Pengungsi Mengeluh Kekurangan Sanitasi

Sumber:Media Indonesia - 14 Juli 2007
Kategori:Sanitasi
HALMAHERA Media): Pengungsi akibat meletusnya Gunung Gamkomora mengeluhkan terbatasnya sarana sanitasi yang disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Barat, Maluku utara. Meski cukup mendapat pasokan air bersih untuk makan dan minum, warga tidak disediakan lokasi mandi, cuci dan kakus (MCK).

Wartawan Media Indonesia yang berada di lokasi melaporkan untuk buang air besar (BAB), warga terpaksa harus berjalan agak jauh. Biasanya warga mencari pepohonan yang rimbun. "Ya, terpaksa harus cari semak-semak dululah karena tidak disediakan WC," ujar salah seorang warga Desa Tosoa.

Saat dimintai konfirmasi tentang keterbatasan sarana sanitasi tersebut, Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Kabupaten Halmahera Barat Kalbi Rasyid mengaku kewalahan mengurus para pengungsi yang mencapai hampir 10 ribu jiwa tersebut. Pemkab, katanya, mengharapkan uluran tangan dari pemerintah provinsi (pemprov) dan pemerintah pusat.

Pengakuan senada dikemukakan Sekretaris Satuan Pelaksana (Satlak) Penanganan Pengungsi dan Bencana (PB) II Imam Barkah. Karena keterbatasan tersebut, hingga kini, Satlak PB bahkan membebaskan para pendonor untuk menyalurkan sendiri bantuan mereka ke beberapa titik pengungsian.

Namun, Imam menjamin pengungsi tidak kekurangan air bersih. Untuk kebutuhan masak dan minum, pemkab setempat menyediakan dua mobil tangki yang sewaktu-waktu melintas ke lokasi pengungsi.

Sementara itu dari pos pemantauan, sepanjang hari kemarin, aktivitas Gunung Gamkonora meningkat. Sedikitnya terjadi empat letusan kecil dan satu letusan besar pada pukul 05.09 WIT.

Akibat letusan itu, asap hitam tebal dan debu membubung hingga mencapai ketinggian 2.000-2.500 meter. Namun, debu abu tersebut hanya sebagian kecil turun di beberapa desa, yakni Desa Baru, Adu, Ngawet, dan Gamsungi. Debu lebih banyak tertiup angin ke arah barat laut.

Meski begitu, pihak Satlak belum memperbolehkan warga kembali ke rumah mereka. Untuk menjamin keselamatan warga, petugas kepolisian bahkan tampak disiagakan di sepanjang jalur untuk menghalau warga kembali ke desa di kaki gunung. (BR/N-4).



Post Date : 14 Juli 2007