Ribuan Warga Terpapar dan Cacat Genetik

Sumber:Media Indonesia - 21 Juli 2008
Kategori:Air Limbah

BATAM (MI): Tragedi perusakan lingkungan yang berimbas pada kesehatan manusia mencuat lagi di Indonesia. Ribuan warga yang tinggal di pesisir pantai timur Sumatra menderita kelainan kesehatan hingga cacat genetik akibat terkontaminasi zat kimia seperti arsenik dan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) yang dihasilkan industri pertambangan maupun limbah buangan kapal dari luar.

Di beberapa lokasi seperti di Desa Nongsa, Desa Tanjung Uncang, Desa Tanjung Riau, Desa Batam Lestari, dan wilayah pesisir Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, warga menderita berbagai penyakit yang diduga kuat disebabkan zat kimia berbahaya itu. Di wilayah tersebut terdapat industri galangan kapal, elektronik, dan pertambangan.

Warga saat diwawancarai Media Indonesia mengaku sudah bertahun-tahun menderita kulit gatal dan terasa seperti terbakar serta sesak napas. Banyak juga ditemui anak-anak di desa nelayan, di pesisir pantai timur Sumatra, menderita lemah mental (idiot).

Kondisi tersebut memperkuat hasil penelitian yang dilakukan Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology (SFIAST) yang menyimpulkan perairan pantai timur Sumatra merupakan salah satu kawasan di Asia Tenggara yang paling berisiko terkontaminasi arsenik.

Riset itu menyebutkan di pantai timur Sumatra ditemukan kandungan arsenik berkadar tinggi dan rendah di sumur-sumur penduduk.

Dampak dari arsenik yang dikonsumsi melebihi ambang batas sangat membahayakan kesehatan manusia. Seperti dituturkan, Ahmad, 31, warga Nongsa Baru, yang mengaku sudah beberapa tahun terakhir menderita penyakit kulit aneh. Hampir sekujur kulit di tubuhnya mengelupas.

"Awalnya kami saat melaut melihat gumpalan hitam mirip tumpahan minyak, tetapi baunya menyengat. Karena penasaran kami berenang mendekatinya. Setelah itu badan terasa gatal dan panas terbakar." Hal yang sama juga dialami nelayan lainnya.

Penduduk asli di Rempang Cate, Awaludin, menambahkan, hampir setiap malam dan sudah berlangsung lama, warga di sekitar perkampungan nelayan tersebut melihat aktivitas kapal membuang muatan misterius. "Pernah kami cek, seperti oli bekas hitam dan serbuk besi. Namun, baunya menyengat," katanya.

Ketika menanggapi hal itu, Direktur Centrum of Independent Social Politics & Human Right Analys (CISHA) Rizaldy Ananda menguatkan dugaan bahwa berbagai penyakit warga di sekitar pesisir tersebut disebabkan zat kimia berbahaya seperti arsenik dan merkuri.

Lembaganya bahkan juga menemukan sejumlah bukti ribuan penyandang cacat di daerah Kabupaten Natuna dan Karimun, yang diduga kuat terkontaminasi oleh zat kimia berbahaya itu.

Khusus kecacatan genetika yang ditimbulkan arsenik, sesuai dengan temuan CISHA setelah mengambil sampel dan mendata di Natuna, Batam, dan Karimun, diperkirakan mencapai 2.500 kasus. Di beberapa kawasan, seperti Palmatak, jumlah menyandang cacat di daerah terpencil itu setiap bulannya meningkat hingga 20 orang. Di daerah itu terdapat eksplorasi gas di Laut Cina Selatan oleh perusahaan asing yang beroperasi sejak 1988 hingga sekarang. "Kami juga menemukan masalah kesehatan dengan gejalanya seperti kanker kulit, detak jantung yang tidak normal." Dia menduga selain karena limbah buangan B3 di perairan Kepri, hal itu disebabkan aktivitas penambangan.

Rantai makanan

Di Karimun aktivitas penambangan mulai dari pasir, timah, dan granit hingga saat ini masih berlangsung. Padahal aktivitas seperti itu berpotensi menciptakan wadah bagi limbah penambangan bermutasi dengan tanah, air tanah, dan air laut.

Adapun jenis senyawa kimia yang umum terdapat di Kepri yang didapat dari air dan tanah adalah merkurium (Hg), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan timah hitam (Pb) dalam jumlah di atas ambang batas.

Tailing yang langsung dibuang ke laut dengan kedalaman 0-20 meter sangat berbahaya bagi biota laut serta manusia karena dapat berdampak terhadap kesehatan terutama janin dan gangguan fungsi saraf.

Ekosistem laut di Kepri seperti ikan, kerang, dan kepiting sangat mungkin tercemar oleh limbah B3 yang kemudian dikonsumsi manusia yang akhirnya menyebabkan kerusakan genetika seperti cacat mental dan fisik.

Dalam menanggapi hal itu Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri Muznir Purba mengatakan hingga sejauh ini pihaknya belum mendapatkan adanya laporan soal kecacatan genetika yang diakibatkan intoksinasi zat kimia berbahaya tersebut. (HK/BY/H-1)



Post Date : 21 Juli 2008