upaya Pemkot Bandung dalam menangani masalah sampah sudah benar. Namun, yang perlu dipahami semua pihak adalah belum adanya TPA yang representatif yaitu yang dapat menampung tumpukan sampah dengan skala cukup besar.

"Kami menyambut upaya Wali Kota Bandung seperti memfungsikan kembali TPA Pasirimpun dan TPA Cicabe termasuk penataan TPA Jelekong di Kab. Bandung, sekalipun kondisi tempat dan teknis lainnya memang tidak akan memadai menampung timbunan sampah secara maksimal," kata Deded.

Sementara itu Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung, Yod Mintaraga mengatakan, permasalahan sampah bukan untuk KAA saja, tapi merupakan persoalan pelayanan publik. Saat ini, menurutnya, pemerintah sedang menangani masalah ini secara terintegrasi, terpadu dan komprehensif.

"Mudah-mudahan, dalam jangka pendek sudah bisa diselesaikan, karena penanganan sampah bukan untuk KAA saja tapi persoalan publik. Kebersihan dan ketertiban kan kebutuhan masyarakat luas," ujar Yod.

Mengenai sampah yang masih menggunung di sejumlah TPS, Yod mengatakan, sedang berusaha diselesaikan. "Pada saat normal saja sampah hanya terangkut 70%. Jadi, bayangkan, pada saat tidak normal dengan tidak ada tempat pembuangan dan armada kurang," katanya.

Terangkut 22.030 m2

Dalam penanganan tanggap darurat sampah menjelang peringatan KAA, Dirut PD Kebersihan Kota Bandung Awan Gumelar mengatakan, mulai 1-10 April sudah terangkut 22.030 m2 sampah dari TPS-TPS ke TPA. Sedangkan dari Pasar Induk Caringin terangkut 73 rit (3.840 m3 sampah). Sedangkan pengangkutan bantuan oleh Istana Group sebanyak 384 rit (3.840 m3) baru di lima 5 TPS dari target 9 TPS, dan bantuan PT Anugerah 6 rit (60 m3) baru 1 TPS dari target 2 TPS.

Pemkot Bandung mengambil tiga cara pengelolaan sampah pascalongsor TPA Leuwigajah, yakni pengelolaan jangka pendek (darurat untuk persiapan KAA), pengangkutan rutin PD Kebersihan dan partisipan ke TPA Jelekong 200 rit/hari, TPA Cicabe (150 rit/hari) dan TPA Pasirimpun (50 rit/hari).

Mengenai rencana kerja sama dengan pihak ketiga, Koordinator Tim Perumus Penanganan Sampah, Tjetje Subrata mengatakan, pihaknya bersama praktisi dan akademisi baru akan membuat kriteria dan parameternya. "Kemungkinan besar kriteria pemkot akan mengarah kepada bentuk pengolahan sampah terpadu. Kalau kami punya kekuatan 7.500 m3 sampah/hari, apakah sampah sebanyak itu bisa diproses, sehinga tidak harus selalu ada TPA," katanya. (A-131)



Post Date : 12 April 2005