Rawa Diuruk, Kota Palembang Makin Sering Banjir

Sumber:Kompas - 29 Oktober 2004
Kategori:Drainase
Palembang, Kompas - Memasuki musim hujan akhir tahun 2004 ini, Kota Palembang, Sumatera Selatan, akan semakin sering banjir. Itu terjadi karena banyak rawa yang menjadi daerah resapan air justru diuruk dijadikan lahan hunian, perkantoran, atau pertokoan.

Masalah lain, sistem drainase di kota yang dikepung sejumlah anak sungai itu juga belum mampu membuang luapan air hujan dan sungai ke luar kota.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang Thamrin, Kamis (28/10), mengakui banyak pengurukan rawa-rawa di sekitar kota untuk berbagai kepentingan. Daerah rawa di kawasan Jakabaring, Kecamatan Seberang Ulu I dan Seberang Ulu II, dijadikan Stadion Sriwijaya dan Pasar Induk. Rawa di sekitar Kertajaya, Kecamatan Kertapati, ditimbun untuk pembangunan terminal. Perumahan Sako di Kecamatan Sako juga dibangun di atas timbunan rawa.

"Tahun 1990 lalu, sekitar 51 persen dari total wilayah Kota Palembang seluas 400,6 kilometer persegi merupakan daerah genangan saat hujan. Sebanyak 37 persen adalah rawa permanen. Sekarang, daerah rawa itu semakin menyempit karena desakan pembangunan kota," kata Thamrin.

Pemkot Palembang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2002 tentang pengendalian pemanfaatan rawa. Namun, perda yang diberlakukan sejak 2003 itu belum sepenuhnya menghambat pengalihan fungsi rawa untuk perumahan.

"Kami terus menyosialisasikan pentingnya rawa untuk mengantisipasi banjir dan perda rawa ini kepada masyarakat. Sebagian masyarakat masih menganggap rawa di atas tanah miliknya bisa dikelola sesuai keinginan sendiri," ujar Thamrin.

Menurut sejumlah warga, sejak puluhan tahun lalu Palembang menjadi langganan banjir besar dan banjir-banjir lokal yang hampir selalu terjadi saat hujan deras di musim hujan. Tahun 1998, terjadi banjir besar setinggi satu meter yang merendam Kota Palembang sekitar seminggu. Saat hujan deras turun di pertengahan Oktober 2004, Palembang dilanda banjir lokal.

Air hujan besar biasanya segera menggenangi beberapa wilayah landai di Kota Palembang, terutama di Jalan Basuki Rahmat, Jalan Residen Rozak, Jalan Mayor Salim Batubara, dan bantaran sungai. Meski tidak lama merendam daerah itu, banjir tersebut mengganggu mobilitas penduduk dan lalu lintas kota. Musibah ini selalu meresahkan warga, tetapi hingga kini belum diambil langkah antisipasi yang jitu.

Sistem drainase

Masalah yang hingga kini belum teratasi adalah lemahnya sistem drainase yang berfungsi menyalurkan air sehingga tidak menggenangi permukiman kota. Pemkot Palembang telah membuat masterplan drainase, bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung, Universitas Sriwijaya, dan perusahaan Jepang pada 2004 ini. Hanya saja, pemerintah masih belum memiliki dana puluhan miliar rupiah untuk mewujudkan masterplan itu.

Sistem drainase Palembang tersebut dibangun dengan mengandalkan aliran Sungai Musi, Sekana, Bendung, dan Buah. Dari sungai-sungai itu, dikembangkan anak-anak sungai yang berfungsi membuang air limpahan hingga mengalir ke luar kota. (iam)

Post Date : 29 Oktober 2004