Sampah Mengalir Sampai Teluk Jakarta

Sumber:Koran Tempo - 30 Juli 2007
Kategori:Sampah Jakarta
Bagi Warti, sampah yang menumpuk di bantaran Sungai Ciliwung, Kampung Melayu, Jakarta Timur, adalah pemandangan yang biasa. Sampah rumah tangga, seperti kotoran manusia, botol plastik bekas minuman, sandal, hingga kasur, yang mengambang tak membuatnya jijik.

"Habis mau bagaimana lagi," kata warga yang tinggal di bantaran kali itu.

Setiap hari dia hanya mengandalkan air sungai itu untuk mencuci pakaian dan membersihkan perabot rumah tangga.

Wanita berusia 35 tahun itu tak lagi peduli jika air sungai tersebut kotor, berwarna hitam, dan berbau. "Air bersih di sini sulit," ujarnya. Dia hanya menggunakan air bersih yang dibelinya dari pedagang air keliling untuk keperluan minum dan memasak.

Warti adalah satu dari ribuan warga yang tinggal di bantaran sungai. Mereka tampaknya sudah terbiasa dengan air sungai yang tercemar itu. Setiap hari mereka menggunakan air sungai untuk keperluan mandi cuci kakus.

Ketua Badan Infrastruktur Lingkungan Hidup DKI Jakarta Sugiyanto menyatakan air sungai yang melintas di Jakarta sudah tercemar limbah. Sekitar 1,3 juta meter kubik limbah cair dibuang ke sungai setiap hari.

Belum lagi ditambah dengan limbah sampah. Dari total produksi sampah Jakarta 6.400 ton sehari, sebanyak 13 persennya atau 832 ton sampah dibuang ke sungai. Sampah mulai dari hulu sungai itu mengalir sampai ke Teluk Jakarta.

Lurah Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Eko Suroyo, menyatakan sampah yang masuk ke Teluk Jakarta dan perairan Kepulauan Seribu mencapai 5.000 meter kubik.

Sampah itu sebagian mengendap di kawasan margasatwa hutan bakau Muara Angke dan Pulau Rambut. Akibatnya, hutan bakau di kawasan itu rusak dan terancam punah. "Sekitar 90 persen hutan bakau hilang akibat sampah," kata Kepala Balai Taman Nasional Konservasi Alam Pulau Seribu Direktorat Jenderal Konservasi Alam Departemen Kehutanan Sumarto.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Jakarta Slamet Daroyni mengatakan berlarutnya masalah sampah di DKI karena pola penanganan sampah yang dilakukan pemerintah hanya kumpul-angkut-buang. Pola itu hanya menimbun sampah.

"Padahal sampah harus ditangani dengan sistem composing dan daur ulang," ujar Slamet. Untuk itu, pihaknya merekomendasikan pemerintah DKI membuat peraturan yang mewajibkan produsen membuat produk yang bisa didaur ulang.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bahruna mengungkapkan banyaknya sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, membuat lahan seluas 108 hektare itu hanya akan bertahan paling lama dua tahun lagi.

Di Cakung, Jakarta Timur, memang sudah ada penampungan sampah yang dikelola oleh swasta. Tapi TPA itu hanya mampu menampung sekitar 1.000 ton sampah Jakarta setiap hari.

Untuk mengantisipasi meluapnya sampah Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membuang sebagian sampahnya ke Lebak, Serang, Agustus mendatang.

Sebanyak 1.000-1.200 ton sampah akan dikirim melalui kereta. Kereta khusus pengangkut sampah terdiri atas 10 gerbong, masing-masing gerbong berkapasitas 30 ton. Kereta itu akan bolak-balik Jakarta-Serang 3-4 kali setiap hari.

Pemerintah memang punya banyak rencana untuk menangani sampah. Tapi warga bantaran sungai seperti Warti perlu bukti. Hingga kini sungai tempat dia mencuci masih dipenuhi sampah. Dwi Riyanto Agustiar



Post Date : 30 Juli 2007