Pintu Air Rusak, Air Pasang Masuk Jakarta

Sumber:Kompas - 05 November 2009
Kategori:Banjir di Jakarta

Jakarta, Kompas - Akibat rusaknya Pintu Air Cengkareng, air pasang dari Teluk Jakarta masuk ke daratan DKI Jakarta lewat saluran Cengkareng Drain di Jakarta Barat. Pintu air sudah berkarat dan empat bilah pintu air dibiarkan tergantung.

Dalam pantauan di Pintu Air Cengkareng, Rabu (4/11), terlihat air mengalir dari arah muara ke kawasan hulu di Kecamatan Cengkareng, Kecamatan Kembangan, Kecamatan Grogol, dan Kecamatan Kebun Jeruk.

”Kalau air laut sedang tinggi, air sungai tidak bisa mengalir ke laut. Rumah kita juga kadang terendam semata kaki. Memang sudah bertahun-tahun Pintu Air Cengkareng tidak berfungsi. Entah kapan diperbaiki,” kata Yatimin, warga yang tinggal di dekat pintu air.

Aliran air laut ke arah daratan Jakarta itu masuk ke Kali Pesanggrahan dan Kali Angke yang merupakan saluran di selatan Cengkareng Drain. Kali Pesanggrahan yang melintasi Kecamatan Kembangan mengalir tidak jauh dari kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Nyonya Saifudin Ister, penjaga Pintu Air Cengkareng, mengatakan, kerusakan sudah terjadi bertahun-tahun. ”Kita berharap segera ada perbaikan. Kalau pintu air berfungsi, bisa membantu menahan air pasang,” kata dia.

Ketua RW 11 Kelurahan Rawa Buaya Tri Mulio mengatakan, air pasang mengancam permukiman warga di Rawa Buaya. ”Di RW saya saja, ada sekurangnya 10.000 jiwa warga. Kita berharap pemerintah segera memperbaiki Pintu Air Cengkareng untuk mengantisipasi banjir di musim hujan yang segera tiba,” tutur Tri.

Masuknya air pasang ke daratan mengakibatkan aliran Saluran Mookervart dan got di dekat permukiman padat di Rawa Buaya tidak bisa mengalir ke laut. Daerah yang terkena dampak naiknya air pasang mencapai Kali Mati di dekat Kantor Samsat Polda Metro Jaya dan di sekitar Jalan Daan Mogot.

Untuk mengantisipasi banjir, warga RW 11 berswadaya memperbesar pintu air. Mereka mendapat bantuan Muslim Aid dari Inggris untuk proyek tersebut.

Berkat renovasi pintu air, tinggi genangan air di RT 1 RW 11 hanya tersisa 30 sentimeter. ”Sebelumnya kalau banjir, tinggi air bisa mencapai dua meter di RT 1,” ujar Tri Mulio.

Tri berharap pemerintah juga mau melanjutkan pengerukan Kali Angke di dekat Rawa Buaya. Pengerukan terhenti di dekat RT 06 dan RT 11. Sebagian besar warga Rawa Buaya adalah rakyat miskin yang semakin menderita akibat banjir yang terjadi sejak dua puluh tahun lebih.

Dia bersyukur pemerintah mulai menanggul Kali Angke. Tahun lalu, tanggul Kali Angke di dekat Perumahan Permata Buana jebol dan mengakibatkan banjir di kawasan tersebut.

Sementara itu air di Kali Ancol mulai luber ke Jalan RE Martadinata hingga jalan itu tergenang setinggi 50 cm. Bahkan, rel kereta api yang terletak di samping jalan itu juga tergenang. Hanya kendaraan besar yang bisa melintas di jalan itu, sementara kendaraan kecil yang menuju ke Tanjung Priok atau ke Lodan harus mengambil jalan memutar melalui Sunter. (ONG/ARN)



Post Date : 05 November 2009