Sampah: Antara U(s)ang dan Uang

Sumber:Media Indonesia - 15 April 2010
Kategori:Sampah Jakarta

"KARUT-marut problematika sampah memang masalah klasik. Masalah sampah bersumber dari manusia dan tingkah lakunya. Manusia beraktivitas dan setiap aktivitas manusia menghasilkan sampah atau buangan."

Sampah menurut Kamus Istilah Lingkungan untuk Manajemen adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Ibu Kota Indonesia pada 1985, 18.500 m3 sampah dihasilkan per harinya dan pada 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Peningkatan yang cukup signifikan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, bertambah pula sampah yang diproduksi. Namun demikian, bukan berarti permasalahan akan sampah musykil untuk diatasi. Pengelolaan sampah tidak bisa lepas dari pengelolaan gaya hidup manusia. Diperlukan dekremen akan penggunaan sampah. Lihat saja jumlah sampah yang dihasilkan tiap orang per harinya. Masih data menurut Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, tiap individu menghasilkan sampah rata-rata 2,9 liter per hari dengan 12 juta jiwa penduduk.

Sering muncul pertanyaan, kemana keberlanjutan sampah-sampah tersebut setelah dibawa petugas kebersihan? Ada banyak alternatif. Mungkin sebagian orang yang berpendidikan, dalam hal ini paham akan "persampahan", terlebih dahulu akan memilah. Sampah dipilah menjadi dua, sampah organik (sampah basah) dan anorganik (sampah kering). Penulis cukup lega ketika hasil survei menyebutkan bahwa 88 persen mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (FE Unair) Surabaya telah mengetahui dan membagi sampah menjadi dua bagian tersebut. Walaupun masih sebagian besar dari mereka, 94 persen, pernah membuang sampah tidak pada tempatnya. Ironi ini makin diperparah dengan kerancuan sistem pengangkutan sampah di Indonesia sendiri. Para legalisator telah meletakkan tempat-tempat sampah di tiap sudut kota. Membaginya menjadi dua golongan tadi, sampah basah dan sampah kering. Namun ketika para petugas kebersihan mengangkut sampah tersebut, gerobak yang digunakan tetap satu gerobak. Tidak dipisah ataupun disekat. Sedikit sia-sia pemerintah mendiferensiasi tong-tong sampah tadi.

Teori termodinamika dalam mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan menyebutkan bahwa suatu energi tidak akan pernah habis. Energi tersebut dapat berotasi menjadi energi lagi, tidak hanya dalam bentuk energi yang sama namun dapat pula menghasilkan energi baru. Begitu pula dengan sampah. Untuk sampah organik, banyak akademisi yang telah menemukan alat untuk mengolahnya. Proses composting salah satunya. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan.

Indonesia sendiri telah memiliki jalur akademis untuk menangani masalah sampah. Adanya jurusan Teknik Lingkungan di salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya secara pasti turut serta membantu menangani permasalahan lingkungan. Lebih khusus, terdapat mata kuliah sampah yang secara eksplisit mengupas problematika sampah. Sementara untuk sampah anorganik dapat diubah menjadi berbagai jenis barang yang memiliki nilai jual. Nilai jual disini adalah ketika sampah-sampah yang notabene tidak berarti itu menjadi berarti. Layak distribusi dan masyarakat mau menukar uang mereka dengan barang daur ulang tersebut. Sampah bisa dekoratif. Pernak-pernik daur ulang adalah salah satu contoh hasil kretivitas home industry yang kini semakin banyak kita jumpai. Daun kering, kertas sisa, hingga barang bekas mampu diubah menjadi benda yang memiliki high value added.

Lebih luas, sebenarnya sampah organik dan anorganik hanyalah cabang dari permasalahan sampah di darat. Ingat ketiga unsur di bumi, masih terdapat laut dan udara. Permasalahan sampah memang sangat kompleks. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketiga unsur bumi tersebut telah terkontaminasi oleh sampah. Tercemarnya laut dan sungai di Indonesia adalah bukti nyata merajalelanya sampah. Di Surabaya sendiri, tingkat pencemaran sungai telah mencapai level yang cukup memprihatinkan. Sungai yang dikonsumsi kurang lebih 2,7 juta jiwa warga Surabaya, 60 persen pencemarannya telah tercemari limbah domestik berupa sampah dan detergen. Sementara 30 persen kontaminasi berasal dari industri melalui pembuangan limbahnya, dan 10 persen-nya berasal dari limbah lainnya seperti dari pertanian dan peternakan. Beruntung, pemerintah sudah cukup sigap meminimalisasi permasalahan sampah ini. Terdapat gerakan Stop Cemari Kali Surabaya (SCKS). Program ini memiliki sasaran utama yaitu pengurangan pencemaran dari limbah domestik sebagai penyumbang pencemaran terbesar.

Sementara untuk gelar penyumbang polusi udara terbesar dipegang sektor transportasi. Buruknya sistem transportasi kendaraan umum menyebabkan masyarakat memilih mengendarai kendaraan pribadi untuk menunjang mobilitasnya. Akibatnya, asap kendaraan tersebut menjadi penyumbang polusi udara sekitar 70 persen. Belum lagi asap-asap yang lain, seperti asap pabrik maupun asap rokok. Sebenarnya lagi-lagi pemerintah telah mencari cara untuk mereduksi problem ini. Di pelbagai kota metropolitan, telah dicanangkan program Car Free Day sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas udara di kota metropolitan. Di Surabaya sendiri, program itu telah mulai digalakkan, diadakan dua kali dalam sebulan, tiap minggu kedua dan keempat. Memang, progress-nya tidak bisa kita rasakan sekarang, namun apabila upaya ini kontinyu untuk dilaksanakan, tidak mustahil 10-20 tahun lagi anak cucu kita akan menghirup udara segar di kota ini.

Seperti kaidah mata uang, di satu sisi sampah adalah benda usang dimana sudah berkurang daya gunanya, di sisi lain bisnis sampah itu menjanjikan. Tentu banyak yang tidak menyangka bahwa sampah merupakan bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek bagus. Selain bisnis daur ulang sampah seperti yang penulis sebutkan di atas, beberapa individu telah menemukan celah pengelolaan sampah. Seperti yang dilakukan Rhenald Kasali, pendiri Rumah Perubahan. Konsep dari Rumah Perubahan adalah mengumpulkan sampah lalu mengolahnya menjadi biomass energy. Dalam prosesnya, Rhenald bekerja sama dengan Hidayat, seorang sarjana ekonomi. Bahkan Hidayat sendiri kini tengah menggelar program seribu enterpreneurs sampah. Perlu diketahui, omzet yang mampu dikais dari bisnis pengolahan ini mencapai 225 juta rupiah per bulan.

Konklusinya, permasalahan sampah memang kompleks. Sampah bukan sekedar benda "menjijikkan" yang hanya mampu memaksa kita menutup hidung ketika melihatnya. Tapi, sampah bisa menjadi sebuah komoditi menguntungkan apabila kita paham akan konsep pengolahannya. Penulis berharap tulisan ini mampu mengatasi konstelasi sekaligus meningkatkan daya kreativitas personal akan konfigurasi sampah itu sendiri. Rachma Bhakti Utami (LPPM Fak Ekonomi Unair)



Post Date : 15 April 2010