Waspadai Penyakit di Wadah Plastik

Sumber:Media Indonesia - 19 Mei 2010
Kategori:Lingkungan

ANDA sering memakai kemasan plastik sebagai wadah makanan? Atau kerap membeli makanan yang dibungkus tas keresek? Sebaiknya, bersikaplah lebih hati-hati. Pasalnya, tidak semua wadah plastik aman untuk mengemas makanan.

Beberapa waktu lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) menyerukan peringatan kepada masyarakat agar berhati-hati dalam penggunaan wadah makanan berbahan plastik. Penggunaan bahan plastik secara serampangan sebagai tempat makanan diduga dapat mengancam kesehatan tubuh.

Kepala Badan POM Kustantinah menjelaskan pada beberapa jenis plastik komponen penyusunnya diketahui mudah larut dan berpindah (migrasi) ke makanan. Misalnya, plastik jenis polivinil klorida (PVC). Di lapang an, PVC dapat dikenali dengan lo go segitiga yang diberi nomor 3. PVC di bentuk dari bahan monomer vinil klorida (VCM).

“VCM mudah larut pada makanan, terutama makanan berminyak, berlemak, atau mengandung alkohol, terlebih dalam keadaan panas. Paparan residu VCM secara akumulatif bisa memicu kanker hati,” kata Kustantinah.

Pembuatan kemasan plastik PVC kadang juga menggunakan penstabil berupa timbel (Pb), kadmium (Cd), dan timah putih (Sn) untuk mencegah kerusakan serta senyawa ester ptalat dan ester adipat untuk melenturkan. Bahan-bahan tambahan itu bisa terlepas dan bercampur dengan makanan sehingga berisiko membahayakan kesehatan.

“Pb merupakan racun bagi ginjal. Cd racun bagi ginjal dan memicu kanker. Senyawa ester ptalat dapat mengganggu sistem endokrin,” lanjutnya.

Badan POM pernah menguji 11 sampel kemasan plastik berbahan PVC dan menemukan satu di antaranya tidak memenuhi syarat karena residu timbelnya melebihi ambang batas maksimal.

Penggunaan kantong plastik keresek berwarna juga tidak direkomendasikan. Pasalnya, kantong keresek berwarna dipastikan hasil produk daur ulang sampah plastik. Dalam proses daur ulang, tentunya masyarakat tidak bakal tahu riwayat penggunaan plastik sebelumnya. Bisa saja plastik itu sebelumnya adalah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, pembungkus kotoran hewan, atau limbah logam berat.

‘’Jika makanan terpaksa dibungkus plastik Perhatikan logo Senada dengan Kustantinah, ahli pangan dari Institut Pertanian Bogor Dr Yadi Haryadi mengungkapkan bahaya penggunaan wadah plastik yang tidak aman mungkin tidak akan terlihat langsung. Itu disebabkan efeknya bersifat akumulatif. Seiring dengan waktu, penggunaan yang terus-menerus menyebabkan senyawa berbahaya menumpuk dalam tubuh hingga melewati ambang batas.

‘’Kalau penggunaannya cuma sekali setahun, mungkin tidak masalah, tapi kalau tiap hari, bisa berakibat kronis di masa depan,” terang Yadi dalam sebuah diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Yadi menambahkan, dalam memilih kemasan plastik konsumen sering kali salah mengartikan logo segitiga dengan angka di tengah-tengahnya, yang terdapat dalam kemasan plastik. Ada yang mengira urutan angka 1-7 dalam kemasan tersebut sekaligus mewakili kualitas plastik. Itu sama sekali tidak benar.

Logo segitiga dengan angka-angka itu bukan petunjuk kualitas, melainkan penan da plastik yang bisa didaur ulang dan golongannya. Angka 1, misalnya, merujuk kepada ba han polimer polietilena tereptalat dan menunjukkan semua kemasan yang terbuat dari bahan berlogo itu bisa didaur ulang bersama.

Tetapi, itu tidak menjamin bahan tersebut berkualitas terbaik dengan angka migrasi kecil.

Beberapa jenis plastik terbuat dari bahan polimer yang relatif aman. Itu, antara lain, plastik berlogo segitiga dengan nomor 1 dalamnya (polietilena tereptalat), nomor 2 (polietilena densitas tinggi), nomor 4 (polietilena densitas rendah), dan nomor 5 (polipropilen).

`'Meski bahan polimer plastik-plastik itu ditengarai tidak membahayakan, zat aditifnya juga ikut menentukan tingkat keamanannya," terang Yadi.

Lantas, bagaimana masyarakat menandai wadah plastik yang aman untuk mengemas makanan? Menurut Yadi, cara yang paling mudah adalah memastikan adanya tanda food grade (aman untuk makanan). Tanda itu biasanya tertera dalam bentuk gambar gelas dan garpu, tulisan 'food grade', atau 'food safe'. `'Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kredibilitas produsennya,'' imbuh Yadi. Cornelius Eko Susanto



Post Date : 19 Mei 2010