SDA Irigasi Jawab Kekeringan di NTT

Sumber:Kompas - 06 Mei 2005
Kategori:Drainase
Atambua, Kompas - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meresmikan pemanfaatan sejumlah sumber daya air untuk irigasi pada beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur, Rabu (4/5). Proyek yang didukung dana pinjaman Jepang senilai total Rp 126,735 miliar ini diharapkan mampu menjawab masalah krisis pangan akibat kekeringan di NTT.

Provinsi NTT dengan 15 kabupaten/kota itu kini tengah dilanda kekeringan hingga sekitar 110.000 keluarga tani menderita gagal panen, krisis pangan, dan terancam kelaparan. Hingga pekan kedua Maret tanaman yang rusak, gagal panen, dan gagal tanam sebanyak 43.880,4 hektar. Hasil produksi yang rusak 80.482, 6 ton dengan perkiraan kerugian Rp 191,54 miliar.

Peresmian sejumlah sumber daya air (SDA) secara terpusat berlangsung di embung irigasi Haliwen, Atambua (Kabupaten Belu), 350 kilometer dari Kupang. Selain sejumlah pejabat dari lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, hadir saat itu Wakil Gubernur NTT Frans Leburaya dan Bupati Belu Joachim Lopez.

Embung irigasi Haliwen diresmikan bersama dengan bendungan irigasi Benanain untuk membangun jaringan irigasi Malaka, Belu, seluas 6.000 hektar (ha). Peresmian kedua SDA itu ditandai penekanan tombol sirene dan penandatanganan prasasti, sedangkan beberapa SDA lainnya diresmikan secara simbolis.

Bantuan Jepang

Penggunaan embung Haliwen dan bendungan Benanain merupakan bagian dari program pembangunan wilayah perbatasan antarnegara Republik Indonesia dan Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL), sedangkan lima SDA lainnya terletak di luar wilayah Belu, tidak terkait dengan program tadi.

SDA di luar "kepentingan perbatasan" adalah Kadumbul (Sumba Timur) mengairi lahan 841 ha, Bena (Timor Tengah Selatan) 1.061 ha, Wae Dingin (Manggarai) 1.126 ha. Juga pengembangan air tanah di Maumere (Sikka) 150 ha, Lembata 70 ha, dan Ponu-Fatuoni (Timor Tengah Utara) 150 ha.

Pembangunan prasarana dan jaringan irigasi itu merupakan bagian dari proyek pengembangan SDA di NTT yang didanai Pemerintah Jepang. Untuk pembangunan tersebut, Pemerintah Jepang, melalui Japan Bank Internasional Cooperation (JBIC), meminjamkan dana Rp 126,735 miliar.

"Hari ini (Rabu, 4/5-Red) semua lapisan masyarakat menyaksikan peresmian embung Haliwen dan bendungan Benenain serta perencanaan pelaksanaan pembangunan sejumlah prasarana SDA lewat program Decentrilized Irrigation System Improvement Managemen Project," kata Joko.

Dia melanjutkan, "Dengan diresmikannya beberapa hasil pembangunan prasarana SDA irigasi itu bukan berarti tugas kita telah selesai, tetapi justru di depan mata kita menanti tugas yang lebih berat dan harus kita laksanakan dengan sungguh- sungguh."

Semua pihak berkewajiban memanfaatkan air secara lebih baik dan hemat sehingga bisa dirasakan secara adil dan merata. Selain itu juga harus memelihara daerah tangkapan air sehingga bangunan reservoir dapat terus tersedia airnya, seperti pada embung Haliwen ini.

Atasi kemarau

Pembangunan embung itu untuk menampung dan menyimpan air guna mengatasi kelangkaan air di musim kemarau tiba. Juga untuk meningkatkan produksi pertanian dan pencegahan gagal panen, serta penyediaan air bersih untuk masyarakat penghuni resettlement (pemukiman kembali) Umakalaran.

Selain itu, kata Joko, Departemen PU melalui Dinas PU (Permukiman dan Prasarana Wilayah) NTT sedang mengupayakan penandatanganan kontrak kerja delapan paket proyek lainnya yang bernilai lebih dari Rp 183 miliar. "Itu semua merupakan wujud nyata komitmen pemerintah pusat terhadap NTT," katanya.

Paket pekerjaan tersebut adalah rehabilitasi daerah irigasi Mautenda (Ende) seluas 1.180 hektar, rehabilitasi embung irigasi Danau Tua (Rote) seluas 130 ha, dan Lokojange-Anakalang (Sumba Barat) seluas 414 ha. Juga pembangunan embung irigasi Haekrit (Belu) seluas 200 ha dan Beku (Ngada) seluas 500 ha.

Wakil Gubernur Frans Leburaya meminta masyarakat NTT memanfaatkan prasarana yang ada. Embung dan bendungan untuk irigasi itu dibangun dengan menggunakan uang rakyat sehingga rakyat harus benar-benar memanfaatkannya agar masalah rawan pangan ke depan bisa ditekan. (CAL)

Post Date : 06 Mei 2005