Pertarungan Industri Minyak

Sumber:Suara Pembaruan - 11 Desember 2007
Kategori:Climate
Perubahan iklim kini menjadi perhatian komunitas global. Isu itu layak disoroti karena dampak buruknya yang dirasakan masyarakat dunia. Kemarahan besar tengah dihadapi negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat (AS). Sebab, AS menduduki peringkat pertama negara penghasil emisi karbon di dunia.

Bila dicermati penolakan terhadap ratifikasi Protokol Kyoto ternyata ada negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam. "Ada aliansi 'tidak suci' antara AS, Iran dan Arab Saudi yang dilatarbelakangi pertarungan penguasaan industri minyak global, yang kini dikuasai beberapa perusahaan multinasional. Tiga negara tersebut sesungguhnya berpartner dalam sebuah aliansi internasional," kata Ehsan Masood, wartawan dan penulis Inggris asal Pakistan, menjawab SP, baru-baru ini.

Sejumlah klaim dilontarkan negara-negara tersebut agar penguasaan industri minyak global jatuh ke tangan mereka. Pertama, mereka membantah sinyalemen-sinyalemen perubahan iklim yang dikhawatirkan para ilmuwan dunia. Mereka mengatakan, isu perubahan iklim dikonstruksikan secara sosial. Sebaliknya, ada ilmuwan yang betul-betul percaya pada terjadinya pemanasan global dan mereka ingin menggunakan sains untuk memperkuat kembali sistem keyakinan dan kepercayaan. Kedua, negara-negara itu juga berpendapat, apa pun yang terjadi dengan pemanasan global, industri minyak global sangat kritis terhadap mesin perekonomian dunia. "Terlampau banyak investasi yang sudah ditanam dalam industri minyak global, sehingga sulit untuk secara tiba-tiba menghentikannya," kata penulis British Muslim: A Media Guide ini.

Ehsan mengatakan, dalam isu pemanasan global dan perubahan iklim, tidak pernah ada pembicaraan-pembicaraan terkait agama dan kepercayaan. Berbicara soal industri minyak global pun, urusan agama tidak pernah dibawa-bawa, kendati Arab Saudi adalah sebuah negara Islam dan mengklaim punya syariat sebagai dasar hukumnya. Begitu pula di Iran. Fenomena serupa juga disimaknya ketika ia menghabiskan banyak waktu di AS untuk mencermati pengembangan mesin-mesin iklim global. "Sungguh menyenangkan melihat AS, Iran, dan Arab Saudi, yang selama ini berseteru, tetapi faktanya mereka berunding dalam pertemuan-pertemuan tertutup untuk menggarap strategi-strategi terkait hal ini," ungkap Ehsan yang juga bekerja sebagai kolumnis untuk OpenDemocracy dan aktif mengirim tulisan-tulisan ke The Economist, el-Pais, The Guardian, The Independent, Le Monde, serta Prospect Magazine. [E-9]



Post Date : 11 Desember 2007