Waspadai Leptospirosis, Jaga Kebersihan Lingkungan

Sumber:Kompas - 21 Februari 2005
Kategori:Sanitasi
BAGI kita yang tinggal di daerah beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan dan kelembapan tinggi, maka banyak hal yang harus diwaspadai, terutama ancaman berbagai penyakit. Di negara berkembang seperti Indonesia, di mana kesehatan lingkungannya kurang diperhatikan, terutama pembuangan sampah, kuman leptospira akan mudah berkembang.

Kuman leptospira patogen ini penyebab penyakit infeksi leptospirosis. Gejala leptospirosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya, seperti influensa, meningitis, hepatitis, demam dengue, demam berdarah dengue, dan demam virus lainnya. Banjir besar di Jakarta tahun 2002, dari data sementara tercatat 113 pasien leptospirosis, 20 di antaranya meninggal.

International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai negara insiden leptospirosis tinggi dan peringkat tiga di dunia untuk mortalitas (berdasarkan data Semarang tahun 1998-2000). Angka sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi karena leptospirosis juga ditemukan di Provinsi Jawa Barat, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Di tengah beragam ancaman penyakit infeksi di Indonesia, kita baru memiliki satu rumah sakit khusus penyakit infeksi, yakni RS Prof Dr Sulianti Saroso di Jakarta. Rumah sakit khusus penyakit infeksi-yang kini dikembangkan menjadi rumah sakit pendidikan-ini telah mengeluarkan satu panduan mengenai leptospirosis agar masyarakat bisa menghindari terjadinya insiden.

LEPTOSPIROSIS adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan, dan digolongkan sebagai zoonosis. Berdasarkan penyebabnya, leptospirosis adalah zoonosis bakteral, sedangkan berdasarkan cara penularannya leptospirosis merupakan direct zoonosis karena tidak memerlukan vektor, dan dapat juga digolongkan sebagai amfiksenosa karena jalur penularan dapat dari hewan ke manusia dan sebaliknya.

Penularan leptospirosis pada manusia ditularkan oleh hewan yang terinfeksi kuman leptospira. Hewan penjamu kuman leptospira adalah hewan peliharaan, seperti lembu, kambing, kucing, anjing, kelompok unggas, serta beberapa hewan liar, seperti tikus, bajing, dan ular. Penjamu reservoar utama adalah roden. Kuman leptospira hidup di dalam ginjal penjamu reservoar dan dikeluarkan melalui urine saat berkemih.

Penularan leptospirosis dapat secara langsung dan tidak langsung. Penularan langsung terjadi melalui darah, urine, atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman leptospira masuk ke dalam tubuh penjamu. Juga bisa dari hewan ke manusia, merupakan penyakit akibat pekerjaan, terjadi pada orang yang merawat hewan atau menangani organ tubuh hewan. Misalnya, pekerja potong hewan, atau seorang yang tertular dari hewan peliharaan. Juga bisa dari manusia ke manusia-meskipun jarang terjadi-dapat terjadi melalui hubungan seksual pada masa konvalesen atau dari ibu penderita leptospirosis ke janin melalui sawar plasenta dan air susu ibu.

Penularan tidak langsung terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan, saluran air, dan lumpur yang tercemar urine hewan. Faktor-faktor risiko terinfeksi kuman leptospira bisa kontak langsung atau terpajan air dan rawa yang terkontaminasi, yaitu kontak dengan air yang terkontaminasi kuman leptospira/urine tikus saat banjir, pekerjaan tukang perahu, rakit bambu, pemulung, mencuci atau mandi di sungai/danau, peternak, dan pemelihara hewan. Juga menimpa dokter hewan yang terpajan karena menangani ternak/hewan, terutama saat memerah susu, menyentuh hewan mati, menolong hewan melahirkan, atau kontak dengan bahan lain seperti plasenta, cairan amnion dan bila kontak dengan percikan infeksius saat hewan berkemih.

Mereka yang bekerja di perkebunan juga harus mewaspadai kuman ini. Juga petani yang tanpa alas kaki, pembersih selokan, pekerja tambang, pemancing ikan, pekerja tambak, tentara, pemburu, dan pendaki gunung. Anak-anak yang bermain di taman dan di genangan air hujan atau rawa juga harus waspada. Begitupun petugas laboratorium yang sedang memeriksa spesimen kuman leptospirosis, atau petugas kebersihan di rumah sakit.

BANYAK hal yang harus dilakukan untuk mencegah infeksi, yakni melakukan tindakan isolasi atau membunuh hewan yang terinfeksi, memberikan antibiotik pada hewan yang terinfeksi seperti penisilin, ampisilin atau dihydristreptomycin agar tidak menjadi karier kuman leptospira. Selain itu, yang tak kalah penting adalah mengurangi populasi tikus dengan beberapa cara, seperti penggunaan racun tikus, pemasangan jebakan, penggunaan rodentisida, dan predator roden.

Kita juga bisa meniadakan akses tikus ke lingkungan permukiman, makanan, dan air minum dengan membangun gudang penyimpanan makanan/hasil pertanian, sumber penampungan air dan pekarangan yang kedap tikus, dan dengan membuang sisa makanan serta sampah jauh dari jangkauan tikus.

Kita juga harus mencegah tikus dan hewan liar lain tinggal di habitat manusia dengan memelihara lingkungan yang bersih, membuang sampah, memangkas rumput dan semak belukar, menjaga sanitasi, khususnya dengan membangun sarana pembuangan limbah dan kamar mandi yang baik, dan menyediakan air minum yang bersih. (elok dyah messwati)

Post Date : 21 Februari 2005