Pompa Air Berbahan Bakar Air

Sumber:Koran Tempo V 12 Agustus 2004
Kategori:Umum
Daerah Gunung Kidul merupakan pegunungan kapur. Banyak sungai bawah tanah di dalamnya, tetapi kebanyakan airnya terbuang mengalir ke Samudra Indonesia.

Dari hulu terdapat percabangan sungai dan diperhitungkan sekitar 60 persen air Sungai Bribin mengalir ke tempat lain (di antaranya ke Ngreneng). Sisa 40 persen debit air tersebut mengalir ke lokasi dam saat ini dan nantinya akan dimanfaatkan dalam proyek pembangunan. Debit air pada saat musim kemarau mencapai lebih dari satu meter kubik per detik, sedangkan pada musim penghujan mencapai sekitar 4 meter kubik per detik.

Hingga pertengahan 2003 sistem eksploitasi air sungai bawah tanah di daerah itu menggunakan pembangkit listrik dengan generator. Listrik dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa yang mengalirkan air ke permukaan sebanyak 80 liter per detik.

Tapi, teknik itu dinilai mahal. Konsumsi bahan bakar solar per jam saja sekitar 70-80 liter. Bila generator diesel dioperasikan selama 5 jam per hari, diperlukan biaya bahan bakar tidak kurang dari Rp 500 ribu atau Rp 15 juta per bulan. Kalau setahun, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 180 juta.

Persoalan lainnya: sejak pertengahan 2003 hingga sekarang mesin diesel mulai "rewel", pengoperasian pompa air menggunakan tenaga listrik. Ini menambah mahal biaya yang harus ditanggung.

Biaya langganan listrik per bulan saia tercatat Rp 32 juta, belum termasuk biaya beban ketika pompa dioperasikan. Untuk biaya langganan listrik harus disediakan dana tidak kurang dari Rp 384 juta per tahun.

Mempertimbangkan biaya operasional itulah, maka pengembangan sistem dam akan jauh lebih menguntungkan. Ini bila tanpa memperhitungkan investasi awal. Energi listrik yang digunakan untuk memompa air boleh dibilang dibangkitkan secara gratis karena tidak bergantung pada harga bahan bakar dan listrik. Selain, tentu saja, dapat dioperasikan 24 jam per hari.

RUANG LINGKUP KERJA SAMA

INDONESIA
XInvestigasi : geologi, lingkungan, kualitas air, pemetaan lokasi hidropower, debit air sebagai fungsi waktu, recharge area, optimasi pembangkitan energi listrik.

XPekerjaan fisik : pembebasan tanah, pengerasan dan pembuatan jalan, dua kali pengeboran awal dengan diameter sekitar 18 cm, pembuatan dinding pengeboran , pembuatan struktur bangunan hydropower, transmisi listrik, rumah jaga, reservoir, membantu pihak Jerman dalam proses pernbangunan dan perawatan.

JERMAN
Hibah senilai Rp 70 miliar meliputi :

XInvestigasi : geologi, pemetaan lokasi hidropower, debit air sebagai fungsi waktu, recharge area, optimasi pernbangkitan energi listrik.

XPekerjaan fisik : pengeboran diameter 2,4 meter, instrumentasi dan kendali, sistem pembangkitan listrik (turbin, generator), termasuk pelatihan operasi.

Post Date : 12 Agustus 2004