Separuh Persawahan Sultra Kekeringan

Sumber:Kompas - 19 Oktober 2004
Kategori:Drainase
Kendari, Kompas - Lebih dari separuh areal tanaman padi sawah pada musim tanam 2004 ini di Sulawesi Tenggara mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Sebagian besar sawah yang kekeringan itu berlokasi di sentra beras, yaitu di Kabupaten Konawe (dulu Kabupaten Kendari) dan Konawe Selatan.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sulawesi Tenggara (Sultra) H Zainal Abidin mengungkapkan hal ini, Senin (18/10) di Kendari. Luas tanam pada periode Juni-Juli mencapai 11.940 hektar, namun sekitar 7.908 hektar areal tanaman padi tersebut kering.

Kerusakan tanaman padi akibat bencana tersebut lebih banyak terdapat di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) seluas 5.237 ha menyusul Konawe (2.449 ha). Kerusakan itu ada yang tergolong ringan, sedang, berat, dan puso. Hamparan tanaman padi yang dinyatakan puso lebih luas di Konawe yakni 487 hektar, sementara di Konsel 12 hektar.

Kabupaten Konawe merupakan sentra beras di Sultra. Potensi sawah di kabupaten tersebut mencapai 69.000 hektar. Sedangkan yang terolah sepanjang tahun hanya sekitar 20.000 hektar. Kesenjangan itu terjadi akibat kerusakan jaringan sarana irigasi, dan kerusakan itu selama ini belum dapat diperbaiki karena pemerintah masih kesulitan dana.

Menurut Zainal, secara keseluruhan bencana kekeringan itu tidak begitu berpengaruh terhadap stabilitas ketahanan pangan di Sultra. Akan tetapi, katanya, petani yang terkena bencana tersebut harus segera mendapat perhatian dalam penyediaan pangan murah dan kebutuhan bibit untuk musim tanam berikutnya.

Daerah kekeringan di Kabupaten Konawe meliputi sekitar 36 desa. Warga desa itulah yang menurut Zainal membutuhkan bantuan pangan murah dan benih padi untuk kebutuhan musim tanam sekitar Januari-Februari 2005. Ia memperkirakan, musim hujan di Sultra akan berlangsung pada bulan Desember 2004.

Di Gunung Kidul meluas

Sementara itu, kekeringan yang melanda Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta, selama lebih dari empat bulan ini semakin meluas. Kekeringan tidak lagi di 11 kecamatan sebagaimana biasanya terjadi. Kini kekeringan juga dialami wilayah utara Gunung Kidul, seperti Kecamatan Gedangsari, Patuk, Semin, Nglipar, dan Ngawen yang jarang dilanda kekeringan.

Dari 11 kecamatan bagian selatan dan tengah Gunung Kidul yang lebih dahulu dilanda kekeringan adalah Kecamatan Girisubo, Rongkop, Panggang, Tanjungsari, Saptosari, Purwosari, Semanu, Wonosari, Tepus Ponjong, dan Paliyan.

Berdasarkan pemantauan Kompas, Senin, sejumlah warga di Kabupaten Gunung Kidul bagian utara mengantre untuk mengambil air. Di Desa Hargomulyo dan Watugajah, Kecamatan Gedangsari, sejak pagi hari secara bergiliran penduduk mengambil air dari sumur atau mata air yang masih menyisakan air.

Menurut warga, antrean bahkan sudah dimulai sejak pukul 03.00. Ini dimaksudkan untuk menghindari antrean yang lebih banyak lagi di siang hari. Warga mengangkut air tersebut kebanyakan dengan menggunakan jeriken.

Bahkan di sebuah sumur yang masih menyisakan sedikit air di Dusun Banyunibo, Desa Watugajah, Kecamatan Gedangsari, hampir selama 24 jam warga secara bergiliran mengambil air dari sumur itu. Menurut warga, sumur yang berkedalaman sekitar lima meter namun masih mempunyai sumber air itu, tidak pernah sepi dan hanya "beristirahat" sekitar satu jam saja.

Ngatimah (51), seorang warga Dusun Banyunibo, Desa Watugajah, Kecamatan Gedangsari, mengemukakan, untuk mendapatkan jatah mengambil air dari sumur itu setidaknya harus rela mengantre sekitar 2 hingga 3 jam.

Suratmo (54), warga Dusun Mangli, Desa Hargomulyo, terpaksa harus jalan kaki lebih kurang 1 kilometer naik turun bukit untuk mengambil air karena air dalam bak penampungan air hujannya habis. "Saya mengambil air setiap hari empat jeriken, pagi dan sore hari. Ini untuk kebutuhan tiga orang ditambah untuk minum sapi," katanya.

Hal yang sama juga dilakukan Ngadiyem (31), warga Dusun Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar. Setiap hari ia mengambil air dengan menggunakan sebuah tempayan yang digendongnya, dari sebuah mata air yang berjarak lebih kurang 500 meter dari rumahnya dengan berjalan kaki. Ini dilakukannya sejak air sumur milik tetangganya mengering.

Adi Suminto, Kepala Dusun Mangli, Desa Hargomulyo, mengungkapkan, kekeringan yang melanda warganya tahun ini ini lebih parah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk membeli air tangki warga tidak mampu karena mahal.

"Di dusun kami harga satu tangki air mencapai Rp 130.000," kata Adi sambil mengharapkan pemerintah segera membantu kesulitan warganya.

Sekretaris Tim Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Kekeringan Gunung Kidul I Ketut Santosa SE yang juga Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Gunung Kidul mengakui kekeringan tahun ini meluas. Kekeringan di utara diperkirakan melanda lebih dari 10 desa di Kecamatan Gedangsari, Ngawen, Patuk, dan Nglipar.

Hingga kini pemkab terus mengirim air bersih ke-322 dusun di selatan dan tengah Gunung Kidul yang dilanda kekeringan parah. (J09/YAS)

Post Date : 19 Oktober 2004