Sampah Menggunung, Warga Mengeluh

Sumber:Pos Belitung 30 September 2004
Kategori:Sampah Luar Jakarta
JEBUS - Sejumlah pedagang dan warga di pasar Parittiga Kecamatan Jebus mengeluhkan banyaknya sampah yang ditumpuk di dekat pasar ikan Parittiga, sebab sampah tersebut sangat mengganggu kebersihan, keindahan dan mengeluarkan bau yang tidak enak.

Pantauan Bangka Pos Group di lokasi pasar tersebut, Rabu (29/9) tampak sampah ditumpuk menyerupai bukit kecil setinggi sekitar 2,5 meter tepat di samping los pasar ikan Parittiga. Tampak sampah sisa sayuran, plastik, kardus, bulu ayam dan tulang tulang sapi. Pada tumpukan banyak lalat mengerumuninya, selain itu tarnpak juga ulat ulat mengerumuni sampah yang telah membusuk.

Sampah itu menyebabkan bau busuk sehingga setiap orang yang melintas di tempat tersebut harus menutup hidung. Tidak bagi yang melintas saja, bau juga tercium sampai ke tempat para pedagang menjajakan dagangannya. Ini membuat suasana sangat tidak nyaman dalarn berbelanja karena para pembeli harus menutup hidung sambil berbelanja.

Seorang pedagang ikan di pasar Parittiga, Abdul Gani (60) kepada harian ini mengungkapkan, kondisi sampah yang menumpuk dan tidak pernah dibuang tersebut telah lama terjadi sekitar setengah tahun lalu. Sampah tersebut makin lama makin banyak dan tidak hanya menumpuk di tempat penumpukkan saja, melainkan sudah masuk ke selokan yang tepat berada di samping tumpukan tersebut. Yang mengakibatkan saluran air tersebut jika turun hujan akan mampat.

"Saya berjualan ikan di pasar Parittiga ini sudah 30 tahun. Selama saya berjualan di sini sekarang lah kondisi sampah yang paling parah, yaitu pada tahun 2004 ini. Kalau dulu sampahnya memang sudah ada, namun ketika masih sedikit langsung dibuang sehingga tidak menumpuk seperti ini," ungkap Gani.

Padahal, ujar Gani, mereka selalu membayar restribusi sampah setiap hari sebesar Rp 1.000, sehingga ia menyesalkan kenyataan sampah yang tidak pernah dibuang sama sekali. "Saya sudah risih melihat sampah ini," keluhnya.

Menurut Gani, sampah tersebut bukan saja berasal dari pasar ikan tapi juga sampah dari beberapa toko yang ada di Parittiga yang sengaja dibuang pada tempat tersebut.

Senada juga diungkapkan seorang pedagang daging sapi di pasar Parittiga, H Ibrahim kepada Bangka Pos Group. Menurutnya, ia tidak sanggup lagi dengan bau sampah tersebut karena tempatnya berjualan paling dekat dengan tumpukan sampah tersebut.

"Apalagi kita disini jual makanan, jika banyak Ialat maka akan kotor yang nantinya akan menyebabkan penyakit," keluh Ibrahim.

Hal ini juga diakui beberapa pembeli yang berbelanja di pasar tersebut. Mereka mengaku jika hari hujan sangat khawatir pasar akan banjir karena aliran selokan tersumbat yang mengakibatkan air meluap.

Pengelola Meninggal

Sementara itu secara terpisah, Kepala Desa Puput Kecamatan Jebus, Samsul Hidayat mengakui kondisi sampah yang menumpuk di pasar, bahkan ia telah menerima banyak keluhan dari pedagang dan masyarakat di sekitar pasar tersebut.

"Banyak warga di situ yang mengeluh, jika hari hujan maka akan banjir," kata Kades.

Untuk mengatasi, lanjut Samsul, ia telah menyampaikan kepada pihak yang berwenang dan pengelola kebersihan pasar.

"Selama ini tidak jelas yang menangani kebersihan pasar setelah pengelola yang terdahulu meninggal dunia beberapa bulan lalu. Tapi jika tidak dapat diatasi maka kita ganti pengelola yang baru. Sebaiknya pengelola tersebut adalah orang yang ada di sekitar pasar tersebut biar tahu bagaimana kondisinya," tegas Samsul.

(gl3)

Post Date : 30 September 2004