Pupuk Kandang Tingkatkan Kandungan Bakteri

Sumber:Kompas - 05 Agustus 2008
Kategori:Sanitasi

WATES, KOMPAS - Warga pesisir pantai Kulon Progo diimbau untuk waspada dalam mengonsumsi air tanah. Penggunaan pupuk kandang secara intensif di lahan pasir ditengarai memicu kenaikan kandungan bakteri Escherichia coli atau E coli dalam tanah dan berpotensi mencemari sumber-sumber air tanah setempat.

Mengacu pada data kualitas air tanah di sumur proyek percontohan penambangan pasir besi milik PT Jogja Magasa Mining yang diterima Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Pedal) Kulon Progo, Agustus ini, diketahui kandungan bakteri jenis E coli di sekitar lokasi proyek cukup tinggi.

Dari 10 sumur, dua di antaranya mengandung bakteri E coli dengan jumlah 130 dan 1.600 bakteri per 100 mililiter air. Ini lebih tinggi dari standar Departemen Kesehatan, yakni maksimal 50 bakteri per 100 mililiter air untuk jenis air nonpipa.

Sejumlah warga pesisir pantai, yang ditemui Senin (4/8) kemarin, mengaku belum mengetahui sumur mereka tercemar bakteri E coli. Namun, hingga kini belum terjadi wabah diare di kalangan warga akibat mengonsumsi air.

Kepala Seksi Pengendalian, Penanggulangan, Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan Kantor Pedal Kulon Progo Didik, akhir pekan lalu, menyebutkan tingginya kandungan bakteri E coli disebabkan lokasi proyek percontohan pernah dipakai sebagai lokasi pertanian.

Agar lahan pasir bisa ditanami, petani harus menambah pupuk kandang dalam jumlah yang cukup banyak. Diduga, bakteri yang terdapat dalam pupuk kandang larut terbawa air hingga meresap ke dalam tanah.

"Pada tahun 2004, kami juga pernah melakukan penelitian tentang kualitas air tanah di pesisir pantai. Hasilnya juga cukup mengejutkan, hampir semua sumur di lahan pertanian pasir mengandung bakteri E coli di atas standar," tutur Didik.

Konsumsi air tanah yang mengandung bakteri E coli dapat memicu timbulnya penyakit pencernaan, khususnya diare. Didik pun mengimbau warga pesisir untuk mengonsumsi air tanah setelah direbus hingga mendidih.

Selain itu, warga juga diminta tidak mengambil air konsumsi dari sumur ladang, melainkan dari sumur rumah yang bebas dari segala bentuk olahan tanah yang menggunakan pupuk kandang.

"Saya memang tidak meminum air dari ladang, tetapi bukan karena takut ada bakteri E coli, melainkan karena airnya berbau," ujar Yati (36), warga lokasi transmigrasi lokal, Desa Bugel, Panjatan. (YOP)



Post Date : 05 Agustus 2008