Pengerukan Kali Cipinang Akhirnya Ditunda

Sumber:Kompas - 14 Oktober 2004
Kategori:Drainase
Jakarta, Kompas - Pengerukan Kali Cipinang yang merupakan satu bagian dari pengerjaan paket sembilan proyek Banjir Kanal Timur terpaksa ditunda karena harus menggusur sekitar 500 bangunan liar di bantaran Kali Cipinang, tepatnya di dekat Jalan IPN, Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. Selain itu, masih ada beberapa pekerjaan lain yang akhirnya terpaksa ditunda sehingga dana Rp 5 miliar dari total Rp 12,3 miliar yang sudah dianggarkan dialihkan untuk pengerjaan Banjir Kanal Barat.

Pimpinan Proyek BKT, Pitoyo Subandriyo, mengatakan, penundaan proyek itu dilakukan atas inisiatifnya sendiri mengingat efek sosiologis dan psikologis yang mungkin timbul jika penggusuran dilakukan. "Saya siap dimaki-maki. Tetapi mata hati saya tidak bisa melakukan itu. Saya akan berkoordinasi dulu dengan Pemprov DKI mengenai solusi penggusuran, apakah dibuatkan rusun atau bagaimana," katanya, Rabu (13/10), saat meninjau lokasi di Kali Cipinang.

Pengerukan Kali Cipinang menelan biaya Rp 172,3 juta. Pekerjaan lain yang ditunda meliputi penggalian dasar sungai bagian hilir yang dianggarkan Rp 98,8 juta, jalan inspeksi Rp 234,7 juta, bangunan terjun Rp 2,7 miliar, ambang dasar (ground sill) Rp 45,8 juta, saluran gendong Rp 149 juta, dan perlindungan talut Banjir Kanal Timur (BKT) Rp 1,6 miliar.

Total anggaran Rp 5 miliar selain dialokasikan untuk membuat sheet pile (semacam turap) di sekitar jembatan Kali Cipinang, juga untuk sheet pile di BKB, melanjutkan pengerjaan di depan Hotel Shangri-La, dari Manggarai hingga pintu air Karet. "Alternatif ini dilakukan karena manfaatnya yang besar, untuk memperbesar kapasitas Sungai Ciliwung," ujar Pitoyo.

Saat ini, kontraktor paket sembilan PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama tengah mengerjakan jembatan di Jalan IPN sepanjang 28 meter dan lebar 10 meter. Kontraktor juga menguruk saluran, mengerjakan perlindungan talut di sekitar bangunan awal, dan hal lain dengan sisa dana Rp 7,3 miliar.

Warga di sekitar lokasi proyek semula mengaku terganggu dengan suara bising dan getaran alat-alat berat. Namun, karena sore hari pengerjaan berhenti, mereka pun menjadi maklum. Jika ada warga yang mengeluhkan retaknya dinding rumah akibat getaran, Pitoyo mengatakan siap memperbaikinya.

Baru 300 meter

Hingga saat ini, pengerjaan paket tujuh di Kelurahan Ujung Menteng baru berjalan 25 persen. Kelambanan pembangunan disebabkan oleh lamanya pembebasan lahan oleh tim dari Pemkot Jakarta Timur. Dari total lahan sepanjang satu kilometer, yaitu dari Rawa Bebek hingga Ujung Menteng, baru 300 meter lahan yang dibebaskan dengan lebar 100 meter.

"Di atas lahan yang sudah dibebaskan itu pun masih ada tanah seluas 800 meter persegi milik Maca binti Kisin yang belum bebas," kata Pimpinan Sub-Proyek Paket 6 dan 7 Udin Zainudin.

Pengerjaan paket tujuh sebenarnya tidak rumit, antara lain menggali, membuat jalan inspeksi, dan membuat saluran gendong. Total anggaran mencapai Rp 11,2 miliar dan dikerjakan oleh PT Teguh Raksa Jaya.

Paket enam berupa pengerjaan pintu air/bendung di Ujung Menteng sebenarnya telah dikerjakan 60 persen, namun belum tentu dapat selesai 100 persen sesuai jadwal. Diperkirakan akhir tahun ini selesai. Paket yang dikerjakan PT Ashfri Putralora ini menelan anggaran Rp 12,2 miliar.

Udin mengatakan, di lokasi paket enam juga akan dibangun jembatan sepanjang 34,6 meter dan lebar 7 meter yang akan menghubungkan Jakarta dengan Bekasi.

Selain tanah milik Maca, masih ada lagi tanah yang belum bebas, yaitu milik Tresna Hidayat seluas 5.300 meter persegi. Jika pembebasan tanah masih lamban, penggalian pada tahun 2005 pun tidak akan banyak. (IVV)

Post Date : 14 Oktober 2004