Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim

Sumber:Koran Jakarta - 05 Juni 2009
Kategori:Lingkungan

Secara alami, perubahan iklim akan terjadi dalam kurun waktu ratusan tahun. Tapi karena ulah manusia yang merusak lingkungan hidup, terjadinya perubahan iklim menjadi lebih cepat. Bagaimana upaya mengerem laju perubahan iklim?

Setiap 5 Juni, seluruh negara memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia (World Environment Day/WED).

Peringatan itu kali pertama dicetuskan United Nations Environment Program (UNEP) pada 5 Juni 1972. Saat itu juga menjadi penanda pembukaan Konferensi Stockholm di Swedia dengan topik “Manusia dan Lingkungan Hidup”. Tahun ini, tema peringatan WED yang diangkat UNEP adalah “Your Planet Needs You – Unite to Combat Climate Change”.

Tema tersebut merefleksikan setiap individu memiliki tanggung jawab memerangi dampak perubahan iklim untuk menyelamatkan Bumi.

Pakar iklim dan cuaca dari Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wahyoe S Hantoro, menjelaskan perubahan iklim adalah gejala alam yang melibatkan perubahan kondisi (meteorologi) dari rata-rata semula dalam kurun waktu tertentu. Kondisi meteorologi yang dimaksud adalah suhu, tekanan, kelembapan, angin, hujan, dan radiasi Matahari di atmosfer serta Bumi (bagian luar).

Secara alami, perubahan iklim dapat terjadi karena bergesernya (gejala di permukaan/eksogen) neraca radiasi Matahari yang sampai di permukaan Bumi. Wahyoe memaparkan berubahnya posisi Bumi terhadap Matahari berdasar kemiringan sumbu Bumi dengan garis lintasan yang mengelilingi Matahari dapat memengaruhi panasnya suhu di Bumi. Perubahan jarak Bumi dengan Matahari tersebut dikenal dengan siklus Milankovitch. “Pengaruh radiasi aktivitas noda Matahari yang siklusnya 10 tahunan juga dipercaya menyebabkan perubahan kondisi atmosfer di Bumi,” ujarnya.

Planet bumi yang tidak ajek (endogen), kata Wahyoe, juga dapat memicu terjadinya perubahan iklim. Misalnya, letusan gunung api yang melontarkan aerosol dan material lain dapat menghalangi radiasi Matahari sehingga terjadi penurunan suhu. Selain itu, konsentrasi gas yang dihasilkan letusan seperti karbondioksida dan sulfuroksida dapat membentuk efek rumah kaca hingga terjadi pemanasan di atmosfer.

Contohnya, letusan Krakatau tahun 1883 telah menyebabkan musim dingin di Eropa lebih lama tidak seperti biasanya.

Hanya saja faktor alam yang memicu perubahan iklim itu hanya akan berlangsung dalam kurun waktu ribuan tahun. Menurut pakar ekologi dari Universitas Indonesia, Jakarta, Mohammad Hasroel Thayib, dari data yang ada sekurang-kurangnya selama 100 ribu tahun terakhir ini telah terjadi enam kali perubahan iklim dunia. Bukti-bukti memperlihatkan sudah empat kali terjadi zaman glacial-interglacial dengan siklus jangka masa tertentu.

Ulah Manusia

Hal yang menarik untuk dicermati adalah perubahan iklim akibat ulah manusia. Pakar lingkungan yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, menyatakan semakin meningkatnya suhu permukaan Bumi berawal dari revolusi industri pada akhir abad ke-18. Bahan bakar fosil yang dibentuk dari jasad tumbuhan dan hewan yang telah lama mati merupakan sumber tunggal penyebab gas rumah kaca (GRK).

