Perjalanan Melintasi Hidup

Sumber:Media Indonesia - 22 April 2008
Kategori:Climate

EFEK pemanasan global kini sudah dirasakan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi. Berbagai kejadian seperti bencana banjir, tanah longsor, kemarau panjang, dan berubahnya pola curah hujan adalah bukti efek pemanasan global. Hal itu menimbulkan keprihatinan berbagai pihak. Mereka pun mulai menyuarakan keprihatinan itu dengan berbagai cara.

Salah satunya melalui film The Inconventient Truth yang dibuat mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore. Film yang menyajikan berbagai dampak akibat pemanasan global terhadap kehidupan seluruh makhluk di bumi ini mendapat hadiah Nobel Perdamaian 2007 bersama badan khusus PBB yang menangani Perubahan Iklim (IPCC).

Kepedulian terhadap kerusakan lingkungan dan masa depan penghuni planet bumi di kalangan ilmuwan dan pekerja seni kembali mencuat dalam film Earth yang diproduksi British Broadcasting Corporation (BBC) dan disutradarai Alastair Fothergill.

Film yang diputar pertama kali di Inggris pada 16 November 2007 itu diputar secara serentak di jaringan bioskop Blitz Megaplex bertepatan dengan Hari Bumi tahun ini, yang jatuh pada hari ini.

Lokasi pengambilan gambar film berdurasi 90 menit itu dilakukan di 200 tempat di seluruh dunia. Film itu melibatkan 40 ahli di bidang masing-masing.

Pengisi suara dalam narasi film ini adalah Patrick Stewart, pemeran Kapten Jean-Luc Picard dalam serial fiksi ilmiah Star Trek dan sebagai Profesor Charles Xavier dalam film X-Men Trilogy.

Gambar-gambar menakjubkan dalam film itu diambil menggunakan kamera berdefinisi tinggi untuk menciptakan gambar perjalanan melintasi bergantinya musim dan upaya bertahan hidup dari beragam makhluk di planet bumi.

Beruang kutub, gajah, dan ikan paus adalah tiga binatang yang menjadi tokoh utama di film Earth. Penonton diajak menjelajah berbagai belahan bumi dan melihat bagaimana tiga tokoh tersebut berjuang untuk hidup, menyelamatkan diri mereka dari efek pemanasan global yang semakin terasa.

Beruang kutub, misalnya berusaha hidup di tengah pecahan es yang semakin mencair, gajah yang harus berjalan jauh mencari air, dan ikan paus bermigrasi ribuan mil untuk mencari plankton makanannya.

Dengan memakai siklus perjalanan matahari di berbagai musim, film ini menuturkan kisah yang menakjubkan perjalanan makhluk di planet bumi. Diawali dengan terbangunnya beruang es beserta dua anaknya seiring munculnya matahari di musim semi.

Sang ibu yang kelaparan setelah berpuasa pascamelahirkan dua anaknya itu harus segera mencari makanan sebelum lapisan es mulai mencair. Hewan buruannya seperti anjing dan singa laut akan semakin menjauh saat musim panas tiba seiring berubahnya lautan es menjadi air.

Bila sebelum musim berganti ia tidak berhasil mendapat buruan, kelangsungan hidup dirinya dan kedua anaknya terancam. Namun saat sudah berhadapan dengan buruannya tersebut, sang induk juga harus berjibaku mempertahankan diri supaya tidak tertusuk taring singa laut.

Di bagian dunia lain, perjalanan panjang ratusan gajah yang melintasi gersangnya Gurun Kalahari di Afrika menuju kawasan Delta Okapango untuk mencari sumber air.

Dengan mengikuti penciuman mereka menyisir sungai yang telah mengering menuju Delta Okapango. Seekor anak gajah berusaha untuk bertahan mengimbangi daya tahan dan kecepatan berjalan gajah dewasa. Namun kekuatannya tidaklah mencukupi. Sang ibu tetap berupaya memacu anaknya untuk tetap bertahan, meski harus terpisah dari rombongan. Dalam kelelahan dan kehausan, keduanya tersesat di tengah ganasnya badai pasir gurun.

Sementara itu, rombongan gajah lain setelah berjalan berminggu-minggu menempuh ratusan mil, berhasil menemukan sumber air yang tersisa di delta Okapango. Namun di malam hari, kawanan itu harus bekerja keras untuk saling melindungi, terutama terhadap anggota kelompok yang masih muda untuk bertahan dari serangan singa.

Migrasi paus

Potret perjalanan seekor ikan paus bungkuk, humpback whale, yang berusaha membawa anaknya menjelajah sejauh 6 ribu kilometer menuju perairan tropis tergambar apik.

Perairan yang lebih hangat ini merupakan tempat paling tepat untuk membesarkan anaknya. Dalam sehari seekor anak paus bungkuk memerlukan 600 liter susu per hari. Di perairan tropis ini ia harus menunggu sang anak berusia 5 bulan untuk mampu diajak berkelana kembali ke lautan Antartika itu.

Namun ketiadaan plankton khas perairan laut dalam memaksa sang ibu untuk secepatnya ke lautan di sekitar benua Antartika. Sesampainya di sana, mereka harus menghadapi musim panas yang lebih cepat berlalu seiring terjadinya perubahan iklim di kawasan Antartika. Mereka pun akhirnya kembali ke perairan tropis sebelum terjebak dalam lautan es di Antartika.

Siklus migrasi paus bungkuk yang turut berubah akibat terjadinya perubahan iklim ini seakan memberi gambaran bahwa semua makhluk hidup terkena imbas perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Kejelian teknik pembuatan film juga disajikan dengan manis di film ini. Proses pembuatan yang memakan waktu 5 tahun itu pun membuat kita tersadar. Kini saatnya kita mengubah kebiasaan untuk membuat bumi menjadi hijau dan mengembalikan ruang hidup untuk beruang kutub, gajah, ikan paus, dan manusia sendiri.

"Kita bisa lihat dari film Earth bahwa bumi beserta isinya akan berjalan secara sendiri sesuai kemampuannya untuk melakukan siklus hidupnya. Sebab itu, jika saat ini, manusia ataupun individu-individu tidak menjaga kelestarian bumi beserta isinya, bumi secara berangsur-angsur akan menjadi bumerang bagi manusia," ujar Duta Besar PBB untuk Millennium Development Goals (MDG's) Asia Pasifik Erna Witoelar seusai menghadiri acara Nonton Bareng Film Earth bersama Media Group di Blitzmegaplex Pacific Place, Jakarta, pekan lalu.(*/S-3)



Post Date : 22 April 2008