RI Siapkan Strategi Penjualan Karbon

Sumber:Media Indonesia - 06 Desember 2007
Kategori:Climate
DELEGASI Indonesia mengeluarkan strategi baru untuk kebijakan hutan Indonesia dalam program Reducing Emission from Deforestation in Developing Country atau REDD (pengurangan emisi dari deforestasi di negara-negara berkembang).

Ketua Delegasi Indonesia Emil Salim mengatakan strategi yang digunakan tersebut tetap berpijak pada kondisi masyarakat Indonesia. "Perlu diketahui masyarakat yang tinggal di sekitar hutan adalah masyarakat yang tidak mampu. Mereka harus ikut dilibatkan dalam pengelolaan hutan, dan diajarkan bagaimana mengurangi emisi karbon dengan tidak menebang pohon, dan menciptakan industri rumah tangga ramah lingkungan," jelas Emil di Nusa Dua, Bali, Kemarin.

Strategi tersebut oleh Indonesia dikhususkan untuk pasca 2012 saat Protokol Kyoto berakhir masa berlakunya. Strategi lainnya adalah dengan diluncurkannya program hutan untuk konservasi, dan hutan yang dikhususkan untuk dijual karbonnya.

Pemerintah telah menciptakan hutan untuk program REDD itu di Bogor dan Kalimantan dengan luas 4.500 hektar. Kedua hutan itu ditanami dengan pohon meranti dan akasia.

REDD salah satu program yang sangat diharapkan oleh Indonesia karena Indonesia bukanlah negara industri. Sedangkan kekayaan yang dimiliki saat ini adalah hutan tropis.

Sebelumnya Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar pernah melontarkan apabila kesepakatan REDD itu disetujui, maka Indonesia akan mendapat sokongan dana hingga US$3,75 miliar atau setara dengan Rp33,75 triliun. Atas dasar itulah Sunaryo staf ahli menteri kehutanan bidang kemitraan hutan menyatakan siap memberikan proposal sebanyak mungkin kepada para delegasi Konvensi Para Pihak 13 KTT Perubahan Iklim ( COP-13 UNFCCC) dalam konteks penjualan karbon. "Bila skema itu disepakati kami siapkan proposal untuk REDD di Sumatra, Papua, dan Kalimantan. Cuma mekanisme siapa yang membayar, dan bagaimana cara penjualan memang belum dibahas," jelasnya.

Terjual Habis

Meski belum muncul kesepakatan untuk melanjutkan Protokol Kyoto, pialang karbon sudah mulai menguasai kontrak jual beli CER (Certified Emission Reduction) paska 2012. Para pebisnis karbon ini optimistis melakukan aksi beli karena merasa yakin akan ada perjanjian baru dari Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) untuk melanjutkan skema kredit karbon.

"Kami yakin akan ada perpanjangan dan karbon kredit akan berlaku terus", ungkap Direktur Ecosecurities Indonesia Agus Sari di Ayodya Resort, Nusa Dua Bali saat menandatangani perjanjian pembelian reduksi emisi (ERPA) dengan PT Bajradaya Sentranusa, pengembang CDM untuk PLTA Asahan-1, Toba Samosir, Sumatera utara.

Dari PLTA berkapasitas 180 Megawatt ini, dibeli 2 juta CER atau setara penurunan 2 juta ton emisi karbon yang kontraknya sampai 2017. Program CDM ini termasuk salah satu yang terbesar untuk Indonesia, khususnya untuk sektor PLTA.

Proyek CDM yang secara efektif baru akan dimulai pada 2010 saat seluruh instalasinya terpasang ini, dijelaskan Asisten Direktur PT Badrajaya Sentranusa Bambang Hidayat merupakan perusahaan patungan yang sahamnya 35% milik Indonesia dan 65% sisanya diinvestasikan pengusaha China Huadian Corporation.

Dari nilai total proyek, ia memperkirakan return dari CDM bisa sampai 20%. Dengan asumsi harga CER yang lebih dari US$10, sesuai kesepakatan dengan Ecosecurities. "Dan selama formula pengganti dari jual beli karbon berlanjut," katanya.

Dari PLTA Asahan-1, CER yang diperjualbelikan berasal dari pertimbangan lingkungan yang menggunakan sistem aliran sungai tanpa membangun bendungan tambahan dan tidak ada relokasi penduduk sesuai yang disyaratkan PBB. Pengaturan dam, pengambilan air, dan terowongan headrace-nya hanya memanfaatkan PLTA di hilir yang sejak 1983 dioperasikan untuk kebutuhan listrik peleburan aluminium PT Inalum. Sementara penghitungan CER didasarkan dari perbandingan emisi yang dihasilkan jaringan listrik sekitar Sumatera Utara dengan tenaga yang dibangkitkan PLTA ini. PLTA Asahan-1 mampu membangkitkan tenaga listrik hingga 1,175 Gigawatt per jam (GWh).

Saat ini, belum satupun CER dari proyek CDM Indonesia yang saat ini sudah berjalan di pasar karbon. Sejak CDM diratifikasi pada 2004, proyek pertama yang terdaftar baru dimulai pada 2006. Sehingga, sampai tahun ini belum satupun di-issue. Sementara di pasar CDM dunia, ada sekitar 9,5 juta CER sudah di-issue dari 1 miliar yang terdaftar di PBB. (Nda/Ccr/H-1)



Post Date : 06 Desember 2007