Kegiatan industri yang menggunakan bahan bakar batu bara, minyak, dan gas bumi melepaskan miliaran ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya. Belum lagi jutaan knalpot kendaraan juga memproduksi karbon dalam jumlah besar. Tidak hanya dari industri dan kendaraan, GRK juga bisa dihasilkan dari kegiatan pertanian dan perternakan, khususnya menghasilkan gas metan. “Konsentrasi karbon di atmosfer tersebut akan lebih banyak lagi ketika pohon-pohon ditebang dan tidak ditanami kembali,” ujar Emil.

Sebelum revolusi industri, konsentrasi karbondioksida di atmosfer berkisar 278 part per million (ppm). Kini, kadarnya meningkat sekitar 380 ppm dan menyebabkan temperatur Bumi naik sekitar 0,8 derajat celsius. Emil mengatakan apabila tidak ada perubahan pola pembangunan di berbagai negara industri maupun negara berkembang serta gaya hidup manusia di Bumi, pada 2050 diperkirakan konsentrasi karbondioksida dapat mencapai 485-570 ppm.

Sedangkan kenaikan temperatur Bumi diperkirakan mencapai 2 derajat celsius.
Wahyoe menambahkan indikator dari terjadinya perubahan iklim bisa dilihat dari bergesernya peta curah dan intensitas hujan saat ini.

Jumlah hari hujan berkurang, tapi intensitasnya lebih tinggi. Akibatnya pada musim hujan tiba, banjir menjadi fenomena alam yang lumrah terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan beberapa daerah yang sebelumnya dinyatakan bebas banjir, kini berbalik menjadi langganan banjir.

Sebaliknya ketika musim kemarau, periodenya menjadi lebih panjang hingga menyebabkan air menjadi barang langka. Kekeringan juga menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan peternakan.

Perubahan kelembapan di beberapa tempat serta naiknya suhu di kawasan yang semula dingin, menyebabkan meluasnya pengembaraan biota vektor (seperti nyamuk malaria) dan penyakit menular lainnya. Hal itu, kata Wahyoe, tentunya menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

Upaya Pengendalian

Dampak perubahan iklim tentu saja harus segera ditanggulangi. Di Indonesia, upaya itu sebenarnya telah termaktub dalam Peraturan Presiden No 46 Tahun 2008 melalui penetapan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Salah satu tugas dari dewan yang beranggotakan lintas kementerian negara/lembaga itu merumuskan kebijakan nasional, strategi, program, dan kegiatan pengendalian perubahan iklim. Koordinator Bidang Komunikasi, Informasi, dan Edukasi DNPI, Amanda Katili Niode, menjelaskan upaya menekan laju perubahan iklim di Indonesia dilakukan dengan memprioritaskan program mitigasi dan adaptasi.

Program mitigasi dilakukan dengan mengurangi penggunaan teknologi yang rendah dan bebas karbon. Artinya melakukan kegiatan ekonomi yang minim menggunakan bahan bakar fosil sebagai penghasil GRK. Oleh sebab itu, saat ini disarankan penggunaan energi berkelanjutan, seperti Matahari, angin, gelombang, dan panas bumi. Upaya mitigasi juga dapat dilakukan dengan menjaga lingkungan hutan, lahan basah, laut (padang lamun/terumbu karang) yang selama ini berfungsi menyerap karbon.

Program lain yang juga menjadi prioritas adalah adaptasi. Amanda menjelaskan upaya itu berupa penyesuaian terhadap ancaman perubahan iklim. Contohnya, sedapat mungkin tidak membangun rumah di sekitar pesisir pantai. Di sektor pertanian, petani dapat melakukan adaptasi dengan mengatur pola tanam pada lahannya. Misalnya, pada musim tertentu lahan digunakan untuk menanam kedelai dan pada musim lainnya digunakan untuk menanam jagung.

Penyebaran adaptasi lain yang lebih efektif adalah menyebarkan informasi kepada masyarakat tentang perubahan iklim. Tujuannya masyarakat dapat menyiapkan diri ketika terjadi bencana akibat perubahan iklim. awm/L-2



Post Date : 05 Juni 2009