Warga Protes Saluran Irigasi

Sumber:Jawa Pos - 04 April 2005
Kategori:Drainase
SITUBONDO-Setiap musim penghujan, warga Dusun Sitonggak, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan, selalu dibuat kesal. Setiap kali hujan turun, nyaris dipastikan air akan menggenangi rumah warga. Air itu berasal dari luapan saluran irigasi, yang kini sudah tidak dapat berfungsi optimal lagi.

Warga semakin kesal, karena Sub Dinas Pengairan Situbondo dianggap menutup mata terhadap masalah tersebut. Padahal, beberapa waktu lalu, masalah saluran irigasi itu sudah sempat disoal warga.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, fungsi saluran itu menjadi tidak optimal, setelah satu di antara dua pintu saluran pembuangan ditutup. Bahkan, kini di atasnya sudah didirikan bangunan semi permanen untuk lahan usaha. Di samping itu juga lantaran banyaknya perubahan saluran.

"Masalah itu dulu sempat memanas. Bahkan warga sampai menunjuk pengacara untuk membereskan masalah itu," kata warga setempat, Abdurahman.

Sebab, sejak ditutupnya saluran pembuangan itu, daerah tersebut menjadi rawan banjir. Setiap hujan mengguyur, selalu terjadi luapan air dari saluran irigasi tersebut. Seperti yang terjadi akhir pekan kemarin, warga dibuat kalang kabut setelah hujan deras turun sejak sekitar pukul 11.00 hingga sore hari. Air dari saluran itu kembali meluap, hingga sempat menggenangi rumah beberapa warga.

"Tadi tingginya luapan air itu hampir satu meter. Untung saja, warga segera memasang bronjong darurat. Kalau tidak, rumah warga bisa kebanjiran. Ini terjadi setiap hujan lebat," kata Kepala Dusun Sitongak, Busri alias Yulis, kemarin.

Yang disesalkan warga, sikap Subdin Pengairan yang hingga kini tak juga turun tangan. Padahal, saat warga gencar-gencarnya memprotes penutupan saluran itu, mantan Bupati Situbondo HM Diaaman sudah sempat memerintahkan agar saluran itu harus dikembalikan ke fungsi semula. Dalam SK Bupati nomor 610/227/431.202/2004 juga disebutkan, jika saluran irigasi tidak boleh ditutup. Herannya, tutur warga, menyikapi SK bupati tersebut, Dinas Bina Marga dan Pengairan saat itu juga hanya menurunkan SK, yang intinya menguatkan perintah bupati itu. "Kalau semuanya hanya bisa mengeluarkan SK, lantas siapa yang harus menjadi pelaksananya," timpal warga lainnya.

Karena itu, kini warga mengancam akan membongkar saluran yang kini ditutup itu. Warga juga akan mengembalikan saluran irigasi seperti semula, seperti sebelum daerahnya menjadi langganan genangan air. Apalagi, warga mulai menaruh curiga atas sikap dinas terkait, yang hingga sekarang tidak ada tindakan tegas. "Di atas lahan saluran irigasi itu berdiri bangunan. Herannya, dinas kok diam saja. Apa lahan itu memang sudah dijual?," tukas warga. (gaz)

Post Date : 04 April 2005