Resapkan Air Hujan ke Tanah Sebanyaknya

Sumber:Kompas - 14 Maret 2008
Kategori:Air Minum

Musibah banjir makin kerap terjadi. Kini saatnya warga berkontribusi agar air hujan tetap tinggal di dalam tanah. Itulah prinsip ideal merancang rumah untuk berkontribusi kepada kota seperti Jakarta yang makin kerap dilanda banjir, seperti dikatakan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Jakarta Ahmad Djuhara, Kamis (13/3).

Bagaimana mewujudkannya? Djuhara menunjuk pengalamannya saat merancang rumah perkotaan dengan ukuran 6 meter x 15 meter atau seluas 90 meter persegi. Djuhara merancangnya dengan menyisihkan celah 60 sentimeter di sekeliling tembok.

”Tembok rumah tidak dibuat berimpit dengan tembok rumah tetangga. Ada celah 60 sentimeter untuk mendapat intensitas cahaya matahari serta sirkulasi udara yang cukup,” katanya.

Lantai rumah juga dibuat tidak menyatu dengan permukaan tanah. Ketika air hujan datang, hamparan tanah itu siap menyerapnya.

”Ada perkiraan hitungan daya tampungnya, sebidang tanah seluas 90 meter persegi harus dibuat mampu menampung genangan air minimal 4-5 sentimeter,” kata Djuhara.

Sayang, rancangannya tidak disetujui pemilik rumah. Akhirnya rumah itu dibangun seperti lazimnya rumah-rumah yang ada di setiap kapling perumahan sederhana. ”Kini saatnya masyarakat memberi kontribusi ke kotanya yang makin kerap dilanda banjir,” katanya.

Daur ulang

Meresapkan air hujan ke dalam tanah sebanyak-banyaknya sangat dianjurkan untuk mengembalikan kuantitas dan kualitas cadangan air bawah tanah.

Selama ini pemanfaatan air bawah tanah masih menjadi tumpuan pemenuhan air bersih sebagian masyarakat. Bahkan, masyarakat perkotaan yang seharusnya disuplai air bersih oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga memanfaatkan cadangan air tanah tersebut.

Bangunan komersial seperti hotel dan mal juga memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan menyedot air tanah karena kebutuhannya tak terpenuhi oleh PDAM setempat. Tindakan seperti itu seharusnya menjadi pilihan terakhir.

Menurut Sudaryati Cahyaningsih, peneliti bidang teknologi lingkungan pada Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kuantitas maupun kualitas air bawah tanah serta air bersih PDAM memiliki kecenderungan menurun.

Ini disebabkan eksploitasi cadangan air bawah tanah, khususnya di wilayah perkotaan, tidak sebanding dengan jumlah air hujan yang meresap ke dalam tanah. Ketersediaan air baku PDAM makin lama makin menyusut akibat perebutan dengan sektor pertanian. Kualitas air baku air minum PDAM kian lama kian terbebani polutan. Polutan itu bisa berasal dari limbah industri, bisa dari limbah domestik atau rumah tangga.

”Sejauh ini komposisi limbah domestik lebih tinggi, sekitar 60 persen dari tingkat pencemaran air,” kata Sudaryati.

Oleh karena itu perlu dipikirkan pemrosesan daur ulang air limbah di tingkat domestik atau komunal.

”Prinsip pengolahan air limbah domestik itu diendapkan secara anaerob atau tidak terkontaminasi dengan oksigen di lokasi yang dipersiapkan,” ujarnya.

Kondisi air yang relatif jernih kemudian dialirkan ke sungai dan menjadikan air sungai tetap jernih. Tetapi, ini telah menjadi menjadi kisah usang. Kini segala limbah masuk ke sungai.

Manakala kerepotan pemenuhan air bersih sungguh-sungguh menjelma, baik Djuhara maupun Sudaryati menyarankan saatnya untuk menerapkan efisiensi air.

Ada prinsip reuse atau pemanfaatan kembali air yang sudah digunakan yang biasanya menjadi limbah terbuang. ”Pemanfaatan ulang air seperti dilakukan di negara-negara maju itu untuk gardening (menyiram tanaman) dan flushing (mengguyur toilet),” kata Sudaryati.

Dia menyarankan, teknik pemanfaatan ulang air pada skala domestik dan komunal sebaiknya dengan cara biologis. Tanaman-tanaman yang mampu menyerap polutan dianjurkan ditanam di sekeliling penampungan air limbah domestik. Air yang kembali jernih bisa untuk gardening.

Djuhara menjelaskan pentingnya pemanfaatan ulang air yang biasanya terbuang di skala domestik. Menurut dia, air hujan bisa ditampung melalui saluran air hujan dari genteng ke sebuah bak atau tangki. ”Atau menjadikan bagian atap sekaligus menjadi bak penampung air hujan langsung,” katanya.

Penampungan air hujan secara langsung lebih bersih dibandingkan dengan pengaliran melalui genteng. Namun, beban air harus diperhitungkan. Untuk volume 1 meter kubik, atap rumah itu menanggung beban 1 ton.

Ide-ide dan pemikiran mendapatkan air bersih akibat semakin langkanya air tanah seperti itu bisa didapatkan warga Jakarta jika hadir pada acara Green Festival, pada 18-20 April di Parkir Timur Senayan. Mereka yang datang akan mendapat pengalaman dan pengetahuan tentang pemanasan global dan segala akibatnya, serta bagaimana kita seharusnya bersikap dan berperilaku.... Nawa Tunggal



Post Date : 14 Maret 2008